Mahasiswa Papua: Di Yogyakarta Kami Diteriaki Monyet

9624

YOGYA, SUARAPAPUA.com — Hari Jumat (15/7/2016), Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) Yogyakarta yang beranggotakan mahasiswa Papua dan beberapa organisasi-organisasi pro-demokrasi di Yogyakarta yang hendak berdemonstrasi damai, ditahan gabungan polisi, brigade mobil (Brimob), dan organisasi-organisasi masyarakat yang reaksioner.

PRPPB hendak turun jalan untuk mendukung United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) agar masuk menjadi anggota Melanesia Spearhead Group (MSG) dan menyatakan bahwa hak menentukan nasib sendiri adalah solusi paling demokratis bagi rakyat bangsa Papua.

Massa aksi berkumpul di Asrama Kamasan I Papua, Jl. Kusumanegara, Yogyakarta. Tapi sejak pagi, 15 Juli 2016, pantauan suarapapua.com, polisi sudah memadati jalan depan asrama. Sebanyak 5 truk Sabhara disiagakan di sekeliling asrama Papua.

Aris Yeimo, presiden Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) di DIY menjelaskan, semua ini sangat disayangkan. Karena tindakan-tindakan rasial yang terjadi justru terjadi di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan dan berbudaya.

“Semua ini terjadi di Yogyakarta yang adalah kota pluralisme, dan kota barometer penegakkan HAM dan demokrasi di Indonesia. Di kota Jogja ini, kami mahasiswa Papua diteriaki monyet,” tegas Yeimo.

Sementara itu, Polisi menutup arus lalulintas depan asrama Papua, walau mahasiswa Papua masih di dalam asrama. Sejak pagi, mahasiswa Papua yang ada di dalam asrama Papua tidak dapat keluar. Begitu juga dengan mahasiswa Papua yang ingin bergabung dengan mahasiswa Papua lainnya di Asrama Papua sebagai titik kumpul.

Media ini menyaksikan langsung, beberapa orang dari kerumunan gabungan polisi, Brimob, dan ormas-ormas reaksioner yang bersatu kepung mahasiswa Papua di Asrama Kamasan I Papua (Jam 7 pagi – malam) pada Jumat, 15 Juli 2016 dan teriak-teriak rasis sambil tendang-tendang pintu pagar masuk.

“Woee, monyet-monyet Papua, keluar. Separatis Papua, monyeetttt, keluar,” begitu teriak para pengepung.

Mengenai tindakan rasial negara Indonesia terhadap rakyat Papua, salah satu pejuang kemerdekaan Papua, Filep Karma, dari dalam penjara Abepura, telah menulis sebuah buku berjudul ‘Seakan Kitorang Setengah Binatang’.

Pantauan media ini, Polisi dan Brimob membiarkan Ormas reaksioner turut serta, ikut dalam pengepungan terhadap mahasiswa Papua di Asrama Kamasan I. Dengan begitu, rencana aksi demonstrasi damai otomatis batal. Polisi rampas hak mahasiswa Papua untuk menyampaikan pendapat.

Polisi juga larang mobil Palang Merah Internasional (PMI) yang angkut bahan makanan untuk ratusan mahasiswa Papua yang terisolasi di dalam asrama Papua karena dikepung. Mobil PMI itu malah diamankan kepolisian.

Polisi tembakkan gas air mata ke dalam asrama Papua sekitar pukul 19.00 WIB.

Sekitar pukul 23.30 WIB, mahasiswa Papua di Asrama Papua membubarkan diri ke tempat masing-masing karena blokade dan pengepungan sudah tidak dilakukan lagi. Tapi kepulangan mahasiswa tersendat, karena ternyata gabungan Polisi, Brimob, kelompok Ormas-ormas reaksioner yang mengepung asrama telah menghancurkan motor milik mahasiswa yang diparkir di belakang asrama Papua.

Sebelumnya, beberapa motor milik mahasiswa Papua yang digunakan mahasiswa untuk datang ke Asrama Papua guna bergabung dengan mahasiswa Papua lainnya, telah dikumpulkan di Jl. Timoho, lalu diangkut oleh truk bersama dengan para pemiliknya ke Polresta Yogyakarta.

Pewarta: Bastian Tebai

Editor: Arnold Belau