BeritaDari Peringatan 54 Tahun GIDI: Berkarya Untuk Segala Suku Bangsa

Dari Peringatan 54 Tahun GIDI: Berkarya Untuk Segala Suku Bangsa

KARUBAGA, SUARAPAPUA.com— Lahir di Toli Papua, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang kini genap berusia 54 tahun telah berkembang pesat bahkan telah membuat terobosan pelayanan lintas etnitk dan budaya sampai ke Sumatera, Jawa, hingga keluar Negera Palau, PNG, Yunani, Australia dan Afrika Selatan.

Itu merupakan sebuah kemajuan yang harus disyukuri. Namun juga sebuah tantangan bagi GIDI untuk semakin dewasa dan tetap berdiri kokoh ditengah perubahan zaman.

 

Injil Masuk di Wilayah Toli

Pengijil pertama, David Marthin (Kondabaga) menjelaskan bagaimana inijil masuk pertama di Wilayah Toli. Gereja Injili  Di Indonesia (GIDI) dirintis oleh tiga orang dari badan Misi UFM yaitu Hans Veldhuis, Fred Dawson, dan Russell Bond pada tanggal 22 Januari 1955. Mereka berjalan kaki dari Senggi dan tiba di danau Archbol pada tanggal 18 Februari 1955.

Penginjil datang ke wiayah Toli dengan menyaksikan kasih Kristus kepada segala suku Nieuw Guinea yang didasarkan pada kitab Kisah Para Rasul 1:8. Kemudian Bert Power dan Ross Bartell (2 orang UFM) tiba di Bokondini pada bulan Maret 1955.

Selain misi UFM, Bapak Gesswein dan Bapak Widbi bersama Misi ABMS berjalan kaki dari Archbol tanggal 28 April dan tiba di Bokondini tanggal 1 Mei 1956. Mereka kemudian membangun sebuah lapangan terbang dan pada 5 Juni 1956 Pilot Dave Steiger mendarat pertama kali di Bokondini. Saat itu Pos UFM dan APCM ada di Bokondini. Selanjutnya, pada 5 Juni 1957, pesawat MAF pertama kali mendarat di Karubaga (Daerah Toli atau disebut Swart Valley).

Baca Juga:  Warinussy Minta Kapolres Jayapura Diperiksa Karena ‘Membiarkan’ Warga Sipil Bertindak Arogan di Mapolres

Pada bulan Agustus 1958, tiga orang UFM, yaitu Ralph Maynard, Bert Power dan Leon Dillinger berjalan kaki dari Karubaga menuju ke Yamo dan membuka Lapangan di Mulia.

Sebaga hasil pertama dari penginjilan, dibaptis 9 orang bakal jemaat GIDI pada tanggal 12 Februari 1963 di Kelila. Kemudian diadakan sidang pertama di Karubaga dimana Zending CMA juga diundang untuk hadir.

Tanggal itu kemudian ditetapkan dan diperingati sebagai HUT GIDI di setiap Tahun.  Dalam perkembangan pelayanan, terjadi perubahan nama seiring perkembangannya, Yaitu Gereja Injili Irian Barat (GIIB)  1963 sampai 1971, Gereja Injili Irian Jaya (GIIJ) 1971 sampai 1988, dan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) 1988 sampai sekarang.

 

Perkembangan Nyata Setelah Stengah Abad

Thema HUT GIDI ke-54 mengangkat thema: Penginjilan Belum Selesai, dengan sub thema: Melalui HUT GIDI ke-54 ini Gereja-gereja di Wilayah Toli bersatu padu mendukung penginjilan menuju satu Abad. Karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan semua orang, bagi kami yang masih bernafas agar melalui kehadiran Injil ini bisa dapat selamatkan, sehingga kita wajib selamatkan kepada yang belum menerima injil Kristus, Kisah Para Rasul 1:8 dan Matius 28:19-20 merupakan moto Gereja Injili di Indonesia.

Baca Juga:  Komite Keselamatan Jurnalis Papua Barat dan PBD Resmi Terbentuk

Kedua nast tidak bisa pisahkan seperti hubungan yang terasi suami istri untuk menciptakan generasi GIDI kedepan hanya kuasa Firman Allah yang hidup, terang pelayan Firman Pdt. Agus Suebu.

