Menanti Performa Mutiara Hitam Rasa Afrika di Lapangan Hijau

0
1410

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Semua perhatian tertuju ke tim berjuluk Mutiara Hitam, Persipura Jayapura, di awal tahun 2018. Penyebabnya adalah tak lain karena tim raksasa sepakbola Indonesia langganan juara ini terancam bubar.

Persipura memang tidak ikut gelaran turnamen pra musim, Piala Presiden 2018. Penyebabnya adalah dukungan dana dari sponsor. Manajemen Persipura kesulitan mendapat sponsor lain karena dua sponsor utamanya lambat memberi kabar.

Akhirnya, Bank Papua dan PT Freeport Indonesia kembali menjadi dua sponsor utama tim ini dengan memberi masing-masing 8,5 miliar rupiah. Persipura akhirnya mulai bersiap menghadapi kompetisi liga 1 Indonesia bermodal 17 miliar rupiah.

Sayangnya, beberapa pemain andalan mereka hengkang ke klub lain.

Bek andalan Persipura, Ronny Baroperay pindah ke Barito Putra. Penjaga gawang paling konsisten, Yoo Jae Hoon pindah ke Mitra Kukar. Para pemain bintang muda lainnya, Osvaldo Haay, Ferinando Pahabol, Nelson Alom dan Ruben Sanadi pindah ke Persebaya Surabaya. Striker Persipura, Marinus Manewar, yang juga striker Timnas Indonesia pindah ke Bhayangkara FC. Terakhir, Addison Alves, striker asing milik Persipura, telah pamit dari Jayapura.

Manajer Persipura, Benhur Tomi Mano menanggapi dingin. Kepada awak media, dia berharap semoga para pemain yang dibesarkan oleh Persipura itu menikmati permainan dan menunjukan kualitasnya di tim-tim dimana mereka bergabung saat ini.

“Semoga pemain-pemain kami yang pindah ke klub baru bisa menjadi pemain utama di klub barunya, kami doakan keberhasilan mereka di tempat yang baru. Tuhan berkati,” kata Mano kepada awak media menanggapi hengkangnya delapan pemain ini.

Manajemen bergerak cepat menindaklanjuti evaluasi Liga 1 tahun 2017. Pelatih kepala yang lama asal Brasil, Wanderley Machado Da Silva Junior dipecat. Manajemen lalu mendatangkan pelatih baru berkebangsaan Inggris, Peter Butler.

Bekerjasama dengan manajemen, Peter Butler bergerak membentuk tim baru.

Hanya ada 14 pemain yang tersisa. Mereka adalah Boaz Solossa, Ian Louis Kabes, Yustinus Pae, Immanuel Wanggai, Richardo Salampessy, Yohanis Tjoe, Dede Sulaiman, Andri Ibo, Muhammad Tahir, Friska Womsiwor, Israel Wamiauw, Eliza Yahya Basna, Alvian Sanyi dan Kevien Rumaikiek.

Peter Butler lalu mulai menyeleksi pemain-pemain muda dari klub-klub lokal di Jayapura dan sekitarnya.

Setelah menggelar seleksi tahap I dan tahap II, ada 19 nama akhirnya dicatat Peter Butler untuk diseleksi selanjutnya sesuai kebutuhan tim Mutiara Hitam. Mereka adalah Renhard Sokoy, Tom Yoku, Spieks Sokoy, Patrick Womsiwor, I Nyoman Ansanay, Papua Komboy, Maurits Hamadi, Rian Flengo Ayomi, Yesaya Kogoya, Marsel, Diego Warbabkay Sibi, Cessa Yarangga, Silas Patay, Tood Rivaldo Ferre, Jose Maniagasi, Gunansar Mandowen, Ronaldo Wanma, Dany Asmuruf dan Jorgen Awi. Siapa saja yang tidak lolos seleksi tahap akhir dan siapa yang akan menjadi bagian dari Mutiara Hitam, akan diumumkan Peter Butler di awal minggu depan.

Persipura juga bergerak cepat mencari pemain asing. Peter memborong semuanya dari Tanah Afrika. Ia ingin satu di posisi striker, satu di lini tengah dan satu lagi sebagai jangkar pertahanan. Yang telah bergabung menjadi bagian dari Mutiara Hitam saat ini adalah Pape Abdoulaye Ndaw, stiker Timnas Senegal. Dua pemain Afrika lainnya masing-masing dari Ghana dan Botswana, akan menyusul.

“Saya sangat senang para pemain yang ada telah kumpul semua. Dengan adanya mereka bisa mengembalikan kualitas tim, dan saya harap seperti Boaz, Manu, Ricardo, Ian dan Yustinus, mereka bisa membantu. Karena saat mereka muda dulu, situasi hampir sama seperti sekarang,” jelas Peter Butler kepada wartawan mengenai situasi Persipura saat ini.

Pelatih rencananya akan mengeleminasi ke-19 pemain seleksinya itu satu demi satu dalam minggu ini.

“Semua pemain seleksi akan dieliminasi sedikit demi sedikit. Rencana saya, dua atau tiga hari ke depan, akan ada pengurangan. Kemudian ada penambahan dua pemain asing lagi, yakni gelandang dan juga stoper (dari Ghana dan Botswana),” urai Peter.

Persipura sudah mulai latihan sejak Senin (5/2/2018) pagi. Para pemain tim Mutiara Hitam berlatih di Stadion Mandala secara resmi dibawah arahan pelatih kepala Peter Butler.

Hanya saja, Asisten Pelatih Mutiara Hitam paling setia, Bapak Mettu Dwaramuri, terancam tidak lagi melanjutkan karirnya bersama Persipura. Pasalnya, peraturan PT LIB sebagai penyelenggara Liga 1 mewajibkan semua asisten pelatih bagi klub kasta tertinggi di sepakbola Indonesia berlisensi B AFC. Sementara Mettu hanya punya lisensi C AFC.

“Untuk posisi asisten pelatih, kembali kami harus melihat konfirmasi dari PT ILB. Informasi yang didapat, asisten pelatih harus berlisensi B AFC. Pak Mettu tetap masuk prioritas utama, tetapi tentu tergantung putusan akhir administrator kompetisi,” kata media officer Persipura, Bento Madubun.

Untuk saat ini, Peter Butler didampingi oleh pelatih fisik Lydio dan pelatih kiper Alan Haviluddin dan masih mencari orang yang pas menutupi slot asisten pelatih yang kosong. Dengan demikian, walau terlambat mulai mempersiapkan diri menghadapi Liga 1 2018, Persipura dapat dipastikan sudah siap mengarunginya.

Seperti apa performa tim kebanggaan orang Papua ini di tangan pelatih baru nanti? Terlebih, karena skuad Persipura kini akan didominasi mutiara-mutiara hitam muda itu berkolaborasi dengan mutiara-mutiara hitam Afrika, sama-sama hitam. Apakah permainan Persipura akan tetap indah seperti Cenderawasih Papua menari dan membobol gawang lawan tanpa ampun segarang Singa Afrika, kita lihat saja nanti di lapangan hijau.

Pewarta: Bastian Tebai