Harapan dalam Kesepian

0
7734

Oleh: Gigobak Tapulunik

 

Gulita selalu dihantui cahaya rembulan yang menenangkan amarah lampu-lampu kota

Malam selalu tabah, walau tusukan samurai Philips dari berbagai penjuru terus berdatangan.

Malam masih stabil, tangis bayi-bayi malam kian melengking, jam dinding di tugu jam berdering. Dan semua mata tertuju pada gulita malam.

 

Tersisa katak yang sedang berdoa.

Jangkrik melantunkan lagu pujian

Dan cicak di dinding mengaguminya.

Seolah-olah, serempak harapan yang tak terungkap

Terucap bukan karena harapan yang terpupus, namun yng tersisa adalah rindu.

Sebab su berusaha dobrak pintu hati namun masih bisu dalam kebisuannya

 

Dia pun terbisu dalam label kemandirian, takut, dan ketakutan merajainya.

Hey kau biarkan keteguhanmu memuaskan hati dia yang sudah lama menanti.

Biarkan pintu kebijaksanaan berlalu sembari membuka lembaran baru

 

Dirinya rela dikau datang, dalam penantian kosong. Kau simpan jika kita tidak bersatu

Sebab dia tak mau lagi menanggung penderitaan yang dibingkiskan cinta.

 

Dia kerap kasasar dalam bayang-bayang di kala dirimu senang.

Dia senang di mana dirimu melebihinya

Barang kali yang tersisa namaku sebagai pendusta pembohong. Pendua hati.

 

Dengan harapannya yang  mulia, niatnya yang tulus, dan dengan kepolosannya dia tetap pada prinsipnya.

Dengan acuh tak acuh, kau tetap pada keputusanmu yang dikaguminya bahkan sedikit menegangkannya.

Jujur, ketika itu kau menamparkannya dari penantian serta harapan yang kosong.

Kiranya kenangan itu akan menjadi satu bingkisan kisah cintanya yang perih. Selayak cicak yang mengagumimu dan tangisan bayi yang melengking.

 

Di kala engkau berbahagia, barangkali itu yang diharapkan dirimu.

Sebab ketika perjalanan panjang dilaluinya dengan penuh kesederhanaan, saat itu pula kebahagiaannya berpihak padanya dan mungkin padamu juga.

Terasa semburannya yang kerap kau hiraukan.