Sebagai ungkapan syukur mewakili jemaat GIDI, Badan Pengurus Wilayah Toli memberikan Pengharagaan kepada penginjil Bapak David Marthin (Kondabaga) bersama Ibunya.

“Penghargaan ini barang biasa, tetapi karya penyelamatan Bapak, Tuhan telah tercatat dan hadiah akan diberikan oleh Bapak disorga,” ucapnya. Pdt. Nayus Wenda selaku Ketua Wilayah Toli.

Sambutan President GIDI dibacakan oleh utusan BPP Pdt. Ferdinad Ayomi dengan arahkan jemaat agar fokus pada Visi yang sudah ditetapkan bersama yaitu “Umat GIDI Masuk Sorga”.

Penginjilan sebagai misi utama, kita terus ditingkatkan. Para penginjil adalah ujung tombak gereja, maka perlu mendapat perhatian penuh termasuk nasib mereka dan pengutusan ke Sekolah Theologi harus dioptimalkan.

“Saya salut saudara sekalian seluruh persembahan yang berikan itu menyambut pesan Allah kepada melaksanakan pekabaran injil yang belum selesai. Perkenaan dengan itu pihaknya memberikan informasi tentang dana yang diberikan diharapkan akan manfaatkan dalam negeri dan luar negeri,” katanya.

“Ada seorang pendeta atau misionaris dari suku Lany telah dikirim PNG sedang melayani di sana. Kita membutuhkan biaya yang sangat besar, anak-anak GIDI sedang menekuni pendidikan ada beberapa negara dan pelayanan dalam negeri seperti Jawa, Sumatera, Madura, Ambon, dan Di Papua juga seperti Korowai serta Mamberamo kita manfaatkan pake dana yang telah terkumpul ini,” terangnya.

Baca Juga:  Mahasiswa Nduga se-Indonesia Sikapi Konflik Pemilu di Distrik Geselema

Dikatakan, GIDI masih banyak membutuhkan tenaga penginjil. Ada beberapa tempat pos pelayanan telah dibuka seperti Jawa, Sumatera, Kalimatan, Sulawesi, Ambon, Papua serta Luar Negeri. Untuk itu pihaknya memohon dukungan doa melalui doa apapun rencana dapat terwujud.

Sementara itu, ketua Panitia Pdt. Lazarus Kogoya menyampaikan terima kasih kepada Kader GIDI yang telah memberikan dukungan dana sehingga kegiatan ini dapat terselenggara sesuai kalender HUT GIDI.

“Kami tidak sebutkan besaran sumbangan tetapi semua Tuhan telah melihat dan itu semua rahasia Tuhan,” katanya.

Sekada Tolikara Panus Kogoya mewakili Pemda Tolikara mengatakan hari ini kita merayakan HUT GIDI yang ke-54. Sebenarnya injil mulai dari Lembah Balim atau Wamena lewat Wolo, masuk ke Bokondini sampai di Karubaga. Mengapa sampai di sini, orang memang tidak memiliki apa-apa tetapi ada hati untuk pergi menginjili sehingga rencana Tuhan sangat luar biasa melalui orang suku Lani ini dapat membawa injili ke penjuru muka bumi ini.

“Melalui HUT GIDI ke-54 ini kita tingkatkan penginjilan kepada yang belum mendapatkan injil terang itu, agar menjadikan mereka murid Tuhan Yesus,” katanya.

Dari pantauan suarapapua.com, Sesuai ibadah selesai penjualan hasil persembahan Buah Merah, Sayur, Kacang berbagai jenis taman dipergunakan pelayanan pengijilan.

 

Pewarta: Nay Yigibalom

Editor: Arnold Belau  

Terkini

Populer Minggu Ini:

Bertamasya ke Lubang Batu Lembah Emereuw-Konya Abepura

0
Ketidakseriusan pemerintah kota Jayapura mengelola keunikan Lubang Batu Lembah Emereuw-Konya dari genangan air dan sampah warga itulah yang menjadi penyebab setiap turun hujan pasti rumah-rumah warga di dua RT yang terletak di kawasan Lembah Emereuw-Konya selalu tergenang air. Kondisi itu bukan hanya pada musim hujan saja, namun setiap kali hujan. Akibatnya, warga Lembah Emereuw-Konya selalu siap siaga jika turun hujan.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.