FMJ-PTP Kecam Aksi Solidaritas Untuk Ahok, Mestinya Untuk Korban HAM

0
1106

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Aksi solidaritas untuk Ahok yang dilakukan sejumlah masyarakat dan pejabat daerah yang mengatasnamakan masyarakat Wamena di halaman Kantor Otonom Wenehule Hubi tanggal 13 Mei 2017 mendapat sorotan tajam dari Forum Masyarakat Jayawijaya se-Pegunungan Tengah Papua (FMJ-PTP).

FMJ-PTP mengapresiasi aksi itu, namun dilain sisi aksi yang diinisiasi oleh Ketua DPRD Jayawijaya yang dihadiri Sekda Lanny Jaya serta sejumlah pejabat pegunungan tengah itu dinilai tidak tepat.

Mully Wetipo, Ketua FMJ-PTP melalu press release yang diterima suarapapua.com, Rabu (16/5/2017) mengungkapkan, walaupun aksi ini dinilai baik, tepat di hadapan para pejabat dan masyarakat yang hadir dalam aksi itu ada banyak kasus kemanusiaan yang sesungguhnya membutuhkan aksi-aksi solidaritas seperti itu terjadi tetapi tidak dilakukan.

Contohnya kata Mully, setahun lalu tepat di belakang gedung Otonom Wenehule Hubi yang dilakukan pemasangan lilin untuk Ahok itu terjadi kasus pembunuhan oleh aparat keamanan terhadap Arnold Alua yang hingga saat ini tidak diproses hukum oleh negara.

Selain itu awal tahun ini, Edison Hesegem dianiaya oleh aparat kepolisian hingga di dalam Rumah Sakit RSUD Wamena hingga meninggal dunia. Pertengahan April lalu ada 20 orang meninggal dunia di Awina-Indawa Kabupaten Lani Jaya, demikian juga kasus kematian puluhan anak di Mbua Kabupaten Nduga dan banyak kasus kemanusiaan lainnya hingga saat ini belum diselesaikan.

“Tetapi sayangnya terhadap para korban tersebut tidak ada aksi solidaritas kemanusiaan seperti yang dilakukan kali ini di Wamena, apalagi aksi itu dilakukan di gedung Otonom yang dibelakangnya sempat terjadi korban kekerasan kemanusiaan,” kata Mully.

Oleh karena itu kata Mully, FMJ-PTP tegas mengecam aksi seperti itu tanpa adanya kepedulian terhadap kondisi di Papua, khususnya di Pegunungan Tengah Papua.

“Kami meminta agar baik pemerintah maupun masyarakat yang terlibat dalam aksi-aksi untuk Ahok turut serta mendorong penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan di Pegunungan Tengah Papua melalui aksi-aksi bakar lilin. Terutama penegakan hukum bagi mama-mama Papua yang tersingkirkan dan mencari makan berjualan pinang di pinggiran jalan serta emperan toko orang non-Papua. Termasuk korban dari berbagai ketidakadilan hukum dan kebijakan negara lainnya.”

Lalu ia mengtakan, jika tidak demikian maka aksi lilin yang dilakukan selama ini hanyalah aksi genit, ikut ramai, pameran nurani yang tidak utuh alias aksi tebang pilih, tajam kepada elit penguasa yang metropolis dan populer akan tetapi tumpul kepada orang kecil dan marjinal. Dan yang perlu renungkan baik oleh seluruh masyarakat asli Papua maupun non-Papua, apa yang dialami Ahok saat ini telah dialami masyarakat Papua selama setengah abad dan terus dialami.

Selain itu, Mully merasa heran terhadap perlakuan aparat kepolisian yang saat ini sangat membatasi aksi-aksi kemanusiaan terhadap persoalan Papua, namun aksi untuk Ahok diizinkan tanpa ada halangan sedikit pun.

Tutur Mully, hal ini menunjukkan suatu perlakuan yang diskrimintif terhadap orang Papua sebab mungkin dalam aksi bakar lilin untuk Ahok di Wamena umumnya dihadiri oleh masyarakat Non-Papua.

Sebelumnya, Pater John Djonga mengungkapkan, semua orang bersolidaritas terhadap Ahok dari Sumatera hingga Papua, padahal ada ribuan bahkan jutaan korban sejak G 30 S PKI hingga kelompok OPM yang tidak mendapatkan keadilan.

“Saya sebagai tokoh agama tidak mau mempersempit makna lilin itu memberi cahaya kepada kegelapan. Jadi dengan pemasangan lilin yang ada, bukan hanya masalah Ahok, tetapi masalah solidaritas kemanusiaan, pelanggaran HAM, ketidakadilan yang terjadi di seluruh Indonesia, khususnya Papua. Itu baru ada makna kita pasang 1001 lilin, tetapi kalau menulis hanya mengenai Ahok ,saya pikir terlalu kecil dan sedikit,” kata Pater.

Pewarta : Elisa Sekenyap