Pertunjukan Wansolwara Dance Movement Angkat Isu West Papua

0
1363

SUVA, SUARAPAPUA.com — Sebagai dukungan saudara-saudari Pasifik terhadap Papua Barat atas pembunuhan, pemerkosaan dan pengambilalihan harta kekayaan bumi Cenderawasih, “The Wansolwara dance movement atau satu samudra satu bangsa” menampilkan lagu, tarian dan puisi dengan tema, “The Rebirth – our mother’s call to renewal” yang dilangsungkan di Suva Civil Centre, Fiji, Minggu (25/9/2016).

Pesan pertunjukan ini adalah untuk menyampaikan kepada rakyat supaya kembali ke iman Kristiani, atas semua hal yang terjadi di wilayah Pasifik.

“Pertunjukan ini untuk menunjukan dukungan isu di wilayah Pasifik mengenai percobaan nuklir di wilayah Pasifik, penentuan nasib sendiri bagi daerah yang belum merdeka, isu dari militerisasi, hak warga pribumi, perubahan iklim serta bencana yang terjadi seperti di Fiji baru-baru ini dan penting sekali isu Papua Barat yang hari-hari ini manusianya terus dibunuh,” kata Rev. Francois Pihaatae, Sekretaris Jenderal Pacific Conference of Churches (PCC) pada pidato pembukaan pertunjukan itu.

Sehingga katanya, sebagai keluarga Pasifik perlu dukungan dan ini bagian dari dukungan kepada Papua Barat sebagai saudara-saudari Pasifik.

Sementara, dalam tarian dan cerita yang dibawakan anak-anak muda Pasifik yang tergabung dalam Wansolwara Dance Movement ini berkisah mengenai penjualan tanah kepada investor yang datang dengan bujuk-membujuk orang pribumi tanpa mempertimbangkan hal lain.

Mengambil harta kekayaan milik orang Pasifik, membunuh warga pribumi yang mempertahankan-meminta hak menentukan nasib sendiri bagi wilayahnya, merusak alam, memperkosa, merusak hubungan keluarga antara orang Pasifik dan kapitalisme yang merajalela.

Pertunjukan ini akan dilangsungkan selama empat hari, mulai tanggal 25 sampai 28 September 2016 di Suva Civil Centre Fiji. Dan direncanakan akan melakukan tour ke negara lain di Pasifik untuk menyampaikan pesan penting dari isu-isu Pasifik yang ada.

Wansolwara dance and movement bekerja sama dengan Pacific Conference of Churches (PCC), University South Pacific (USP), Pacific Theological Collage (PTC), Utei-Mj production dan didukung oleh Pacific Theological Collage (PTC) – Institute for Research and Social Analysis and God’s Pacific People (GPP) programme, Pacific People Association of non-governmental organization (Piango) dan Bread the World Germany.

Pewarta: Elisa Sekenyap