Kapolres Jayawijaya Bantah Anggotanya Tidak Melakukan Penganiayaan Seorang Pendeta Kigmi di Wamena

0
1289

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Kapolres Jayawijaya AKBP. Yan Reba mengatakan bahwa informasi yang beredar baru-baru ini di media mengenai penganiayaan seorang pendeta di jalan Irian Wamena akibat lakalantas pada tanggal 10 Januari 2017 adalah tidak benar.

“Memang ada isu pendeta dipukul tetapi tidak benar karena anggota saya pada tanggal 10 Januari mendatangi TKP yang ada di jalan Irian atas dan sampai disana kedua korban (Pendeta Tinanius  Hilapok dan Rudi Pagawak) yang dalam keadaan mabuk terjadi kecelakaan lalu lintas dan anggota memberikan pertolongan dan keduanya dalam keadaan tidak berdaya. Mungkin kita tidak tolong maka akan meninggal,” kata Kapolres Yan kepada wartawan di Mapolres Jayawjiaya, Rabu (18/1/2017).

Setelah membawa dua korban ke RSUD Wamena kata Kapolres, pendeta Hilapok tidak menyadarkan diri dan akibatnya pendeta Hilapok menyatakan dirinya dipukul.

“Setelah informasi tersebut masuk ke media social, Kapolda Papua langsung perintahkan Wakapolda dan Kabib Propam naik ke Wamena dua hari lalu dan kami konfirmasi kepada pihak gereja dan kami tanyai saksi baik keluarga maupun pihak rumah sakit. Semua menjelaskan hal yang sama yakni tidak ada penganiyaan kepada seorang  pendeta,”tutur Kapolres.

Ia lalu menjelaskan bahwa kasus pendeta Tinanisus Hilapok, Kepoliasian Jayawijaya telah menjalankan secara maksimal untuk memberikan perlindungan dan tidak sama sekali melakukan pemukulan. Selain itu ia juga berharap kepada masyarakat agar tidak menyamakan satu permasalahan lain dengan persoalan lainnya agar tidak ada tindakan yang berlebihan dari masyarakat.

“Sekarang kedua korban dan pelaku sedang melaksanakan persoalannya secara kekeluargaan dan kita harap jangan menyerap informasi dari media sosial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” punkas kapolres.

Sebelumnya satuharapan.com, media yang berbasis di Jakarta memberitakan bahwa Pdt.Anius Hilapok dipukul dan disiksa setelah mengalami kecelakaan antara sepeda motor di jalan Irian Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Sebagaimana dikabarkan satuharapan.com kejadian itu tidak  firincikan yang dialami seorang pendeta gereja Kemah Injil Papua (Kigmi), Ketua Klasis Ibela, Jayawijaya itu. Tetapi, satuharapan.com menjelaskan, Matius Murib salah satu aktivis di Papua menyesalkan tindakan yang dilakukan oknum aparat keamanan yang semakin brutal dan emosional serta mengambi cara kekerasan sebagai jalan penyelesaian masalah di Papua.

“Semoga bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan damai,” kata Matius Murib.

Pewarta : Elisa Sekenyap