Mewujudkan Ekonomi Dogiyai yang Berdaya

148

Oleh: Andrias Gobai)* 

Siapa bilang pertanian itu tidak seksi atau menarik? Sektor ini banyak menopang perekonomian daerah, seperti Dogiyai, Papua. Sektor pertanian ini, terutama subsektor perkebunan, telah menyumbang lebih dari 40 persen Produk Domesti Regional Bruto (PDRB).

Dogiyai, sebuah kabupaten muda, yang dimekarkan bersama 16 kabupaten lain di Provinsi Papua pada 2008. Luasnya mencapai 4. 237,4 km2, dengan 10 distrik dan 79 kampung. Sebagai kabupaten baru dengan wilayah yang cukup luas, menyimpan potensi yang dapat diandalkan untuk pengembangan sektor pertanian pada skala regional.

Komoditas unggulan tanaman perkebunan Dogiyai antara lain kopi, buah merah dan anggrek. Semua komoditas unggulan yang ada di Dogiyai merupakan modal sosial dalam pembangunan menuju “Dogiyai Bahagia”. Artinya, dengan menanam dan merawat kopi, buah merah, anggrek, akan meningkatkan penghasilan masyarakat karena hasil tanaman itu diolah menjadi produk-produk ekonomis.

Bentang alam di Dogiyai yang cukup bervariasi merupakan areal yang cocok untuk pengembangan ketiga komoditas tersebut. Anggrek, misalnya, pusat budidaya perkebunan anggrek kuning tersebar di Mapia Barat, Piyaiye, dan sebagian di distrik Kamuu Timur dan Kamuu Utara. Sementara, tanaman kopi tersebar merata hampir di sepuluh distrik dan 79 kampung.

Dari potensi tersebut, apa yang menjadi persoalan dalam mengembangkan pertanian di Dogiyai? Saya mencatat sejumlah hal.

Pertama, adanya program instan pemeritah seperti dana Instruksi Desa Tertinggal, dana Bahan Bakar Minyak, dana Rencana Strategi Pembangunan Kampung (Respek) atau Program Rencana Strategi Pembangunan Kampung (Prospek), termasuk dana desa, yang dibagikan tanpa pengawasan dan tidak berpedoman kepada petunjuk teknis (juknis).

Kedua, belum ada sistem pemasaran yang baik. Di awal-awal tanaman kopi berkembang, namun karena tidak dipasarkan dengan baik, produksi kopi di Dogiyai dan Meepago mengalami penurunan. Kini, permintaan kopi Dogiyai semakin luas, baik lokal maupun regional.

Ketiga, persoalan belum tertatanya standar opersional prosedur (SOP) dari hilir hingga ke hulu.

Perlu diketahui bahwa Dogiyai punya komoditas yang bernilai ekonomi tinggi, yaitu kopi, buah merah dan anggrek kuning. Ketiga produk ini punya potensi ekonomi yang baik dan dapat meningkatkan keuangan masyarakat. Hal ini tampak dari penerimaan usaha tani kopi mampu mencapai lima kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk budidaya kopi, sedangkan penerimaan buah merah dan tanaman anggrek mencapai tiga kali lipat dan sebelas kali lipat dari biaya yang dikeluarkan petani.

Kemudian dari segi permodalan, ketiga komoditas tersebut dikelola dengan modal yang masih terbatas. Pemerintah pusat dan daerah perlu membuka kemudahan akses, baik sumber daya manusia, fasilitas, maupun permodalannya, termasuk perluasan lahan pertanian kopi di wilayah Kamuu dan Mapia. Kedua wilayah itu tempat yang tepat bagi pembukaan lahan kopi percontohan atau model untuk mendorong masuknya investor dan perbankan.

Saat ini petani menjual komoditas kopi, buah merah dan anggrek dalam bentuk non-olahan dan tidak dilakukan sortasi. Hal ini membuat harga ketiga komoditas tersebut mengalami fluktuasi dan merugikan bagi petani. Maka, diharapkan ke depan didorong adanya proses pengolahan komoditi untuk menciptakan produk-produk yang punya daya jual lebih tinggi.

Langkah berikutnya, bila pengolahan sudah berkembang baik, dibentuk semacam lembaga penjamin harga dan mutu produksi. Sehingga, produk-produk tersebut akan mendapatkan perhatian dari konsumen dan diserap lebih luas oleh pasar, setidaknya di tingkat lokal. Lalu, dengan demikian dibentuk lembaga pemasaran yang baik agar kopi, buah merah, dan (noken) anggrek, bisa dipasarkan ke lingkup nasional hingga pasar global.

Bagaimana hal-hal di atas bisa diwujudkan? Salah satu caranya melalui peningkatan kapasitas kemampuan para petani, seperti melakukan kegiatan penyuluhan dan pendampingan kepada petani dari masing-masing instansi pemerintahan, dari hilir hingga hulu seperti proses pemanenan dan pasca panen.

Pemanenan kopi, misalnya, sangat dianjurkan cara petik biji merah, sehingga kadar air rendah, kematangan optimal, meningkatkan rendaman dan cita rasa kopi sesuai Modul Good Agriculture practices (GAP) atau budidaya kopi yang baik.

Pelatihan-pelatihan itu bagian dari pemberdayaan para petani. Khusus pertanian kopi pemerintah daerah dan beberapa instansi terkait, harus berkomitmen mewujudkan pelatihan-pelatihan yang didesain dengan baik, mengacu pada kurikulum nasional dan modul pelatihan budidaya yang baik dan berkelanjutan (Good  Agriculture Practices).

Pelatihan ini memperhatikan juga daerah Dogiyai yang dikenal dengan keunikan kopi Arabika, begitu juga dengan pelatihan pengolahan dan pengembangan produksi buah merah dan anggrek.

Hal lain adalah pemerintah daerah (Pemda) harus berkomitmen meningkatkan dan menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung untuk pengolahan ketiga komoditi pertanian tersebut. Pelatihan juga wajib didukung oleh alat-alat kelengkapan, seperti alat prosesing hasil pertanian –yang mengolah hasil mentah ke produk setengah jadi, untuk kopi disediakan berbagai mesin pengupas (pulper) tipe silinder, mesin pencuci tipe batch dan tipe kontinu, dan sebagainya.

Langkah terakhir dalam pengembangan komoditas unggulan Dogiyai, khususnya kopi, segera merealisasikan pembuatan perkebunan kopi di wilayah Kamuu dan Mapia, perluasan lahan dan kebun anggrek bagi pengembangan noken Papua –yang telah diakui secara resmi sebagai warisan dunia oleh UNESCO, dan juga perkebunan buah merah.

Tiga komoditas pertanian: kopi, buah merah, dan anggrek kuning, adalah kekuatan ekonomi yang bisa membesarkan Kabupaten Dogiyai atau wilayah Meepago. Berbagai elemen di Dogiyai harus menyolidkan diri dan saling berkolaborasi untuk meningkatkan persaingan dari wilayah lain seperti daerah Lapago: Jayawijaya, Tolikara, Pegunungan Bintang, dan Puncak Jaya. Dan lebih dari itu untuk mewujudkan masyarakat Dogiyai yang bahagia, bukan hanya menjadi slogan saja, tetapi betul-betul menjadi kenyataan di negeri Meeuwodide bumi Kamuu dan Mapiha. Semoga!

)* Penulis adalah Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dogiyai, mantan Kepala Dinas Perindagkop Kabupaten Dogiyai.