Pemaksaan Kibarkan Bendera Merah Putih Peringati 17 Agustus 2017 di West Papua

Refleksi Rakyat dan Bangsa West Papua Hidup Dalam Dunia Orang Asing

702

Oleh Dr. Socratez S. Yoman)*

Pada 17 Agustus 2010 di salah satu kabupaten di Pegunungan Tengah di West Papua semua orang diwajibkan untuk kibarkan bendera merah putih dalam memperinganti HUT RI 65.

Pada 15 Agustus 2010, salah satu pejabat melewati pos tentara dan di mobilnya tidak digantung bendehara merah putih. Tentara Indonesia di pos itu menghentikan mobil pejabat ini dan ditanya. Mengapa pak tidak pasang bendera (ukuran kecil) di mobil saudara?

Pejabat ini tanya kepada anggota tentara yang lengkap dengan senjata dan di moncong senjatanya sudah terpasang bendera merah putih ukuran kecil.

Pak pejabat ini balik tanya tentara. Pak, apakah ada dasar undang-undang yang mewajibkan dan memaksa orang utk kibarkan bendera merah putih pada 17 Agustus?

Tentara ini berpikir bahwa pejabat ini berpandangan sempit seperti dia. Pejabat ini mempermalukan tentara yang bikin diri inti, hebat, tahu segalanya.

Contoh ini menggambarkan sesungguhnya Bendera Merah Putih itu tidak ada dalam hati rakyat dan bangsa West Papua. Mengapa demikian? Rakyat dan bangsa West Papua berkeyakinan bahwa bendera merah putih adalah bendera penjajah/kolonial.

Bendera merah putih itu identik dengan kekerasan, kejahatan, kekejaman, pembunuhan, penindasan, perampokan dan kebohongan.

Tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan rakyat dan bangsa Indonesia dari Sabang-Ambon.

Karena rakyat dan bangsa West Papua tidak pernah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan RI. Frans Kaisepo, Silas Papare dan Bonay bukan pahlawan nasional yang ikut berjuang dalam kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Realitas selama 54 tahun sejak 1963 dalam pendudukan dan penjajahan Indonesia, penderitaan rakyat dan bangsa West Papua sudah diluar batas-batas kemanusiaan.

Rakyat & bangsa Indonesia akan merayakan 72 tahun kemerdekaan mereka dengan meriah. Sebaliknya, rakyat & bangsa West Papua sedang berduka karena polisi Republik Indonesia telah nenembak mati 1 orang dan melukai beberapa orang West Papua di Deiyai pada 1 Agustus 2017.

Ini wajah sebenarnya pemerintah Republik Indonesia sebagai kolonial baru yang menduduki West Papua.

Intinya adalah tidak ada masa rakyat dan bangsa West Papua dalam Indonesia. Masa depan rakyat dan bangsa West Papua dangat gelap dan suram. Proses pemusnahan etis West Papua secara sistematis ada di depan kita tiap hari.

Karena itu, menurut saya, rakyat dan bangsa West Papua tidak merasa bagian dari Indonesia. Yang merasa diri dia rakyat dan bangsa Indonesia adalah manusi aneh di bumi ini. Dia manusia mata buta dan buta hati yang hidup di tanah dan negerinya rakyat dan bangsa West Papua.

Selamat membaca, merenungkan, berdiskusi dan kritik. 09 Agustus 2017

)* Penulis adalah ketua Persatuan Gereja-Gereja Baptis Papua.