BeritaPendidikan & KesehatanBuku “Dukun Asmat” Menarik Perhatian Dinkes Papua

Buku “Dukun Asmat” Menarik Perhatian Dinkes Papua

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Buku baru berjudul “Dukun Asmat” karya Willem Bobi, menggugah hati banyak kalangan, termasuk drg. Aloysius Giyai, kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Ia bahkan akui isi buku tersebut akan dijadikan sebagai rujukan dalam menjalankan pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Asmat.

“Saya senang sekali membaca buku yang ditulis oleh saudara Willem Bobi. Buku ini akan menjadi rujukan bagi kami Dinas Kesehatan Povinsi Papua,” kata Giyai saat berbicara pada peluncuran buku yang diangkat dari hasil liputan harian seorang jurnalis, Sabtu (22/7/2017) di ruang Asmat Hotel Aston, Kota Jayapura, Papua.

Diakuinya, memang masih banyak yang harus dibenahi dan diperhatikan oleh pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan. “Kami tidak bisa kerja sendiri, pemerintah sangat membutuhkan kerjasama semua pihak. Dan, buku ini sangat membantu kami untuk bisa mengevaluasi kinerja kami,” ujar Giyai.

Menurut Giyai, pelayanan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat memang kurang menjangkau hingga ke sudut-sudut kota, terutama di pedalaman Asmat sendiri.

Baca Juga:  127 Orang di Kapela Yogonima Buta Huruf, Gereja Diminta Prioritaskan Pembangunan SDM

“Perlu diketahui bahwa kerja di Asmat sangat rumit. Kalau di tempat lain kerja dua kali, berarti di Asmat harus lebih dari itu,” ungkapnya.

Dibeberkan pula dana Otonomi Khusus untuk bidang kesehatan tiap kabupaten sebesar 15%. “Dan, itu bukan kecil nilainya. Jadi, saya sangat berharap bahwa jika pemerintah daerah Asmat bekerja dengan serius, maka angka kematian akan berkurang,” yakin Giyai.

Ia juga ucapkan terima kepada penulis buku ini karena sudah memberi kepada publik gambaran riil kesehatan di wilayah Kabupaten Asmat.

Ditulis berdasarkan hasil liputan harian. (Harun Rumbarar – SP)

“Buku seperti ini sangat bagus karena akan membantu pemerintah mencari solusi dalam pengambilan kebijakan dan realisasinya di lapangan,” tandasnya.

Buku setebal 648 halaman, dibagi dalam 7 bab, mengulas banyak kisah mengenai buruknya pelayanan kesehatan di Kabupaten Asmat yang amat jauh dari harapan serta tindakan masyarakat memilih menggunakan ramuan tradisional sebagai obat herbal demi menyelamatkan hidup mereka.

Baca Juga:  127 Orang di Kapela Yogonima Buta Huruf, Gereja Diminta Prioritaskan Pembangunan SDM

Willem karena merasa prihatin menyaksikan kondisi tersebut, berusaha melakukan perjalanan ke kampung-kampung, menjumpai masyarakat dan mendengar keluh kesah, serta menganalisis persoalan hingga ia tulis sebuah buku yang baru tadi diluncurkan.

“Saya menulis buku ini awalnya hasil liputan harian saya sebagai seorang koresponden di beberapa media massa lokal Papua sejak tahun 2008. Saya turun ke lapangan, tulis berita, kemudian dianalisis dan dikembangkan hingga terbitkan buku ini,” jelasnya.

Willem menceritakan, “Ketika saya tiba di Kabupaten Asmat tahun 2007, saya merasa harus melakukan sesuatu untuk Asmat, dengan apa yang saya bisa lakukan.”

Dua buku mengenai Asmat, karya Willem Bobi, ST. (Lucky – SP)

Buku berjudul “Dukun Asmat” adalah buku kedua karya Willem Bobi, kumpulan referensi dari hasil liputannya sejak tahun 2007 hingga 2015. Antara lain menulis di harian Papuapos Merauke, tabloid Suara Perempuan Papua (tSPP), dan tabloidjubi.com. Tahun 2014, ia menulis buku pertamanya berjudul “Meregenerasi Manusia Asmat”.

Baca Juga:  127 Orang di Kapela Yogonima Buta Huruf, Gereja Diminta Prioritaskan Pembangunan SDM

“Saya mulai menganalisis dari hasil liputan saya dan berbagai perbandingan dari tiap sudut wilayah di Papua tentang kesehatan. Bagaimana pelayanan kesehatan yang kurang efektif dan angka kematian bayi yang tinggi,” kata Willem kepada suarapapua.com usai launching buku keduanya.

Penulisannya dimulai sejak tahun 2013 dan selesai 2015 lalu. Terkendala biaya percetakan, sehingga sempat tertunda. “Tahun ini barulah saya bisa terbitkan,” ucap lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang sempat setahun mengajar bidang studi Fisika san Matematika di SMA YPPK Adhi Luhur Nabire.

Selain Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, hadir sebagai pembicara dalam diskusi peluncuran buku ini, dosen Fakultas Kedokteran Uncen, dr. Gerson Andrew Warnares, Ketua Sinode Gereja Kingmi Tanah Papua, Pdt. Benny Giay, wartawan senior dan penulis buku, Paskalis Keagop, dengan moderator Andy Tagihuma.

 

Pewarta: Harun Rumbarar
Editor: Arnold Belau

Terkini

Populer Minggu Ini:

Demi Lindungi Tanah dan Hutan Adat Marga Woro, Hakim PTTUN Manado...

0
LBH Papua menyataka, hal tersebut harus dilakukan dalam rangka melindungi Hak Asasi Manusia khususnya hak atas tanah ulayat dan hutan adat milik marga Woro yang akan hilang akibat putusan perkara nomor 6/G/LH/2023/PTUN JPR yang diambil tanpa mengikuti pedoman mengadili perkara lingkungan hidup serta jelas-jelas melanggar kode etik dan pedoman perilaku hakim.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.