Suara Papua dan Semangat Anak Muda

0
14165

Oleh: Ibiroma Wamla)*

Suara Papua itu media apa? Media kecil tanpa modal yang hanya mengandalkan semangat. Jangan bayangkan Suara Papua seperti media mainstream yang ada di Papua.

Mudah-mudah susah, membangun media di jaman digital ini, ada banyak media yang gugur. Sekalipun itu dikerjakan oleh mereka yang memiliki sumber daya dan menejemen yang bagus.

Suara Papua dengan sumber daya dan menejemen yang pas-pasan, dapat bertahan dengan berita yang terverifikasi ini di luar kewajaran. Bagaimana tidak wajar? Ya, karena modalnya pas-pasan, dan yang mungkin membuat tidak wajar adalah semangat wartawannya untuk terus memberitakan berbagai kasus yang terjadi di Papua.

Sangatlah mengherankan ketika Suara Papua diberitakan sebagai salah satu situs yang diblokir pemerintah. Media yang “kurus dan kaskado” ini ternyata dianggap pemerintah sebagai media yang dapat mengganggu, seperti lalat, nyamuk dan lebah. Padahal banyak media di Papua dan luar Papua yang sangat tidak jelas, tidak memiliki dasar hukum, menyebarkan berita hoax yang justru dapat menimbulkan konflik di masyarakat.

Seperti lalat ketika anda sedang makan, datang lalat dan bertanya, kenapa anda makan enak, sedangkan rakyat menderita. Seperti nyamuk, ketika ada sedang tidur, lalu nyamuk beterbangan di sekitar telinga, itu mengganggu anda yang akan tidur nyenyak. Seperti lebah ketika sedang bersantai, lalu lebah menyengat dan membuat hidung anda bengkak.

Seperti itulah berita yang dimuat Suara Papua, memang berbeda dengan media lainnya. Bedanya pada verifikasi dan sumber informasi. Jika media mainstream memilih sumber informasi dari satu pihak, Suara Papua memilih sumber informasi yang jarang diminta oleh media mainstream.

Bermula dari Oktovianus Pogau (Alm) dan Arnold Belau, dkk, Suara Papua memulai kerjanya sebagai media di tahun 2011, ketika itu saya hanya mengenal Okto Pogau. Anak Papua yang penuh semangat.

Sejak awal 2009, saya mengikuti postingan Okto di blognya, anak muda yang kritis terhadap situasi yang terjadi di Papua. Sekali waktu saya mengomentari tulisan di blognya dan dia pun menanggapinya. Itulah awal saya berkomunikasi dengannya. Setelah itu, kami berteman di facebook dan sering berkomunikasi dengannya.

Bulan Juli 2009, Okto beserta dua temannya mengunjungi saya di tempat kerja. Sebuah kunjungan yang tak terduga. Lalu, kami bercerita kesana-kemari. Ketika saya tanya, kemana dia akan melanjutkan studinya, dia mengatakan akan melanjutkan ke Jakarta.

Di Jakarta dengan pustaka yang berlimpah, Okto “mengisi” dirinya, selain itu juga mengikuti pelatihan menulis. Ia kemudian membangun kelompok diskusi dan membuat seminar. Sekali waktu di tahun 2010, Okto mengirim sebuah media “Majalah Noken”, majalah mahasiswa yang digagasnya, namun tidak sempat terbit.

Okto mengingatkan saya pada para tokoh gerakan Indonesia yang membangun media “alternatif”, atau juga di Timor Leste, Amerika Latin, mereka berfikir kritis dan bergerak sejak usia muda. Menghasilkan tulisan kritis. Terlebih lagi, Okto (untuk anak muda Papua) mampu melepaskan diri dari sekat-sekat kultural seperti suku dan tidak terjebak dalam kelompok tertentu, ia melihat Papua secara luas.

Sepeninggalan Okto, tongkat estafet dipegang oleh Arnold Belau, kawan sejalan yang pas dan juga penuh semangat ingin agar Suara Papua tetap hidup, bahkan beberapa hal yang penting ia lewatkan.

Arnold memikul beban yang ditinggalkan Okto, media yang sudah memiliki pembaca dan selalu ditunggu beritanya, tentu beban ini tidak bisa dipikul sendiri, perlu generasi muda yang dapat melapis sumberdaya yang ada.

Saat ini dengan kekuatan yang masih “kurus dan kaskado” itu Suara Papua mampu naik peringkat dalam situs pencatat peringkat diantaranya Alexa peringkat 2, di similarweb peringkat 3 dan di cutestat peringkat 3 pada November 2017. Ini sebuah kerja yang luar biasa.

Saya yakin dengan semangat, dan secara perlahan fondasi Suara Papua dibangun, suatu waktu media ini dapat menjadi media besar yang kuat secara sumber daya dan menejemen, sehingga dapat bertahan di tengah persaingan media yang ketat ini.

10 Desember 2011 – 10 Desember 2017. Selamat Ulang Tahun Suara Papua yang keenam.

)* Penulis adalah pelajar Adat dan Budaya Papua