Papua Itu Manusianya…

0
9296

Oleh: Angela Flassy)*

Kami mengawali awal pekan ini dengan menonton film Thor Ragnarok.

Film Thor “Ragnarok” diawali dengan kembalinya Thor ke kampung halamannya, Asgard secara tergesa-gesa. Kutukan Ragnarok akan segera terwujud. Asgard akan lenyap untuk selamanya. Ia ingin bertemu ayahnya. Thor saudaranya, Loki kemudian menemui ayahnya, Odin untuk berdiskusi tentang masalah tersebut. Odin menyatakan Ragnarok tak bisa dicegah. Hela akan datang menguasai Asgard. Odin mengingatkan saat Hela di Asgard, kekuatannya akan tak tertandingi. Odin lenyap. Thor bertemu dengan Hela yang menghancurkan Mjolnir (Palu), senjata milik Thor. Thor lalu tersesat di planet lain dan harus mengikuti kontes gladiator di planet itu. Iapun harus bertanding melawan Hulk, sahabatnya dalam Avengers.

Di saat Hulk terus mendesak, dan tak mampu melawan, Thor mengeluhkan ketidakadaan Palunya sebagai sumber kekalahannya. Namun dalam bayangannya, Odin hadir mengingatkan bahwa Palu, senjata Thor itu hanya alat. Alat membantu Thor untuk memfokuskan kekuatannya. Kekuatan sebenarnya adalah Thor si dewa petir. Bukan palu petir. Thor tersadar dan akhirnya mampu membangkitkan kekuatannya. Thor mengajak Loki saudaranya untuk kembali ke Asgard dan menghancurkan Hela, namun Loki menolak. Thor juga tidak mempercayai Loki yang dirasakan selalu mencoba mengkhianatinya.

Dibantu Hulk dan Valkyrie akhirnya Thor dapat kembali ke kampung halamannya, Asgard. Saat itu rakyat Asgard sudah mengungsi karena ketakutan dengan kekuatan Hela yang sangat ambisius ingin menguasai 9 langit. Thor, Hulk dan Valkyrie bahu membahu melawan Hela. Namun mereka tidak berdaya. Sesuai ramalan, kekuatan Hela yang ternyata adalah kakak perempuan Thor, tanpa batas. Thor kewalahan. Loki datang menolong rakyat Asgard. Namun bantuannya tidak mampu juga mengalahkan Hela. Akhirnya Thor memilih memenuhi ramalan Ragnarok. Menghancurkan Asgard dan memusnahkan Hela. Alasannya, “Asgard itu bukan tempat, tetapi manusianya”.

Pulang dari nonton film, kata-kata Thor benar-benar mengusik saya. “Asgard itu bukan tempat, tetapi manusianya.” Tempat bisa hancur, tetapi manusia tetap hidup. Berapa pun kecilnya populasi manusia, dengan akal budinya, manusia akan bertahan hidup di situasi apa pun.

Apakah Papua akan seperti Asgard?

Potensi sumber daya alam Papua yang besar, luas tanah yang sangat luas, akan menarik banyak orang untuk datang, tinggal, menyerap semua hasil-hasilnya, menguasainya, membeli setiap jengkal tanahnya. Papua dapat dianalogikan sebagai Asgard. Tanah indah elok dan akan memberi penghidupan bagi siapa saja yang ada di tanah ini. Siapa saja akan berlomba-lomba menguasainya. Dengan sistem demokrasi yang kita anut, yang memiliki populasi yang terbesar yang akan menang dan berkuasa. Siapa yang memiliki kekuasaan akan hidup. Minoritas akan terjepit. Menjadi orang Papua bukan pilihan. Menjadi minoritas, apalah daya.

Selama beberapa tahun terakhir ini, orang Papua hidup dalam euforia Otonomi Khusus (Otsus). Meski hanya uang yang diterima, segelintir orang benar-benar memanfaatkannya dengan maksimal. Berlomba menjadi pimpinan di semua bidang, berlomba meraup uang sebanyak mungkin, kemudian melupakan inti dari Otsus: proteksi, afirmasi dan pemberdayaan manusia Papua. Secara kuantitas, harkat hidup manusia Papua sudah meningkat. Banyak OAP yang bertitel magister dan doktor. Rumah orang Papua semakin bagus. Jalan-jalan semakin mulus. Jumlah pengusaha asli meningkat. Tetapi, bagaimana dengan kualitasnya.

Berapa pengusaha yang sudah memegang ISO. Berapa magister dan doktor yang membuat penelitian aplikatif untuk orang Papua. Berapa pemimpin daerah yang memiliki program inovatif menyejahterahkan OAP? Berapa keluarga Papua yang bercerai? Berapa jurnalis Papua yang pernah memenangkan lomba menulis?

