Natal Kapitalisme

0
974

Oleh: Benny Mawel)*

Perayaan Natal (kelahiran) Imanuel. Imanuel yang artinya Allah beserta. Perayaan iman umat Kristen seluruh dunia itu baru saja kita rayakan. Perayaan iman itu telah berubah makna. Natal Imanuel menjadi natal katipitalisme. Allah beserta artinya kasih menyertai manusia. Manusia harus membagi kasih dengan tulus kepada siapa saja telah menjadi Kasih bersyarat dalam paket-paket natal.

Kasih para kapitalis tersalur melalui bujuk rayunya. Kapitalis menyediakan kebutuhan umat merayakan Natal Imanuel. Kapitalis menyediakan paket-paket dan diskon natal. Jemat tergoda membangun pondok natal, menyalakan kelap kelip lampu, mendengarkan lagu-lagu rohani bernuansa Natal, mencacat rumah, merencanakan membeli menu makanan dan minuman, alas kaki dan busana baru.

Kita berburu produk kapitalis. Kita penuhi toko perbelanjaan. Budak kapitalis sibuk melayani sambil usap keringat. Kita keluarkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Kita mengejar diskon, belanjakan makanan, minuman dan busana baru.

Kita tidak sadar diskon itu hanya cara kapitalis membujuk konsumen. Sangat tidak masuk akal, para kapitalis mau rugi. Kapitalis hanya bermain logika di atas kertas. Konsumen terjebak dalam permaianan itu untuk memborong prodak kapitalis.  Makin banyak kita beli makin tebal dompet kapitalis yang pelit dan barbar itu.

Kita borong. Rumah penuh dengan barang toko. Kita  sajikan makanan dan minuman bagi keluarga dan tamu. Kita masak banyak, tidak mampu makan, penuh di tong sampah. Kita lupa kalau ada yang tidak makan. Terutama anak jalan, kaum miskin kota, para pengungsi dan korban perang. Seandai yang masuk tong sampah itu diberikan bagi yang lapar. Sangat menolong.

Kita yang beriman juga tidak ketinggalan membeli petasan yang dibunyikan setiap malam tanpa sadar itu mengangu tetanga, orang sakit, bayi dan penyakit akibat asap petasan. Kita tidak peduli dengan orang lain dan bayi-bayi yang mau tidur nyeyak. Kita tidak peduli dengan resiko polusi udara dan kesehatan.

Kita hanya pikir nafsu kepuasan diri kita sendiri. Ego kepuasan pribadi menghantui kita. Kita lupa kalau Natal Imanuel itu membawa kasih. Kasih yang menciptakan kesehatan dan kenayaman.

Kita tidak sadar, atau melakukanya dengan sadar, perayaan natal yang kita rayakan dengan menyiapkan makanan, minuman dan busana natal itu bukan karena nilai dan penghayatan iman melainkan pertumbuhan nafsu materialisme dan konsumerisme. Kita ingin memiliki sebanyak mungkin materi dari yang sudah ada. Kita lebih mengutamakan atau meghitung jumlah materi perayaan natal.

Kita mendewakan materi daripada iman. Kita lebih sibuk menghitung jumlah materi dan memikirkan kualitas produksi. Kita lupa memupuk kualitas iman dengan menyisihkan atau menyerahkan materi yang berlebihan itu kepada yang betul-betul membutuhkannya.

Kita merayakan dalam kemewahan namun nilai dan makna dari perayaan menjadi soal. Apakah kemewahan, materialism dan konsumerisme dapat memperkokoh iman dan penghayatan? Ataukan kemewahan itu hanyalah upaya memuaskan diri sendiri, rakus dan menunjukan diri yang lebih hebat dari yang lain?

Apakah kita pernah sadar konsumerisme itu bagian dari penyakit tidak sadar hasil kontruksi kapitalisme? Apakah kita memperkaya sang pemodal atas nama perayaan iman tetapi memperlebar jurang kaya dan miskin?

Para kapitalis membujuk kita menyampingkan soal-soal iman. Kapitalis berhasil menciptakan kebutuhan, membawa kita hanya berfikir diri sendiri, memuaskan diri, menciptakan kebahagiaan dengan produk-produk ciptaannya.

Kapitalis menciptakan kebutuhan dan kebahagiaan kita sehingga melupakan Rakyat jelata, manusia yang tidak punya, terutama korban konflik bersenjata. Konflik pertarungan perebutan sumber daya alam.

Kita berpesta pora sementara mereka menderita, lapar dan membutuhkan perhatian kita. Kita bersenang-senang sementara mereka, sesama kita ada dalam ketakutan dan kekhawatiran.

Apakah bukan untuk yang tidak punya, yang sederhan dan yang khawatir dan korban itu Yesus lahir? Apakah demi yang  tidak punya dan sederhana itu , Yesus lahir di kadang yang sederhana?

Kita telah melupakan natal itu persoalan nilai dan iman. Kita sudah lari dari makna natal yang sebenarnya. Kita pergi merayakan natal kapitalis, menyuburkan kapitaslime dengan nafsur konsumerisme dan materialisme.

Karena itu, kita mesti setuju ketika Paus Fransiskus mengkritik cara kita merayakan Natal. “Natal tersandera materialisme,”ungkapnya dalam pesan natal di Vatikan yang dilangsir BBC.

Kapan kita berhenti merayakan natal kapitalisme dan betul-betul merayakan natal Imanuel? Rupanya makin sulit, natal makin tidak bermakna dalam genggaman kapitalisme.

Apakah ini awal atau tanda-tanda kematian kekristenan dalam pelukan kapitalisme? Entalah. Orang beriman Kristen yang tahu. Orang beriman yang tahu Tuhan itu akan mati atau akan hidup dalam iman.

Akhir kata, saya menyampaikan selamat merayakan natal kapitalis dalam sikap pura-pura kita merayakan natal Tuhan beserta kita (imanuel) . Kapitalis menyeratai kita. Apakah ada amin saudara???

 

)* Penulis adalah wartawan di Koran Harian Jubi dan tabloidjubi.com