37 Guru SM-3T di Dogiyai Telah ke Tempat Tugas

340

DOGIYAI, SUARAPAPUA.com — Sedikitnya 37 orang Sarjana Mendidik di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (SM-3T) yang tiba di Kabupaten Dogiyai, Papua, sejak pekan lalu, mulai menjalankan tugas sesuai Surat Keputusan (SK) dari pemerintah daerah.

Benediktus Goo, penanggungjawab program ini, menjelaskan, kehadiran guru SM-3T di kabupaten Dogiyai sesuai program pemerintah pusat dan masa kerjanya selama satu tahun terhitung 5 September 2016.

“Pada tahun ini pemerintah kabupaten Dogiyai menerima 37 orang guru SM-3T. Mereka berasal dari Universitas Negeri Semarang (Unes). Ini program pemerintah pusat yang ditawarkan ke daerah, istilahnya kami menjemput bola,” jelasnya kepada suarapapua.com, kemarin.

Goo diberi mandat oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai, Yermias Anou, untuk “menjemput” 37 orang tersebut di Jakarta, menjelaskan, Dogiyai mendapat “jatah” dari program SM-3T karena di mata pemerintah pusat, masih daerah terpencil.

Kata Goo, program SM-3T sepenuhnya dibiayai pemerintah pusat. “Semua biaya ditanggung pemerintah pusat. Pemerintah daerah tidak keluarkan biaya sedikit pun,” ujarnya.

Setelah tiba dan diterima secara resmi oleh pemerintah daerah di Moanemani pada Kamis (8/9/2016), kata dia, 37 orang itu selanjutnya ditempatkan di semua jenjang pendidikan, baik PAUD, TK, SD, SMP maupun SMA/SMK.

“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai telah menempatkan guru SM-3T di sekolah-sekolah yang ada di distrik Mapia Tengah, Mapia, Kamuu, Kamuu Utara, Kamuu Timur dan Kamuu Selatan. Untuk distrik Mapia Barat, Piyaiye dan Sukikai tidak, dengan alasan letak geografis,” tutur Benny.

Diketahui, program pemerintah pusat ini diberlakukan untuk memenuhi Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Dosen dan Guru. Sesuai aturan tersebut, guru harus berkualifikasi strata satu (S1), berkompeten dalam ilmu, dan berprofesi yang artinya guru harus profesional dalam proses mengajar.

Program SM-3T dibuka untuk semua warga Negara Indonesia, yang sudah bergelar S1 bagian pendidikan. Mereka kuliah dua kali, setelah S1, kuliah lagi tiga tahun.

“Tahun pertama kuliah dan tahun kedua turun lapangan mengabdi. Satu tahun mereka bertugas di Dogiyai, selanjutnya tahun ketiga susun laporan dan bila lulus akan menambah gelar S.Pd,Gr (Sarjana Pendidikan Guru),” jelasnya.

Benny berharap, kepada putra-putri asli Dogiyai, selalu mengikuti perkembangan agar kedepan ada yang dapat masuk dalam program seperti ini. “Supaya kita tidak menjadi penonton di negeri sendiri,” tandasnya.

Pewarta: Agustinus Dogomo

Editor: Mary Monireng

SHARE