Masyarakat Larang Pagari Kuburan Empat Pelajar di Paniai

205

PANIAI, SUARAPAPUA.com— Masyarakat Paniai, Papua menolak kuburan empat pelajar yang ditembak mati aparat Indonesia pada 8 Desember 2014 lalu di lapangan Karel Gobay, Enarotali, Papua. Penolakan tersebut dilakukan lantaran masyarakat Paniai dan Papua masih berada dalam suasana duka.

Penolakan untuk membuat pagar di kuburan tersebut dilakukan spontan lantaran melihat para tukang sedang melakukan persiapan bahan-bahan maaterial untuk bikin pagar.

Maku Mote, salah satu pemuda Paniai mengungkapkan kemarahnya. Ia menegaskan untuk para tukan dan siapa pun yang mau bikin pagar agar terlebih dahulu meminta izin pada masyarakat Paniai.

“Kalau mau buat pagar di makam empat pelajar ini harus ada persetujuan dari semua masyarakat paniai. Undang tokoh adat, agama, pemuda, gereja, dan perempuan. Terutama keluarga korban. Tidak bisa seenak seperti begini,” ucap Maku Mote, pemuda Paniai.

Selain Mote, seorang pemuda juga mengatakan, kematian keempat pelajar tersebut terjadi di depan mata masyarakat paniai maka apapun yang berkaitan dengan keempat pelajar itu, harus dilakukan juga di depan mata masyarakat paniai.

“Mulai dari tempat makam mereka sampai penyelesaian kasus harus dilakukan depan masyarakat. Mereka mati di depan mata kami,” tegasnya.

Menurutnya, tindakan itu melecehkan derajat, harkat dan martabat orang papua. Apalagi pembunuhnya adalah mereka sendiri.

“Kami masih duka sampai hari ini. Tindakan ini sungguh melecehkan, seakan kami dianggap bukan manusia,” ujarnya.

Setelah melakukan pembicaraan dengan kepala Distrik Paniai Timur, Pius Gobai beserta beberapa tokoh masyarakat dan masyarakat yang hadir, akhirnya pembuatan pagar tidak dilanjutkan.

Untuk diketahui, hingga saat ini belum ada proses tindak lanjut dan pengungkapan pelaku yang menembak mati empat pelajar pada 8 Desember 2014.

Pewarta: Stevanus Yogi
Editor: Arnold Belau