Menghormati TPN-PB!

1141

Oleh: Papuan Man)*

Kita harus menghormati TPN-PB dengan menyebutkan identitas mereka dengan benar. Karena mereka adalah tentara milik rakyat bangsa West Papua.

Jangan kita salah kaprah, dan terpengaruh dengan propaganda media Indonesia, bahwa ini adalah kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), yang mencuri, membunuh dan memperkosa.

TPN-PB adalah Tentara Pembebasan Nasional – Papua Barat ( West Papua National Liberation Army (WPLA) . Mereka adalah tentara. Media mereka berperang untuk merebut kemerdekaan bangsa Papua Barat adalah senjata. Medan perang mereka adalah seluruh wilayah tumpah darah West Papua. Mereka berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan negara West Papua, yang memiliki lagu kebangsaan : ” Hai Tanahku Papua” ; dan bendera : “Bintang Fajar”.

Mereka bukan teroris. Mereka tidak pernah menembak atau menyiksa masyarakat sipil. Mereka tidak menganggu kegiatan Kesehatan. Hukum Internasional tentang perang yang mereka taati. Mereka memiliki tanda kepangkatan dan garis perintah serta SOP prajurit TPN-PB.

Peperangan yang terjadi di Timika saat ini adalah sesuai dengan surat Perintah Operasi (PO), yang dikeluarkan oleh Bridjen Kemong, Panglima Kodap III. Perintah melaksanakan amanat dari Jenderal Goliat Tabuni, Panglima TPN-OPM, yang membawahi VII Makodam TPN-PB di seluruh Tanah Papua, yang telah dikeluarkan di tahun 2012. Jenderal Goliat Tabuni diangkat menjadi pimpinan TPN-OPM dengan SK yang diterima pada tanggal 11 Desember 2012 di markas besar TPN-PB, Tingginabut. Jenderal Goliat Tabuni membawahi XXIX Komando Daerah Pertahanan (Kodap) se-Tanah Papua sesuai keputusan Kongres TPN-OPM di Perwoni Biak pada 1-5 Mei 2012.

Musuh mereka jelas. Tentara Republik Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri). Mereka berperang bukan karena tidak ada sekolah, tidak mendapat jatah pembagian saham PT FI, tidak mendapat uang “jasa keamanan” dari PT FI, tidak ada rumah sakit, tidak ada dana Otsus, tidak ada pemekaran, harga bensin mahal, tidak ada jalan, tidak ada pelabuhan, tidak ada bandara, atau harga barang mahal ( baca : kelaparan) dan lain sebagainya.

TPN-PB tidak digaji dan mendapat rumah dinas atau mobil dan motor dinas serta memiliki persenjataan cangih. Mereka berjuang karena nasionalisme Papua. Untuk merebut kedaulatan bangsa West Papua. Untuk menjujung tinggi Proklamasi 1 Juli 1971 di Markas Victori. Untuk membentuk negara West Papua yang benderanya dikibarkan pada tanggal 1 Desember 1961, yang kemudian dianeksasi Indonesia lewat proses Referendum ‘palsu’ di tahun 1969. TPN-PB telah ada dan terbentuk pada tahun 1965, yang bermula di kota Manokwari.

Ini semua dilakukan karena kecintaan akan tanahair Tanah Papua. Karena itu, meski mereka hanya berjumlah 50-an prajurit dan dikurung oleh kurang lebih 1000 pasukan terbaik TNI/Polri di Tembagapura pada hari ini, mereka tetap bertahan dan berperang.

Jenderal Goliat Tabuni adalah binaan Jenderal (Alm.) Kelly Kwalik, di Agimuga, yang kemudian memisahkan diri ke Puncak Jaya dan membangun markas perlawanan tersendiri. Jenderal Kelly Kwalik sendiri, yang disebut sebagai “manusia yang setia terhadap idealisme dan kecintaannya bagi tanah Papua” oleh Uskup Timika Mgr John Philip Saklil Pr di saat Misa Arwah pada 21 Desember 2009, setelah mati ditembak di pinggir rumahnya oleh Densus 88 pada suasana Natal Desember 2009 di Kota Timika, sewaktu dia datang untuk bertemu anak istrinya di rumah. Penembakan ini terjadi sewaktu Jenderal Tito Karnavian baru 1 bulan menjabat menjadi Kepala Detasemen Khusus 88.

TPN-PB adalah jalur lain perjuangan, yang diluar jalus sipil kota dan diplomatik. Meski berbeda, tetapi kita harus menghormati mereka. Diplomat Andy Ayamiseba dari Vanuatu mengatakan pada 4 hari lalu (17-11-2017), bahwa tindakan peperangan mereka, memberikan nilai lebih pada tataran diplomatik, karena mematahkan ” CHEQUE DIPLOMACY ” yang dimainkannya selama ini oleh negara Indonesia.

Salam hormat untuk anda para prajurit TPN-PB!

)* Penulis adalah pemuda Papua.

SHARE