Indonesia Doyan Selamatkan Proyek Jalan Dibanding Nyawa Orang Papua

0
1774
Victor F. Yeimo, ketua umum KNPB Pusat. (IST - SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Ketua umum Kominte Nasional Papua Barat (KNPB) Victor Yeimo menegaskan, pemerintah Indonesia dan jajarannya hingga saat ini lebih suka menyelamatkan proyek-proyek jalan di wilayah tanah Papua dibanding menyelamatkan nyawa orang Papua.

“Itu terbukti jelas. Watak dan wajah Indonesia sesungguh sudah ditunjukkan dalam kasus Deiyai. Indonesia, mulai dari Jokowi hingga TNI dan Polri lebih suka selamatkan proyek jalan dibanding menyelematkan nyawa orang Papua,” tegas Yeimo kepada suarapapua.com dari Jayapura menanggapi peristiwa di Deiya, Jumat (4/8/2017).

Kata yeimo, watak Indonesia yang selama ini ditunjukkan dengan lebih pentingkan pembangunan ketimbang keberlangsungan hidup dan keelamatan hidup rakyat Papua tercermin jelas dari sikap kontraktor yang mengerjakan jembatan di kampung Oneibo.

“Indonesia lebih peduli pembangunan jalan dibanding meminjamkan kendaraan untuk menyelamatkan nyawa Ravianus Douw. Bagi mereka jelas: orang Papua adalah binatang yang harus musnah, dan proyek infratruktur harus terbangun demi pendudukan kolonial dan kapitalis di atas tanah Papua,” tegas Victro keras.

Menururnya, penembakan yang menewaskan Yulianus Pigai adalah refleksi bagi semua orang Papua di wilayah Papua Barat yang masih mengagungkan NKRI.

“Penembakan di Deiyai menjadi refleksi bagi semua orang yang masih mengagungkan NKRI. Rakyat Papua barat harus sadar bahwa tidak ada harapan hidup dalam Indonesia. Nyawa orang Papua bisa dicabut kapan saja Indonesia mau. Nyawa orang Papua di mata Indonesia tidak ada artinya. Maka Rakyat Papua harus sadar,” harap Yeimo.

Anggota DPR Papua, Laurenzus Kadepa menambahkan, hal yang perluh diketahui publik bahwa di negeri ini, Tanah Papua, ada dugaan kuat bahwa orang Papua dilarang keras untuk hidup. Dilarang untuk mendapat keadilan hukum, dan orang Papua selalu disalahkan.

“Percuma saja DPR Papua bentuk tim, Komnas HAM bentuk tim, pihak gereja, NGO, bahkan dari TNI Polri bentuk tim kalau hasil akhirnya masih mengecewakan korban. Selama ini walaupun banyak tim dibentuk pelaku tak pernah diadili dan dihukum. Ini fakta bahwa di pandangan orang lain, orang Papua bukan manusia,” tegasnya kesal terhadap sikap negara Indonesia terhadap rakyat Papua.

DPR Papua, kata Kadepa, selalu mengalami kesulitan untuk menangani kasus-kasus selama ini yang menimpa rakyat Papua. Lebih sulit lagi adalah dalam menangani kasus-kasus penembakan yang ada keterlibatan langsung oleh oknum militer. Wamena Berdarah, Wasior Berdarah, Biak Berdarah, Paniai Berdarah dan kasus lain di Papua. Walaupun memiliki data akurat, ada saksi mata, barang bukti, Pelakunya jelas. Tetapi hingga saat ini dibiarkan begitu saja.

“Jadi untuk kasus Deiyai kami harap untuk harus diungkap,” tegasnya.

Pewarta: Arnold Belau