Jelang Natal BBM di SPBU Habis, Polisi Jaga Warga yang Antri Beli Bensin di Depan Mapolres Yahukimo

0
1640
Telihat polisi sedang menjaga warga yang antri bensin yang dijual dengan harga 25 ribu per lipter di depan Mapolres Yahukimo, Dekai, Papua. (Dok Suara Papua)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Ketersediaan Bahan Bakar Minyak di SPBU habis sejak tiga minggu alu membuat harga BBM kembali melonjak hingga 100 ribu perliter. Dikabarkan, warga antri bensin hingga puluhan orang di depan kantor Polres Yahukimo di Kota Dekai dan antrian warga untuk mendapatkan bensi itu dijaga aparat kepolisian dari Polres Yahukimo, Papua.

Seorang warga Yahukimo kepada suarapapua.com melaporkan, warga yang hendak beli bensin saat ini sedang antri di depan kantor Polres Yahukimo di Kota Dekai. Harga bensin di depan kantor Polres agak murah sehingga banyak warga yang antri.

“Warga di sini antri di depan kantor Polres Yahukimo. Tempat jual bensin ini tepat berada di depan kantor Polres Yahukimo. Penyedianya tidak tau pasti. Tapi antrian ini dijaga ketat oleh petugas kepolisian. Harga di depan kantor Polres 25.000/1 liter dan di tempat lain dijual dengan harga 100 ribu rupiah,” jelasnya kepada suarapapua.com dari Dekai, Papua pada Selasa (13/12/2016).

Ia menjelaskan, menurut keterangan pengantri bensin, diduga penyedianya adalah pihak kepolisian Yahukimo. Karena aparat banyak yang jaga antrian itu dan masyarakat datang berbondong-bondong untuk antri BBM.

“Saya beum tahu siapa panyedianya. Tapi dari dugaan masyarakat yang saya tanya sendiri di tempat antrian, penyedianya polisi dari Polres Yahukimo. Warga juga sampaikan  bahwa aparat kepolisian telah menghalangi kedatangan stok bensin dari timika melalui di pelabuhan Logbon,Yahukimo dan diarahkan ke Asmat,” ungkapnya.

Seperti disiarkn media ini sebelumnya, Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Yahukimo habis membuat SPBU tesebut tak dibuka sejak tiga pekan terakhir. Hal tersebut mengakibatkan harga BBM di Yahukimo melambung tinggi dan mencapai 100 ribu rupah per liter.

Terlihat pengumuman Bensin Habis di sebuah Papua dan di SPBU Yahukimo yang yang tak ada aktivias. Dikabarkan sejak tiga minggu sudah tak ada aktivitas karena tak ada BBM di SPBU ini. (Dok Suara Papua)
Terlihat pengumuman Bensin Habis di sebuah Papua dan di SPBU Yahukimo yang yang tak ada aktivias. Dikabarkan sejak tiga minggu sudah tak ada aktivitas karena tak ada BBM di SPBU ini. (Dok Suara Papua)

“Sejak 6 hari lalu harga bensin Rp 30- 35 ribu, 5 hari lalu 50-60 ribu, 3 hari lalu 80 ribu/liter dan sejak kemarin (Senin –red) Rp 100 ribu, baru tadi (Selasa) pagi 1 liter Rp 130 ribu,” ungkap salah satu warga yang tak mau dimediakan namanya kepada suarapapua.com dari Yahukimo, Sesala (13/12/2016).

Lanjut dia, “130 ribu berlaku sejak tadi (Senin) malam hingga hari Selasa jam 11 siang. Untuk pengecer BBM sendiri ada di setiap ttitik mata jalan bahkan depan rumah. Diperkirakan 15-25 tempat penjualan. Harga masih Rp 100 ribu rupiah di atas jam 11 siang,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sejak presiden Jokowi ke Yahukimoharga bensin di Yahukimo sudah sama, namun dalam di tempat lain (pengencer) harganya 15 ribu dan setelah masuk pada bulan Desmber ini harga BBM melonjak tinggi 10 kali lipat.

“Harga 6.400 rupiah itu harga di SPBU, tapi di sana (SPBU) juga ada permainan dengan penjual di luar SPBU (pengencer) sehingga mereka punya alasan cepat habis dan stok habis.  Jdinya penjual di luar menaikan harga sesuka mereka seperti saat ini. Pelayanan di SPBUsanga tidak maksimal maksimal,” jelasnya.

Untuk aktivitas di SPBU Yahukimo sendiri, kata sumber tesebut, sudah tidak beraktivitas lagi sejak tiga minggu lalu. Sampai sekarang SPBU tutup.

“Sudah tidak beroperasi. Alasannya BBM Habis. Jadi wagra Yahukimo beli di pengencer dengan harga yang sangat mahal,” katanya.

Terlihat bnyak warga yang antri di depan Mapolres Yahukimo untuk beli bensin dengan harga 25 ribu rupiah. (Dok Suara Papua)
Terlihat bnyak warga yang antri di depan Mapolres Yahukimo untuk beli bensin dengan harga 25 ribu rupiah. (Dok Suara Papua)

Seperti dikutip dari ccn.com, pada Oktober lalu Presiden Jokowi mencanangkan kebijakan ‘Satu Harga BBM’ di Kabupaten Yahukimo, pada Selasa (18/10).

“Ada ketidakadilan. Di Jawa harga BBM Rp7.000. Di Wamena, harga BBM Rp60.000-Rp70.000 per liter. Saya gak bisa seperti itu. Kalau di sana, di Barat, di Tengah, ya di sini harusnya sama harganya,” kata presiden diiringi tepuk tangan hadirin, sebagaimana dilaporkan wartawan di Yahukimo, Yuliana Lantipo.

Presiden menggarisbawahi, bila terjadi kenaikan harga BBM sebesar Rp1.000, masyarakat di Pulau Jawa langsung bereaksi. Namun, di Papua atau di wilayah bagian timur lainnya, rakyat hanya bisa terdiam ketika harga BBM berkali lipat lebih mahal dibanding wilayah lainnya.

“Di sini harga Rp60.000 per liter atau Rp100.000 per liter bertahun-tahun juga rakyat diam,” kata presiden.

Dia mengakui menerima laporan tentang kerugian yang bakal diderita Pertamina dalam menjalankan kebijakan ‘Satu Harga BBM’.

“Pak Dirut Pertamina menyampaikan ke saya, ‘Pak kalau harga (BBM di Papua) Rp7.000, ruginya besar sekali’. Ini bukan urusan untung dan rugi. Saya sudah perintahkan ke ibu menteri (BUMN), carikan jalan keluar. Yang paling penting saya minta, harga (BBM) kurang lebih sama dengan yang ada di Jawa.”

Pewarta: Arnold Belau