Dua Anak Papua dari GRC Pulang Difasilitasi Host Family

212

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sandra Bonifield mengklarifikasi pemberitaan media ini tentang dua siswa Papua dari Green River Collage (GRC), Auburn, Washington State, Amerika Serikat, yang terpaksa pulang ke kampung halaman, akibat persoalan finansial.

Dua anak Papua itu memilih meninggalkan proses pendidikannya sebagai dampak belum direalisasikan beasiswa dari Pemerintah Provins Papua.

Kata Sandra, masalah keterlambatan pembayaran itu sudah berlangsung sejak Agustus 2016.

“Tetapi saya ingin menyampaikan sisi lain dari host family Green River College. Para host family ini bukanlah pegawai dari College tersebut. Mereka keluarga biasa yang bersedia membuka rumah mereka bagi mahasiswa asing dan mendapat uang tambahan pemasukan,” tulisnya dalam surat elektronik, 14 Februari 2016.

Sandra maklum pandangan host family. Sebab, menjelang Desember, pembayaran uang kost sudah terlambat dua bulan, apalagi menjelang Natal, dimana pengeluaran sangat besar.

“Tetapi mereka tidak bilang apa-apa ke murid Papua, tetap diberi makan seperti biasa dan setahu saya tidak disindir-sindir,” jelas Sandra yang mengaku kebetulan kenal host family tersebut.

“Bahkan, host family tersebut mencarikan tiket kedua murid Papua untuk pulang. Mereka pun diantar oleh host family tersebut ke airport dan diberi uang saku pula.”

Hal lain yang ia klarifikasi, dalam berita terdapat kalimat “peringatan keras”.

“Itu sebenarnya bukan peringatan keras. Email tersebut disampaikan karena masih tidak ada kepastian kapan uang kos akan dibayarkan kepada host family. Jadi, pihak sekolah memutuskan “menarik” murid dari host family dan mereka dipindahkan ke asrama sekolah,” jelas Sandra.

Soal $25/hari, kata dia, itu memang rate harian yang ditetapkan untuk murid international. “Jadi, jika uang kost bulanan untuk 1 Januari hingga 1 Februari, tetapi murid keluar 4 Februari, berarti dari tanggal 2-4 dihitung per hari,” urainya.

Lanjut Sandra, pihak Green River membelikan persediaan makanan untuk murid-murid yang masih tinggal.

Diberitakan media ini sebelumnya, dua students dari Green River Collage (GRC), Auburn, Washington State, Amerika Serikat, pulang ke kampung halaman karena takut dideportasi ke Indonesia. Persoalannya, selain dua anak tersebut, para pelajar dan mahasiswa Papua di sana sedang mengalami kesulitan dengan biaya akibat beasiswa dari Pemprov Papua belum juga direalisasikan.

Dalam surat elektronik yang dikirim ke redaksi suarapapua.com, salah satu mahasiswa yang meminta namanya tak disebutkan, mengatakan, kondisi mereka sudah tak menentu semenjak beberapa bulan lalu pemerintah daerah tak kirim beasiswa.

“Kami merasa letih sejak tahun lalu pada musim gugur antara September sampai akhir Desember 2016,” akunya.

Anak-anak Papua di sana sebenarnya merasa gembira karena pada hari Senin (29/1/2017) dianggap sebagai hari mujur. “Tetapi janji itu tidak terbukti. Pemprov tidak tepati janji untuk kirim uang,” keluhnya dengan penuh kecewa.

Mereka merasa ditipu. Mereka saat ini sudah kehilangan melihat terang dan tidak ada harapan. Sebab, “Di Amerika, buang air kecil di jalan saja denda, apalagi dalam segala hal seluk beluk kehidupan,” tulisnya dalam email.

Meski proses belajar berjalan seperti biasa, persoalannya adalah biaya hidup yang hinga kini belum juga dikirim oleh Pemprov Papua melalui Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM).

Situasi sama dialami puluhan pelajar dan mahasiswa Papua di Kanada. Sejak tiga bulan lalu beasiswa dari Pemprov Papua belum dikirim.

Sebenarnya sudah berulangkali berusaha menghubungi melalui email, tetapi tanggapan dari pemerintah daerah hanya sebatas janji yang hingga Februari ini belum juga ada kabar menggembirakan bagi anak-anak Papua di luar negeri.

Persoalan sama dialami pelajar dan mahasiswa Papua yang ada di berbagai negara. Seperti di New Zealand, Australia, Filipina, juga di beberapa negara bagian Amerika Serikat yaitu Arizona, Texas, Oregon dan California. Mereka kesulitan uang tuition dan akomodasi.

Pewarta: Mary Monireng