GempaR Papua Pilih Sekjen, Pertegas Komitmen Perjuangan

1
1860

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Gerakan Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat (GempaR) Papua mempertegas komitmen perjuangannya dengan menggelar musyawarah kedua belum lama ini di Kota Jayapura, Papua.

Alfa Rohrohmana, ketua panitia Musyawarah II GempaR Papua, kepada suarapapua.com, kemarin, menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membenahi struktur organisasi dan menetapkan program kerja.

“Kegiatannya sukses kami selenggarakan, dan perjuangan tetap dilanjutkan,” ujar Alfa.

Menurutnya, posisi mahasiswa Papua terpecah. Sebagian tak lagi kritis terhadap situasi sosial, situasi politik yang terjadi akhir-akhir ini. Hal itu diduga karena terjebak dalam kepentingan kekuasaan yang berujung kepentingan pribadi semata.

Ia mengajak mahasiswa dapat memahami persoalan dengan aktif melihat persoalan ekonomi global, ekspansi industri besar-besaran, perampasan hak-hak masyarakat adat, juga kian meningkatnya kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua.

“Mahasiswa dan pemuda sebagai garda terdepan dalam mencermati situasi dan merespon persoalan,” pinta Alfa.

Dengan maksud itu, kegiatan diadakan selama dua hari (18-19/6/2016). Selain tentunya bertujuan memilih pemimpin baru GempaR Papua.

“Dalam musyawarah kedua ini berupaya menyesuaikan kebutuhan rakyat dan pikiran organisasi. Kita menetapkan agenda-agenda perjuangan, dan berhasil memilih seorang Sekjen terpilih, saudara Yason Ngelia,” kata Alfa sembari menjelaskan, upaya rekonstruksi internal organisasi dilakukan untuk membenahi fungsional struktural dalam kerja-kerja gerakan mahasiswa ke depan.

Sementara itu, Yason Ngelia, pimpinan baru GempaR Papua menggantikan Samuel Womsiwor sebagai Sekjen hasil musyawarah pertama, menegaskan, barisan muda harus terus melanjutkan perjuangan.

“Selama dua hari rekonstruksi GempaR, sudah berlangsung hingga tuntas. Secara pribadi patut berterima kasih kepada teman-teman. Dan, saya menilai dalam proses ini GempaR telah berada pada posisi yang terbaik sejak berdirinya,” ujar Yason.

Yason menegaskan, GempaR bukan OKP, juga bukan wadah aspirasi pemerintah. “Tetapi GempaR hadir sebagai langkah perlawanan bersama rakyat,” tegasnya.

Lanjut Yason, hal yang perlu dipertegas bahwa organisasi perlawanan yang lahir dan terbentuk atas kesadaran anak Papua dan berada pada lahan konflik, GempaR layaknya seperti cadangan perlawanan untuk terus memperjuangkan nasib bangsa Papua.

“Kita berikrar ketika masih ada marginalisasi dan penindasan kepada orang Papua disitu GempaR hadir. Gempar hadir untuk melawan kolonialis yang terus menjajah bangsa Papua,” ujarnya.

Yason juga menyatakan, “Rakyat hari ini tak punya pilihan di dalam sistem seperti ini. Makanya, kami hadir untuk menyalurkan aspirasi rakyat yang tertindas. GempaR Papua bukan seperti faksi. Tetapi organisasi ini hadir untuk mengisi kekosongan, untuk melawan penindasan yang gemar dilakukan negara,” jelasnya.

Senada dengan Alfa, Yason menegaskan keberadaan GempaR bukan saja milik kawan-kawan yang ada di Jayapura, tetapi menjadi milik rakyat Papua.

“Ini wadahnya kita semua. Dan inilah proses terbaik, sebab dalam perjalanannya GempaR mendapat banyak pengalaman dengan banyaknya anggota yang datang dan pergi,” urai Yason.

GempaR Papua sejak dibentuk dengan ideologi sosialisme demokratik gencar menentang kolonialisme yang dianggap sudah mengancam rakyat West Papua.

Pewarta: Harun Rumbarar

Editor: Mary