KPA dan RSUD Karubaga Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS di Distrik Kubu

275

KARUBAGA, SUARAPAPUA.com — Komisi Penanggulanggan Aids (KPA) Kabupaten Tolikara bersama tim Voluntary Counseling and Testing (VCT) Mobile RSUD Karubaga melakukan sosialisasi bahaya HIV/AIDS, Minggu (3/9/2017) di Distrik Kubu, Tolikara. Kegiatan diadakan dalam ibadah gabungan Dewan Kubu Klasis Konda.

Penyuluhan dan sosialisasi dipandu oleh dr. Irma diterjemahkan sekretaris KPA Tolikara Ariantho Kogoya dalam materinya menguraikan tentang HIV/AIDS, termasuk penyebab, pencegahan, sampai pengobatan rutin. Penyampaian materi dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Lanny, menarik bagi peserta untuk dapat memahami dengan baik.

dr. Irma mengatakan, sosialisasi sangat penting, sehingga pihaknya bersama KPA datang ke Distrik Kubu agar diketahui masyarakat sekaligus bisa mencegah penularannya.

“Penyakit ini bukan ujung dari kita punya hidup, tetapi bagaimana kita bisa mengatasi agar tidak terkena. Yang pasti penyakit ini tidak padang bulu, tua mua bisa dapat, sehingga kita harus selalu waspada,” ungkapnya.

Dari data yang ada, kata Irma, di Kabupaten Tolikara banyak kasus HIV karena suka berganti-ganti pasangan.

“Pesan kepada kita semua agar punya pasangan selalu dengan pasangan sampai mati. Bagi muda-mudi yang belum punya pasangan, sebaiknya melakukan hal itu setelah nikah,” ujarnya.

Sementara itu, Samuel Kogoya, ketua harian KPA Tolikara, diwakili sekretaris Ariantho Kogoya, mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan Gereja untuk lakukan ibadah gabungan empat gereja di Dewan Kubu dengan tujuan bersama KPA dan tim VCT memberikan penyuluhan sekaligus sosialisasi tentang bahaya penyakit HIV.

Selain penyuluhan dan sosialisasi, pihaknya juga berikan pengobatan umum dan pemeriksaan HIV terhadap usia produktif yaitu umur SMP sampai umur 50 tahun.

“Tenaga kami dua orang dokter yakni dr. Irma dan dr. Arika. Terus kami bawa perawat, bidan, analis, semua berjumlah 12 orang, termasuk kami dari KPA ada 5 orang yang lakukan pelayanan sekarang,” jelas Kogoya.

Lanjut dia, pelayanan di Distrik Kubu ini sudah yang ke enam kali, sebelumnya telah lakukan sosialisasi di distrik Nabunage-Wokuwo, Kai, Karubaga, Wenam, dan distrik Nelawi.

Sebenarnya ada rencanakan kegiatan yang sama di distrik Wondame, Panaga dan Kembu. Tetapi, kata dia, masih terkendala dengan anggaran.

“Turun ke Kembu sampai di Taive sana pasti pakau pesawat, sedangkan anggaran kita tidak cukup untuk pakai pesawat. Jadi, memang kami mengalami kendala,” ujarnya sembari berharap Pemda Tolikara membantu KPA agar tahun depan atau bulan depan bisa lakukan pelayanan ke beberapa distrik itu.

Dengan pelayanan tersebut, imbuh dia, masyarakat butuh edukasi atau pendidikan, serta butuh perhatian dengan turun ke rakyat untuk lakukan sosialisasi. “Kita ajari mereka cara hidup sehat itu saja sangat luar biasa, itu membuat mereka tahu. Sebenarnya masyarakat Papua sudah hidup sehat, kita tidak perlu bawa, bangun rumah sakit yang mewah, cukup ajarkan pola hidup sehat saja aman itu,” tandasnya.

Kenyataan selama ini virus mematikan sangat membahayakan hingga ribuan orang meninggal. Karena itu, pihaknya punya tanggungjawab yang besar sebagai anak asli Tolikara untuk menyebarluaskan informasi agar ada kesadaran untuk mencegah penyebaran HIV.

“Kalau kita tinggal diam, rakyat kita akan korban banyak,” ujar Arintho.

Ia menambahkan, warga di Tolikara pada umumnya sudah memahami baik bahwa jika terkena HIV dan AIDS sudah pasti meninggal dunia. “Tetapi bagaimana mengidap dan mencegah itu yang sama sekali belum tahu. Fakta dari lapangan seperti begitu, dan itu kita ketahui ketika kunjungi beberapa distrik,” tuturnya.

Untuk memberi pemahaman mengenai cara pencegahan, pihaknya akan terus keliling seluruh wilayah Kabupaten Tolikara. “Target kami, semua masyarakat harus pahami cara pencegahan,” ujar Kogoya.

 

Pewarta: Nay Yigibalom
Editor: Arnold Belau

SHARE