Papuans Photo akan Pameran Foto di FFP 2017

475

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Komunitas Papuans Photo bakal mengambil bagian dalam acara Festival Film Papua (FFP) yang digelar Papuans Voices di Merauke, 7-9 Agustus 2017.

“Kami mendapat undangan dari Papuan Voices untuk mempromosikan foto-foto tentang budaya, tanah dan alam Papua, dalam kegiatan Festival Film Papua pertama di Kabupaten Merauke,” jelas Whens Tebay, ketua Papuans Photo saat jumpa pers, Sabtu (29/7/2017) di Abepura, Kota Jayapura.

Undangan dari Papuan Voices, kata Whens, telah diterima pengurus Papuans Photo pada hari Selasa lalu, diberikan oleh ketuanya Kaka Asri.

“Mendapat undangan buat Papuans Photo, tentu kami merasa senang dan pasti akan ikut dalam acara Festival Film Papua di Merauke. Kami diberi kesempatan untuk pameran foto di sana,” jelas Whens.

Di Merauke, Papuan Voices akan pamerkan film-film dokumenter tentang orang Papua terdiri dari tanah, alam dan budaya orang Papua.

“Dalam acara itu kami Papuansphoto diundang supaya bisa pamerkan foto-foto hasil karya dari anggota group kami yang berkaitan dengan tema yang diminta pihak panitia,” lanjutnya.

Tema utama yang akan dipamerkan dalam acara itu, kata Whens, difokuskan tiga tema yakni tanah, alam, dan budaya dari Tanah Papua.

“Saya menilai ini langkah yang baik yang diambil teman-teman. Karena kegiatan seperti ini harusnya pemerintah yang dorong supaya sama-sama suarakan apa yang ada di tanah ini,” kata Whens.

Menurutnya, banyak wartawan dan media yang datang ke Papua selalu menngekspos sesuatu hal secara umum saja, tidak banyak keadaan riil di lapangan diungkap ke publik, misalnya setelah Otsus ada, tetapi masyarakat di lapangan tidak mempunyai suatu usaha yang bisa mengangkat ekonominya.

“Ini yang semua teman-teman media harus angkat dan publikasikan kepada dunia luar, tetapi kebanyakan selalu angkat pemerintah saja, lalu masyarakat ini mau kemana?”

Ia menyebut hal-hal yang menyangkut dengan masyarakat itu jarang sekali, sehingga lewat momentum seperti ini perlu untuk diangkat dan dipublikasikan. “Supaya semua tahu keadaan Papua yang dialami oleh masyarakat Papua itu seperti apa,” ujar Whens.

Di tempat sama, sekretaris Papuans Photo, Alfonsa Wayap, mengatakan, “Saya merespon undangan yang kami dapatkan ini, sebab ini sangat positif sebagian bagian dari kolaborasi antara perfilman dengan seni fotografi”.

Lanjut Alfonsa, “Kalau kita melihat sendiri di Merauke itu mereka bicara soal alam, maka bagaimana komunitas lainnya juga bisa bicara tentang budayanya bahkan kehidupannya.”

Kata dia, di Merauke, mereka bicara tentang alam karena banyak investor luar yang masuk untuk membuka lahan demi bisnis kelapa sawit, padi dan lainnya. Maka, orang asli Merauke sendiri tak punya tempat tinggal di atas negeri sendiri.

“Komunitas Papuans Photo hadir bersama-sama dengan Papuan Voices ini mau menyuarakan realita yang terjadi, dari kehidupan orang Papua. Kenapa pemutaran film mau ambil di Merauke? Ya, tentu karena realitanya bahwa alamnya dihancurkan dan orangnya dipinggirkan,” tutur Alfonsa.

Robeto Diyab, anggota Papuans Photo, menyambut baik undangan tersebut. Ia mengaku siap terlibat dengan menyumbangkan foto-foto hasil jepretan dan bahkan mengisi acara pameran di Merauke.

Whens menambahkan, untuk mendukung pameran foto di acara FFP, pengurus telah mengumumkan kepada anggota untuk menyetorkan foto-foto budaya orang Papua, alam Papua, dan Tanah Papua.

“Kami sudah membuka ruang bagi seluruh anggota agar mengirim foto minimal 5 buah. Sudah banyak yang kirim, dan akan kami seleksi sebelum dipamerkan. Mulai tanggal 4 kami akan cetak dan tanggal 5 atau 6 sudah ke Merauke,” kata Tebay.

Kegiatan Festival Film Papua akan diselenggarakan di gedung Vertense Sai, komplek Keuskupan Merauke, pada 7-9 Agustus 2017 mendatang. Beberapa tahapan sudah dilakukan, antara lain pendaftaran film, penjurian dari 27 film hingga tertinggal 25 film dan penetapan 10 film pada Minggu (30/7/2017).

Film tersebut dikirim dari beberapa kota di Tanah Papua. Masing-masing film punya ragam cerita antara lain kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik dan keamanan, perempuan dan anak, budaya dan alam hingga sejarah.

 

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Arnold Belau