Gereja Stasi Santo Paulus Kumurkek Diresmikan

190

KUMURKEK, SUARAPAPUA.com — Uskup Manokwari Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr didampingi penjabat bupati kabupaten Maybrat, Sekda Maybrat, Pendeta GKI Klasis Aifat dan umat, meresmikan gedung gereja Katolik Stasi Santo Paulus Kumurkek, Kamis (29/6/2017). Peresmian ditandai dengan pembukaan selubung papan nama, penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita.

Peresmian gereja seluas 18×9 meter dan luas secara umum halaman gereja seluas 175 x167 meter persegi ini menjadi momen penting bagi warga umat Katolik dan Protestan sejak 60 tahun silam Gereja masuk di wilayah itu.

Lukas Kosamah, ketua panitia peresmian, menyampaikan terima kasih atas dukungan dari jemaat yang meluangkan waktu sejak proses persiapan hingga peresmian. Baik persiapan belanja makan minum, tenda, pembersihan halaman gereja dan lainnya.

“Tidak ada kata-kata yang kami sampaikan kepada jemaat GKI Sion, hanya ungkapan terima kasih. Karena dukungan partisipasi itulah kegiatan peresmian ini bisa berjalan baik,” ungkapnya.

Wellem Saa, ketua panitia pembangunan menjelaskan, gedung gereja stasi ini mulai dibangunsejak tahun 2008.

“Kami sendiri tidak mempunyai dana yang pasti untuk menyelesaikannya, tetapi akhirnya pembangunan gereja ini berhasil atas spontanitas umat sebesar Rp537.000.000 (lima ratus tiga puluh tujuh juta rupiah) selama 9 tahun dan hari ini diresmikan,” kata Wellem.

Ia menambahkan, “Kami di stasi Santo Paulus Kumurkek ini umatnya tidak banyak, hanya sedikit orang ditambah dengan umat yang hanya datang bekerja di ibu kota kabupaten ini dan sewaktu-waktu bisa ikut ibadah dan tidak ikut.”

Uskup Manokwari-Sorong mengatakan, pemerintah daerah kabupaten Maybrat tidak menutup mata terhadap usaha-usaha dari masyarakat apalagi kegiatan keagamaan.

“Harapan kami agar pemerintah hadir membawa perubahan terutama kesejahteraan masyarakat dan umat Katolik di wilayah ini ikut memberi dukungan kepada pemerintah,” kata Uskup.

“Saya berterimakasih kepada umat di sini, dimana sudah dijelaskan tadi oleh Silas Saa pelaku sejarah perjalanan gereja di wilayah ini. Terutama usaha-usaha panjang dari akar sejarah, sehingga kita mendapatkan gedung gereja ini,” lanjutnya.

Uskup berharap, tugas selanjutnya adalah memelihara gedung ini, juga memelihara nilai-nilai yang mempersatukan kita sebagai umat maupun jemat, sehingga kehidupan kita bertumbuh lebih baik dan benar-benar menggambarkan keutuhan martabat manusia.

“Kalau umatnya hanya 6 atau 7 kepala keluarga, tetapi ada kekompakan, maka hasil-hasilnya pasti baik. Mari kita pertahankan kekompakan dan kesetiakawanan kita dengan rekan-rekan GKI Sion dan siapa saja yang berkehendak baik menjaga keutuhan ciptaan Tuhan, menjaga martabat serta berkeadilan bagi umat dan jemaat di wilayah ini,” pesan Uskup Datus.

Albert Nakoh, penjabat bupati kabupaten Maybrat, mengungkapkan cerita dari orang tua dulu seperti dikatakan orang tua kita bahwa tidak mungkin ada gereja Katolik yang bisa berdiri di tempat ini. Manusia merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.

“Gereja ini berdiri karena atas usaha dan kerja keras antara umat dan jemaat di Kumurkek ini, sehingga kegiatan bisa dapat berjalan baik. Kita tidak bisa membeda-bedakan antara GKI dan Katolik, tetapi kita harus bersatu, saling bersinergi, bahu membahu untuk melakukan perubahan di daerah ini,” harapnya.

Lanjut Nakoh, gereja Katolik sudah ada di Kumurkek, tidak perlu lagi cari gereja sampai di Ayawasi maupun tempat lain. Sebab satu dua berkumpul dan berdoa, di situ Tuhan juga hadir, sebab gereja yang kita pilih-pilih tidak selamatkan kita, tetapi perbuatan baik yang menyelamatkan kita di akhirat nanti.

“Usaha kita kumpul uang, material dan lainnya untuk membangun gereja ini, Tuhan yang memperhitungkan semuanya. Kita memberikan kepada pekerjaan Tuhan berarti berkat itu mengalir di dalam hidup kita,” kata Nakoh.

Agustinus Saa, Sekda kabupaten Maybrat, mengatakan, orang di Maybrat ini dikenal tiga tangan yaitu peresmian gereja orang tepuk tangan, ada masalah orang angkat tangan, dan lipat tangan nonton.

“Peresmian semacam ini banyak orang tepuk tangan, besok kegiatan gereja jalan banyak orang angkat tangan, dan orang melakukan aktivitas gereja semua orang lipat tangan. Tetapi Allah Tritungal selalu turun tangan untuk dunia dan ciptaan-Nya termasuk manusia,” ucapnya.

Sekda akui, setiap kampung di kabupaten Maybrat berlomba membangun gedung gereja yang serba megah, tetapi tidak pernah berlomba-lomba memasukan anak-anak untuk sekolah jadi hamba Tuhan. Orang luar banyak sekolah dan hadir menjalankan tugas pelayananya, kita mulai bersungut-sungut.

“Tuan tanah di Kumurkek harus menyiapkan tanah untuk membangun gedung ibadah masing-masing umat yang datang bekerja di ibu kota ini. Apakah Gereja, Masjid, Wihara dan lainnya. Kita tidak bisa menolak karena ini ibu kota kabupaten Maybrat, maka semua orang dari Nusantara ini datang bekerja di sini,” tutur Agustinus.

Dalam kegiatan peresmian ini dimeriahkan lagu-lagu dari umat, tarian adat serta umat dan jemaat yang menghadiri acara peresmian yang dimulai jam 09.00 WIT sampai selesai.

 

Pewarta: Engel Semunya
Editor: Arnold Belau

SHARE