DPRP Minta Eceng Gondok di Danau Paniai Dikeruk

1
2597
Eceng gondok tumbuh subur hingga menutupi pinggiran Danau Paniai. (Stevanus Yogi - SP)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Eceng gondok, tumbuhan liar yang kian subur tumbuh di pinggir Danau Paniai, diminta segera dikeruk.

Hal ini diungkapkan John N.R. Gobai, anggota DPR Papua Dapeng Meepago, Sabtu (20/1/2018).

Ia mengungkapkan kenyataan hari ini eceng gondok di danau Paniai jika dibiarkan bisa membawa petaka lebih besar ketika terjadi bencana luapan danau.

“Beberapa muara sungai yang ditumbuhi eceng gondok itu harus dikeruk dengan alat berat. Bikin danau-danau buatan pada saat kemarau,” katanya.

Usulan kedua menurut John, bangun jembatan layang di ruas jalan Enagotadi ke Dagouto.

ads

Diakuinya, danau yang indah kini tampak rusak keindahannya oleh karena beberapa permasalahan yaitu pencemaran lingkungan danau, degradasi lingkungan dan naiknya permukaan air danau.

“Pencemaran Danau Paniai disebabkan adanya limbah padat dan limbah cair yang dihasilkan oleh Pasar Enagotadi yang berjarak 1 KM dari Danau Paniai. Limbah-limbah itu dibawa oleh air sungai yang mengalir dekat dengan pasar, pemukiman, camp kontraktor jalan PT. Modern, oli dan bensin dari motor tempel di Danau Paniai. Oleh karena limbah itu menyebabkan tingginya kandungan organik yang telah mengakibatkan kian tumbuh suburnya eceng gondok,” ungkap John.

Baca Juga:  Demi Lindungi Tanah dan Hutan Adat Marga Woro, Hakim PTTUN Manado Segera Batalkan Putusan PTUN Jayapura

Menurut analisisnya, degradasi lingkungan disebabkan oleh adanya penebangan pohon, pembangunan jalan di pinggiran jalan dan pembukaan lahan untuk kebun dengan sistem tumpang sari di pinggiran danau. Hal tersebut mengakibatkan erosi dan sedimentasi semakin meningkat, sehingga banyak ikan-ikan dan binatang menjadi berkurang bahkan musnah.

“Permasalahan lain adalah naiknya permukaan air danau Paniai, yang disebabkan oleh hilangnya tumbuhan dan pohon penyangga di pinggiran sungai-sungai yang bermuara ke danau Paniai serta pendangkalan danau yang diakibatkan oleh tingginya curah hujan akhir-akhir ini yang menyebabkan banjir di sejumlah kali atau sungai serta adanya pembangunan jalan di pinggiran danau,” bebernya.

Baca Juga:  Ratusan Mahasiswa Papua di Sulut Datangi PTUN Manado Serahkan Petisi Dukungan Perjuangan Masyarakat Adat Awyu

John mengungkakan fakta pada saat banjir, semua batu, tanah, pasir, dan kayu ikut terbawa arus sungai, hingga kian menumpuk di dasar Danau Paniai. “Itu mengakibatkan air di permukaan menjadi naik, sehingga daerah sekitarnya terjadi luapan air danau dan terjadi banjir di daerah sekitar seperti Aikai, Iyaibutu, Kebo, Muye dan Obano,” urainya.

Diakui, hingga kini memang belum ada sebuah institusi yang secara khusus memberikan perhatian kepada Danau Paniai. Perhatian yang ada hanya bersifat partial saat-saat terjadi banjir yang disebabkan oleh hujan dan luapan danau Paniai.

Baca Juga:  Dusun Sagu Maari Milik Marga Klagaf Terancam Hilang

“Danau Paniai itu mempunyai nilai strategis bagi kehidupan bagi masyarakat dan pembangunan daerah,” ujar John.

Berdasarkan hasil kunjungan kerja DPRP serta pantauan sebelumnya, John mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk bangun jembatan layang atau jembatan yang tinggi sejumlah tiga buah di ruas jalan Enaro ke Dagouto agar tidak ganggu jalannya air ke danau agar air tidak meluap.

Selain itu, perlu adanya peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui sosialisasi dan pelibatan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program pengelolaan eceng gondok dan reboisasi.

“Harus juga membangun sebuah forum koordinasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan terkait dengan pengelolaan Danau Paniai,” usulnya.

REDAKSI

Artikel sebelumnyaMasyarakat Adat Una Ukam Tolak Perusahaan Ilegal Keruk Emas Suntamon
Artikel berikutnyaKomunitas Jurnalis Jayapura Pinta Simpati Wabah di Asmat