Ini Cafe Sekaligus Perpustakaan yang Harus Anda Kunjungi di Kota Jayapura

680

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sundshine Cafe and Library adalah sebuah kafe yang terletak di Waena. Tepatnya di Jln. Raya SPG, depan SMA Taruna Bakti Waena. Sundshine cafe & library berdiri pada 29 Mei 2017. Sebuah cafe yang dibangun dan dikelola anak asli Papua.

Selain cafe, tempat ini juga ada perpustakaan. Perpustakaan ini, menurut pemilik, berisi buku-buku yang dikumpulkan sejak SMP hingga kuliah di Bandung dan Australia oleh pemilik.

Ini Alamat Sundshine Cafe and Library

Sejak ada niat untuk buka cafe, pemilik memulainya dengan mendesain wajah cafe dan perpustakaan. Usaha itu dimulai dengan proses renovasi interior sejak Januari 2017 yang diawali dengan menggambar lukisan-lukisan dinding oleh Hendrikson Ayomi. Juga perubahan instalasi listrik serta lampu-lampu cafe yang dilakukan oleh Ruben Irap.

Ulin Epa, bercerita 90% barang yang digunakan dan ada di cafe ini dibuat sendiri oleh pemilik dan Hendrikson serta Ruben. Barang-barang yang dibuat sendiri itu antara lain kursi, meja, sofa, meja bartender, hiasan-hiasan dinding, dan pot bunga.

“Satu-satunya barang yang dipesan ke meubel adalah rak buku. Yang lainnya, semua dirancang sendiri,” kata Ulin saat dikunjungi suarapapua.com tidak lama ini.

Menurut Ulin, beberapa hal penting yang ingin didorong dan ingin dipromosikan pemilik dan teman-teman yang memungkinkan cafe ini berdiri adalah pertama the I can mentality atau dalam bahasa Indonesia, mentalitas saya bisa. Hal itu diwujudkan dengan berhasil mengubah interior bersama teman-teman dan menjalankan usaha sendiri.

“Kami ingin menunjukkan bahwa anak Papua sangat bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Bahwa Papua diberkati oleh banyak sekali anak muda bertalenta, jadi kami harap teman-teman Papua yang lain mau dan berani mengikuti mimpi mereka juga,” kata Ulin yang pernah kuliah di negeri Kangguru ini.

Kedua, lanjut Ulin, di Sundshine cafe & library pihaknya memanfaatkan hasil alam Sentani seperti pelepah sagu, yang digunakan di pintu dan meja bartender.

“Kami ingin keunikan Jayapura yang ditunjukkan dari hasil alamnya ini bisa digunakan di banyak bangunan di kota Jayapura, sehingga ketika orang ke Jayapura atau kota lain di Papua, mereka dapat dengan jelas melihat kekayaan dan keunikan Papua,” tuturnya.

Wujudnya, ketika Anda datang ke cafe ini, di hampir semua dinding dilukis dengan motif Papua, ada juga lukisan pemandangan danau Sentani dan beberapa lukisan yang tentunya akan membuat pengunjung tidak bosan. Bahkan dari lukisan-lukisan tersebut dapat memberikan inspirasi baru bagi pengunjung.

Ulin juga akui kalau mereka banyak memanfaatkan barang bekas. Wujud dari barang-barang bekas yang dimanfaatkan, antara lain ada pot bunga yang menggunakan panci bakso yang bocor, hiasan lampu dari botol bekas, fitting lampu dari tutup panci, dan sarung sofa yang dibuat dari kain-kain yang dibeli di cakar bongkar atau tempat menjual baju dan kain, seprei bekas.

Ia menyebutkan, tujuannya adalah selain untuk menekan biaya, ini juga dilakukan untuk mendorong dan memberikan ide kepada orang yang datang untuk mulai memanfaatkan barang bekas dan menunjukkan bahwa barang bekas juga bisa terlihat unik dan keren.

Ketika pengunjung mengunjungi cafe dan library ini, tidak hanya cafe atau makanan cepat saji seperti biasa, terdapat di cafe-cafe pada umumnya, tetapi ada menu spesial yang dapat dinikmati dengan harga yang sangat terjangkau. Yaitu makanan khas Papua.

“Sundshine cafe & library juga ingin menghidupkan kembali makanan, jajanan khas Papua seperti sagu bakar, papeda bungkus, dan lain-lain. Sejak awal buka yang kami promosikan adalah dadar gulung sagu isi kelapa dan sagu forna/sagu bakar kelapa gula merah yang dapat Anda temukan tiap hari di sini,” ungkapnya.

Lebih lanjut kata Ulin, selain dua jenis sagu ini cafe juga melayani pemesanan dadar sagu pisang dan sagu bakar pisang.

“Kami ingin jajanan sehat ala Papua ini hidup dan tidak hanya ditemukan ketika festival atau acara tertentu saja. Selain sagu, kami juga menyediakan kopi Wamena dan kopi Oksibil,” ungkapnya lagi.

Di cafe ini, pengunjung bisa memesan dan menikmati kopi original dari Papua. Yaitu kopi Arabica dari Oksibil dan Wamena.

“Semakin banyak menu lokal yang kami sediakan berarti akan semakin banyak uang yang kami habiskan dengan membeli dari petani Papua dan mama-mama Papua, sehingga kami harapkan dapat membantu ekonomi mereka biarpun sedikit,” kata Ulin.

Terakhir yang ingin dipromosikan oleh Sundshine Cafe & Library, beber Ulin, adalah semangat berkebun dan semangat menanam pohon. Jadi, setiap tanggal 29 setiap bulannya selalu ada bibit tanaman yang mereka bagikan.

“Misalnya untuk bulan pertama kami membagikan bibit rica pelangi, bulan kedua kemarin kami membagikan bibit matoa kelapa, pohon nona dan bibit pohon sawo,” sebutnya.

Uccu Bartholomeus, pemilik dan pengelola cafe tersebut menegaskan, menghadirkan cafe dan perpustakaan Sundshine tidak hanya untuk kepentingan komersil semata, melainkan lewat usaha tersebut ingin agar para pengujung dapat menemukan dan membiarkan inspirasi berkembang bebas.

“Kami berpegang teguh pada prinsip bahwa usaha ini sebaiknya dan seharusnya tidak hanya berdiri untuk kepentingan komersil semata. Kami ingin juga melakukan hal-hal yang berdampak sosial, mungkin tidak secara langsung atau dengan berkoar-koar, namun dengan datang ke sini, kami mengharapkan semua orang menemukan tempat untuk membiarkan inspirasi mereka berkembang liar,” jelas Uccu.

Soal susunan buku-buku dan desain yang unik di cafe tersebut, menurut dia, dimaksudkan untuk mendorong kita membaca dan mengingatkan kita tentang seberapa banyak yang belum kita ketahui.

Barang-barang bekas yang digunakan untuk mengingatkan kita akan tanggung jawab kita akan lingkungan dan masa depan kota Jayapura yang (harusnya) semakin minim sampah.

“Dan makanan asli Papua untuk mengingatkan kita akan akar budaya dan keunikan kita sebagai orang Papua dan juga tanggung jawab kita untuk melestarikan dan menjaga keunikan ini,” tuturnya.

Untuk diketahui, buku-buku yang ada di perpustakaan Sundshine adalah koleksi pribadi Ulin. Ia kumpulkan sejak SMP, saat berkuliah di Bandung dan di Australia, juga ada beberapa yang disumbangkan oleh teman-teman yang mampir di cafe yang senang melihat konsep cafe ini.

 

REDAKSI

SHARE