BBM di Oksibil Dijual 40 Ribu per Liter

0
1363

OKSIBIL, SUARAPAPUA.com— Meski pemerintah telah berlakukan harga BBM satu harga di Papua, namun di Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua harga bensin 40 ribu rupiah per  liter.

Harga bensin 40 ribu tersebut disebabkan karena transportasi udara yang kurang lancar akibat kondisi cuaca yang  selalu berubah-ubah.

Menanggapi harga bensin yang mahal itu, pemkab. Pegunungan Bintang melalui asisten I, Untung Eka Priyono mengatakan hal itu terjadi karena pesawat tidak lancar.

“Umumnya sudah berjalan baik. Tapi pesawat udara yang kurang lancar. Kami belum bangun komunikasi dengan pihak yang tangani BBM subsidi di Oksibil,” katanya kepada suarapapua.com, ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/9/2017) lalu.

Saat ditanya soal mahalnya harga BBM eceran, ia menjelaskan, sebenarnya dalam moment hari ulang tahun kabupaten yang ke-15, tanggal 10 April 2017 lalu, bupati Costan Oktemka sudah pernah mengatakan sejak bulan Mei 2017, harga eceran Rp 10.000 perliter.

“Tetapi sampai dengan hari ini kami belum melakukan pengawasan yang jelas,” katanya mengaku.

Meyikapi harga yang mahal tersebut, ia mengatakan, pengecer menjual BBM dengan harga mahal itu meresahkan masyarakat.

“Dalam waktu dekat kami akan bahas dengan pimpinan OPD yang berwenang. Kami akan membicarakan harga eceran BBM sekaligus melakukan pengawasan secara ketat,” katanya.

Salah satu pengecer yang sering menjual BBM di Oksibil kepada media ini mengatakan dirinya biasa mendatangkan BBM dari Jayapura dan Boven Digoel.

“Kami biasa beli BBM dari Boven Digoel dengan harga 33 ribu perliter. Kami jual di Oksibil dengan harga 35 ribu per liter. 1 Drem kecil yang berisi 60 liter dijual dengan harga  2 juta. Sedangkan 200 liter kami jual dengan harga 7 juta,” ungkap seorang penjual bensin yang tidak mau disebutkan namanya.

Pantauan suarapapua.com di Kota Oksibil harga BBM berkisar antara Rp 35 – 40 ribu perliter. Para pedagang menjual di  depan toko, kios atau warung makan untuk dijual bebas.

Pewarta: Fransiskus Kasipmabin  

Editor: Arnold Belau