Kini, setiap detik puluhan orang luar yang masuk ke Papua. Setahun, dua tahun, ratusan ribu manusia dari dalam dan luar negeri memenuhi tanah kita, Papua. Sedangkan Otsus tempat manusia Papua berlindung selama ini tersisa 4 tahun lagi. Setelah itu, semua pimpinan daerah, legislatif, yudikatif dan eksekutif bisa siapa saja. Ketika Otsus berakhir, segala hak-hak kesulungan akan hilang. Jabatan-jabatan akan beralih. Tanah-tanah akan beralih kepemilikkannya. Sebagian kecil orang Papua yang menikmati Otsus hari ini mungkin akan memiliki rumah. Tetapi sebagian besar orang Papua akan membesarkan anak-anak mereka di petak kos-kosan tanpa halaman bermain atau lapangan bola. Entah esok masih ada pemain bola asal Papua lagi atau tidak.

Begitu juga dengan ruang redaksi. Dengan terlaksananya MEA, jangan heran jika dua tahun lagi ruang redaksi dipenuhi berbagai macam ras. Bahkan, warga negara asing pun akan menjadi kolega kita di dalam ruang redaksi.

Bagaimana dengan kita Jurnalis Papua?

Sekali lagi, Otsus Papua bermakna proteksi, afirmasi dan pemberdayaan manusia Papua. Selama Otonomi Khusus ini berlangsung adakah kalian merasa diberdayakan? Sudahkah menguasai keterampilan menulis? Sudah menguasai bahasa Inggris?

Saat ini jumlah jurnalis Papua sangat minim, tersebar di beberapa media dan umumnya bukan sebagai penentu kebijakan media. Tidak heran, di Papua, bahkan saat Otsus masih berlangsung, isu-isu manusia Papua jauh dari media. Permasalahan orang Papua menjadi haram di media karena dua hal: kepentingan bisnis media (iklan) dan stigma separatis yang diberikan penguasa bagi media yang berpihak pada manusia Papua. Sedangkan media nasional hanya tertarik dengan berita-berita soal penembakan atau PTFI. Tak ada tempat bagi Manusia Papua di media. Lalu, bagaimanakah nasib orang Papua?

Satu hari nanti, Tanah Papua akan hilang. Budaya Papua akan hilang. Hutan, sungai, emas, minyak, nikel dan semua sumber daya alam di Tanah Papua akan beralih menjadi milik orang lain. Saat itu tiba, ingat semua itu hanya Mjolnir (Palu). Kekayaan dan kekuatan sebenarnya ada di kita, manusia Papua.

Entah manusia Papua itu masih hitam dan keriting atau sudah lurus dan putih. Saya yakin, masih ada manusia yang berdiri di atas tanah ini yang namanya diakhiri dengan Belau, Yeimo, Mawel, Wally, Ibo, Yansenem, Mampioper dan sebagainya.

Saat hari itu tiba, bisakah kita memastikan orang Papua sudah berdaya, cerdas, sehat dan mampu bersaing di dunia pekerjaan atau di mana pun juga? Bisakah kita memastikan kualitas manusia Papua melebihi sumber daya alamnya?

Apa yang terjadi hari esok, tergantung apa yang kita kerjakan hari ini. Uang bukan segalanya. Tetapi memberdayakan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang terpenting. Menjadi anak Papua yang berdaya, adalah tanggung jawab pribadi. Dan meningkatkan kualitas manusia Papua adalah tanggung jawab bersama.

Menjadi cepat puas dan merasa diri hebat, adalah racun dalam kehidupan jurnalis Papua. Belajar dan terus meningkatkan kualitas diri dan kelompok harus menjadi prioritas utama.

Sebagai jurnalis, sifat seperti itu seharusnya sangat jauh dari kehidupan kita. Karena setiap hari jurnalis harus berhadapan dengan hal-hal baru dan harus mempelajari hal-hal baru. Sebab itu tidak boleh cepat puas. Pada akhirnya kita tidak takut lagi dengan persaingan dunia kerja, dan tak khawatir ketika teknologi akhirnya menggantikan jumlah manusia dalam ruang redaksi.

Akhir kata, Thor selalu takut Loki mengkhianatinya, tetapi berkali-kali juga Loki selalu membuktikan membantu dan menyelamatkan Thor. Kadang kita susah memahami keluarga, tetapi hanya keluarga yang selalu ada di samping kita saat kita susah. Salam. (*)

)* Penulis adalah redaktur di Koran Harian Jubi dan tabloidjubi.com