Setelah Asmat, Warga Pegunungan Bintang Juga Terserang Campak dan Kurang Gizi

0
8896
Warga Pegunungan Bintang di salah satu distrik terisolir. (Ist/SP

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Duka lara masyarakat Asmat akibat anak-anaknya diserang wabah campak dan gizi buruk belum berakhir, kini muncul kasus yang nyaris sama di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, tepatnya di kampung Pedam, Distrik Okbab.

Wabah tersebut baru diketahui pada 16 Januari 2018, dimana puluhan orang di Kampung Pedam meninggal dunia. Laporan awal, 27 orang terdiri dari 4 dewasa dan 23 balita meninggal. Itu sesuai pendataan oleh pelajar dan mahasiswa asal Okbab saat liburan Natal kemarin.

Korban meninggal dunia, menurut laporan itu, diduga terserang penyakit campak dan kurang gizi, sama seperti yang menimpa anak-anak Asmat.

Data tersebut berbeda dengan keterangan dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Menurut sekretaris Dinkes Provinsi Papua, dr. Silvanus Sumule, laporan yang pihaknya terima adalah 23 orang balita di Kampung Pedam meninggal akibat gizi buruk.

Dikutip dari Antara, Sabtu (20/1/2018), Silvanus mengatakan, Dinkes Kabupaten Pegunungan Bintang sudah mengirim tim medisa ke Kampung Pedam untuk melihat langsung kondisi di sana sekaligus memastikan laporan yang disampaikan kelompok mahasiswa peduli Pedam.

Tim meski sudah berangkat, tetapi menurutnya, belum ada laporan tentang hasil yang diperoleh di lapangan. Sebab, kata Sumule, untuk mencapai lokasi harus berjalan kaki semalam. Di sana tak ada lapangan terbang untuk didarati pesawat, kecuali di ibukota Distrik Okbab.

Sementara, ketua mahasiswa dan pelajar Okbab, Literius menjelaskan, data tentang kematian balita itu diperoleh dari pelajar yang baru kembali dari kampung Pedam.

Lanjut Literius, kematian balita itu terjadi sejak 6 Desember 2017 hingga 11 Januari 2018.

Hari Sabtu (20/1/2018) siang, satu tim yang terdiri dari 12 orang telah “terbang” ke Distrik Okbab menggunakan pesawat Pilatus. Tim itu dipimpin Sertu Leo Kantu, dengan 2 orang dokter RSUD Pegunungan Bintang, 4 orang perawat, 2 orang Ahli Gizi dan Hubertus selaku Kepala Bidang P2PL yang juga ketua tim.

Keberangkatan tim ke Okbab setelah mendapat perintah dari Danrem 172/VWY, Kolonel Inf Boni Pardede atas petunjuk dari Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI George E. Supit.

Senin (22/1/2018) pagi, tim kesehatan Korem 172 sebanyak 16 prajurit diterbangkan ke Pedam. Mereka dari Sentani menggunakan helikopter MI, setibanya akan membantu warga yang terkena wabah.

Menurut Dandrem Kol Infantri Bonni Pardede, tim tersebut membawa pula berbagai obat-obatan dan makanan tambahan yang akan diberikan kepada warga Pedam.

Usai mengantar tim kesehatan, helikopter milik TNI-AD itu akan ke Oksibil untuk mengangkut Bupati Pegunungan Bintang yang dijadwalkan melihat langsung kondisi warganya.

Wabah di Okbab mencuat setelah dilaporkan oleh Danramil 1702-01/Oksibil, Kapten Inf Aprin Paembonan kepada Perwira Penghubung (Pabung) Kodam, Mayor Inf Ardiyansyah. Laporan itu kemudian dibenarkan pihak Dinkes setempat setelah dikonfirmasi.

Selanjutnya Danramil segera berkoordinasi dengan Pemkab agar segera dibentuk tim untuk meninjau langsung lokasi wabah sekaligus menyelamatkan warga dari serangan wabah.

Kepala Dinkes Kabupaten Pegunungan Bintang, Jeremias Tapyor membenarkan bahwa sebanyak 25 anak, 23 diantaranya balita dan anak-anak, meninggal dunia di kampung Pedam karena mengalami dehidrasi berat akibat diare, campak dan gizi buruk.

Kata Tapyor, dari laporan yang diterima tim kesehatan yang dikirim ke Pedam, 25 orang meninggal itu sejak Oktober hingga Desember 2017.

Ia menjelaskan, tim kesehatan yang dikirim ke Pedam sudah menyebar ke sejumlah kampung di distrik Okbab untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada warga setempat. Juga mengecek kepastian data kematian itu.

“Tim juga mengobati warga yang masih sakit terutama bayi dan balita yang terkena campak dan gizi buruk,” imbuhnya.

 

REDAKSI