Seorang Siswa SD Diduga Meninggal Setelah Minum Obat Anti Filarisasi

553

MANOKWARI, SUARAPAPUA.COM – Seorang siswa kelas dua sekolah dasar (SD) di Manokwari, Papua Barat, Aprilia Aprdosi/Mambraku, 7 tahun, menghembuskan nafasnya usai minum obat filariasis. 

Salah seorang sumber Suara Papua menceritakan kronologis kematian Aprilia.

Pada Rabu, 18 Oktober 2017, pukul 10.00 pagi WP, ada pembagian obat anti filariasis atau penyakit kaki gajah di SDI Arowi 1, Manokwari, Papua Barat. Sesuai arahan petugas sebelumnya, obat ini langsung diminum setelah dibagikan.

Aprilia, siswa kelas 2, yang menjadi korban keracunan hingga meninggal itu sempat bertanya kepada dokter, apakah obat ini bisa diminum sebelum makan, sebab ketika itu ia belum sarapan.

Namun, dokter menjawab Aprilia harus kembali ke rumah dan meminumnya usai makan. Karena belum mendengar penjelasan dokter dengan baik, ia langsung mengunyah obat tersebut.

Beberapa waktu kemudian, bocah naas ini merasa pusing dan sakit kepala hingga tertidur. Hingga Rabu malam ia muntah darah. Tubuhnya lemah.

Keesokan harinya, Kamis, 19 Oktober 2017, sekitar pukul 08.00 WP, korban dibawa ke RSUD Kabupaten Manokwari.

Ibu kandung korban pun menjelaskan kepada dokter di rumah sakit agar anaknya segera dirawat. Naasnya, dokter memberi korban obat lambung. Setelah itu diambil sampel darahnya untuk diperiksa di lab.

Setelah melakukan pemeriksaan darah besar mengatakan, korban terindikasi malaria tropika plus 1.

Mendengar itu, ibu korban merasa heran, sebelum kondisi yang dialami anaknya diakibatkan karena mengkonsumsi obat kaki gajah.

Setelah diberikan obat lambung dan pemeriksaan darah besar korban diopname. Namun, hingga Kamis malam tak ada perubahan. Malahan mual-mual dan muntah tanpa henti. Karena panik dan tidak puas, ibu korban kembali ke dokter untuk menayakan pemeriksaan mereka.

“Tapi dokter bilang hanya malaria tropika +1,” katanya.

Ibu kandung korban menuturkan, anaknya muntah darah sebanyak 13 kali. Bibirnya kemerahan dan bengkak. Pelipisnya juga.

Selain itu di pantat dan perutnya juga bengkak kehitaman, tetapi mengeras seperti batu. Nyawanya pun tidak tertolong dan menghembuskan nafas terakhir pada  Jumat, 20 Oktober 2017, sekitar pukul 09.00 WP di rumah sakit itu.

DPRD Manokwari Angkat Bicara

Dikutip dari cahayapapua.com, Anggota DPRD Manokwari, dari Fraksi Hanura, Elly Wanma meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manokwarimengatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan ataupun klarifikasi resmi dari Dinkes terkait isu tewasnya siswa SD yang beredar tersebut.

Untuk itu, kata dia, Dewan menginginkan Dinkes mengklarifikasi langsung hal ini, sehingga isu tersebut dapat diluruskan.

“Kita akan kordinasikan hal ini dan melalui Komisi terkait kami  akan memanggil Dinkes Manokwari agar mengklarifikasi langsung,” ujar Wanma.

Menurutnya, Dinkes harus segera membendung isu yang berkembang dengan mengklarifikasi secara langsung baik melalui media massa dan Dewan. Dan menurutnya, jika hal ini tak dilakukan segera, maka pencanangan program bebas penyakit kaki gajah dan malaria di Papua Barat, akan dinilai gagal khususnya di Manokwari.

“Informasi yang saya dapat dari masyarakat, yang meninggal ada tiga orang. Salah satunya, warga Kampung Arowi I. Untuk itu penting Dinkes dan jajaran tenaga penyuluhan kesehatan memberikan klarifikasi langsung. Karena sampai sekarang belum ada pernyataan atau laporan yang masuk dari Dinkes, justru kita dapat perkembangan informasi dari publik,” jelasnya.

Wanma juga berharap, atas dugaan insiden yang terjadi tersebut sekiranya menjadi pembelajaran jajaran tenaga kesehatan, agar dapat lebih bijak dan rutin melakukan kordinasi saat mensosialisasikan suatu program kesehatan.

Diketahui, Jumat lalu, warga Manokwari dikejutkan, adanya laporan polisi atas oknum warga dari Kampung Arowi I yang meluapkan emosinya kepada jajaran sekolah dan Puskesmas Pasir Putih, karena menuding anaknya meninggal diduga usai meminum obat anti Malaria dan anti kaki Gajah tersebut.

Pewarta: Arnold Belau