Di Yahukimo Stok BBM di SPBU Habis, Harga Bensin Capai 100 Ribu Perliter

2
1556
Terlihat pengumuman Bensin Habis di sebuah Papua dan di SPBU Yahukimo yang yang tak ada aktivias. Dikabarkan sejak tiga minggu sudah tak ada aktivitas karena tak ada BBM di SPBU ini. (Dok Suara Papua)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Yahukimo habis membuat SPBU tesebut tak dibuka dalam tiga pekan terakhir. Hal tersebut mengakibatkan harga BBM di Yahukimo melambung tinggi dan mencapai 100 ribu rupah per liter.

“Sejak 6 hari lalu harga bensin Rp 30- 35 ribu, 5 hari lalu 50-60 ribu, 3 hari lalu 80 ribu/liter dan sejak kemarin (Senin –red) Rp 100 ribu, baru tadi (Selasa) pagi 1 liter Rp 130 ribu,” ungkap salah satu warga yang tak mau dimediakan namanya kepada suarapapua.com dari Yahukimo, Sesala (13/12/2016).

Lanjut dia, “130 ribu berlaku sejak tadi (Senin) malam hingga hari Selasa jam 11 siang. Untuk pengecer BBM sendiri ada di setiap ttitik mata jalan bahkan depan rumah. Diperkirakan 15-25 tempat penjualan. Harga masih Rp 100 ribu rupiah di atas jam 11 siang,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sejak presiden Jokowi ke Yahukimoharga bensin di Yahukimo sudah sama, namun dalam di tempat lain (pengencer) harganya 15 ribu dan setelah masuk pada bulan Desmber ini harga BBM melonjak tinggi 10 kali lipat.

“Harga 6.400 rupiah itu harga di SPBU, tapi di sana (SPBU) juga ada permainan dengan penjual di luar SPBU (pengencer) sehingga mereka punya alasan cepat habis dan stok habis.  Jdinya penjual di luar menaikan harga sesuka mereka seperti saat ini. Pelayanan di SPBUsanga tidak maksimal maksimal,” jelasnya.

Untuk aktivitas di SPBU Yahukimo sendiri, kata sumber tesebut, sudah tidak beraktivitas lagi sejak tiga minggu lalu. Sampai sekarang SPBU tutup.

“Sudah tidak beroperasi. Alasannya BBM Habis. Jadi wagra Yahukimo beli di pengencer dengan harga yang sangat mahal,” katanya.

Pada Oktober lalu, seperti dikutip dari bbc.com, Presiden Jokowi mencanangkan kebijakan ‘Satu Harga BBM’ di Kabupaten Yahukimo, pada Selasa (18/10).

“Ada ketidakadilan. Di Jawa harga BBM Rp7.000. Di Wamena, harga BBM Rp60.000-Rp70.000 per liter. Saya gak bisa seperti itu. Kalau di sana, di Barat, di Tengah, ya di sini harusnya sama harganya,” kata presiden diiringi tepuk tangan hadirin, sebagaimana dilaporkan wartawan di Yahukimo, Yuliana Lantipo.

Presiden menggarisbawahi, bila terjadi kenaikan harga BBM sebesar Rp1.000, masyarakat di Pulau Jawa langsung bereaksi. Namun, di Papua atau di wilayah bagian timur lainnya, rakyat hanya bisa terdiam ketika harga BBM berkali lipat lebih mahal dibanding wilayah lainnya.

“Di sini harga Rp60.000 per liter atau Rp100.000 per liter bertahun-tahun juga rakyat diam,” kata presiden.

Dia mengakui menerima laporan tentang kerugian yang bakal diderita Pertamina dalam menjalankan kebijakan ‘Satu Harga BBM’.

“Pak Dirut Pertamina menyampaikan ke saya, ‘Pak kalau harga (BBM di Papua) Rp7.000, ruginya besar sekali’. Ini bukan urusan untung dan rugi. Saya sudah perintahkan ke ibu menteri (BUMN), carikan jalan keluar. Yang paling penting saya minta, harga (BBM) kurang lebih sama dengan yang ada di Jawa.”

Pewarta: Arnold Belau