Lenis Kogoya Sosialisasi KUR dan Agen BNI 46 Laku Pandai di Wamena

2
1769

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Lenis Kogoya, Staf Khusus Presiden, Kementerian Perdagangan Pusat dan Bank BNI melakukan Sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan agen BNI 46 Laku Pandai bagi pengusaha Mama-mama Papua di Sasana Wio Kantor Bupati Kabupaten Jayawijaya, Selasa (21/6/2016).

Lenis mengatakan,  program ini adalah program holistis yang langsung ke masyarakat, contohnya memberikan modal usaha kepada mama Papua di pasar yang nilainya mulai dari Rp5 juta hingga Rp10 juta ke atas.

“Sedangkan Rp50 juta hingga Rp100 juta ke atas harus dengan jaminan begitu. Bukan hanya mama-mama Papua saja, tetapi bagi pengusaha Papua yang mau usaha bisa dengan persediaan dana yang ada Rp500 juta hingga Rp1 miliar juga ada, yang penting ada jaminan. Jadi, persediaannya dari bank BNI,” kata Lenis kepada wartawan usai melakukan sosialisasi.

Untuk saat ini, kata Kogoya, pihaknya harus latih terlebih dahulu ke pendamping mama-mama, sebab ada kesulitan karena jangkauannya dengan internet. “Seperti mama sambil jualan bisa menggunakan iphone bisa melayani di sana,” katanya.

Jumlah mama-mama yang akan disiapkan, menurut dia, tergantung dari besarnya pasar yang ada di Wamena. Jika pasarnya besar bisa lima atau sepuluh orang. Yang kecil bisa tiga atau lima orang.

“Untuk nominal bantuannya dibatasi oleh bank, tergantung usahanya bagus atau tidak. Dan di situ ada kartu ATM I Love Papua,” tuturnya.

Lenis juga mengatakan, pihaknya akan membuka Agen BNI kampung adat. “Kalau di Wamena di kantor LMA akan buka agen BNI. Kantor BNI ada, tetapi agen ini dibuka supaya masyarakat dilayanani di sana. Di situ ada BNI, rumah adat terus LMA Mas (Barang). Sembako yang paling murah, sehingga mama-mama yang gesek bisa ambil barang di sana,” jelasnya.

“Kantor agen BNI ini akan buka di Wamena, Tiom (Kabupaten Lanny Jaya) dan di distrik Bolakme, dan Kimbim saya akan masuk dengan agen ini,” imbuh Lenis.

Sementara, Salomina Esuru, salah satu pengusaha mama Papua mengatakan, apa yang disosialisasikan pemerintah membingungkan dan arahnya ke mana tidak jelas. Sebenarnya apa yang mereka sampaikan tidak dimengerti baik.

“Mereka harus lihat kita, pasar Potikelek tidak boleh ada pedagang pendatang (Non Papua) yang berjualan. Itu kan pasar tradisional dengan nama besar, tapi orang pendatang ada itu bagaimana?” tanya mama Salomina.

“Tapi untuk BNI ini mereka sosialisasi baru mungkin kita lebih mengerti lagi. Kami juga kecewa dengan pemerintah karena tahun 2014 suruh buka rekening tapi sampai sekarang tidak ada perhatian. Jadi, kami tidak mau dengan program ini menipu kita lagi,” ucap Salomina.

Senada diungkapkan mama Maria Dabi. Kata dia, jangan dengan program ini tinggal menipu, tetapi apa yang disampaikan benar-benar dilaksanakan.

“Kami berpikir apa yang mereka sampaikan ini bisa tipu kami. Kami bisa rugi,” kata mama Dabi.

Pewarta: Elisa Sekenyap

Editor: Arnold Belau