Akhiri Konflik di Mimika, Legislator Papua Minta Segera Damai

0
1692

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Legislator Papua minta kepada semua pihak untuk segera hentikan konflik di Kwamki Narama, Kabupaten Mimika. Konflik dan perang hanya membawa kerugian di semua pihak, termasuk warga pribumi dan semua rakyat di Kota Dollar yang selama ini merasa sudah tidak nyaman.

Seruan damai disampaikan John N.R. Gobai, Anggota DPR Papua menyikapi masih berlanjutnya konflik horizontal tersebut.

“Segera berdamai. Harus ada solusi atas konflik berkepanjangan di Kwamki. Semua pihak perlu terlibat tuntaskan,” ujarnya kepada media ini, Jumat (16/3/2018).

Ia dengan tegas menyatakan untuk hentikan konflik yang berujung korban jiwa.

“Kepada kita semua orang Kristen, Protestan maupun Katolik, wajib baca Kejadian 4:9-11, kisah tentang Kain dan Habel. Dengan dasar firman ini, saat ini Allah sedang bertanya dalam hati para pembunuh di Mimika, dimana saudara-saudara yang kalian bunuh karena darah mereka sedang berteriak kepada Allah. Sama seperti darah Habel berteriak kepada Allah ketika Kain membunuhnya. Mari, kita stop dengan saling bunuh,” ungkapnya.

Ketua Dewan Adat Daerah Paniai yang juga pengurus DAP ini ingatkan, hanya Tuhan yang mempunyai hak mencabut nyawa orang.

“Dosa yang anda lakukan ini akan meliputi anak cucumu. Dalam adat saya suku Mee, darah orang yang dibunuh akan selalu meliputi perjalan kehidupan anak cucu,” ujarnya.

John mengungkapkan, “Siapa Kain dalam konteks kasus Kwamki, adalah mereka dari suku mana saja, orang Papua dan non Papua, yang membunuh dan membantu mereka untuk membunuh serta mengajarkan mereka cara-cara membunuh dengan menculik dan sabotase orang di jalan dengan mobil.”

Lanjut John, “Sadarlah saudara-saudaraku, jangan kita membuat film paling jijik dalam kehidupan ini. Sadarlah bahwa orang gunung di Papua moyangnya datang dan berasal dari satu tempat yang sama.”

Untuk itu, John mengajak semua pihak segera akhiri peperangan antara saudara di Timika.

“Saya mengajak kita untuk terus bersuara untuk kedamaian di Papua, biarlah kita hidup damai dan tenang sebagai saudara di negeri emas ini. Kepada yang berkonflik, saya minta berhenti saling dendam dan membunuh. Kepada pemerintah, segera berhenti bayar kepala karena hanya akan membuat pelaku tambah senang lantaran mereka dibantu. Biarkan hukum positif mengganjar pelaku sesuai perbuatannya,” ungkap John.

Ia juga menyatakan, dendam dan pembunuhan tidak membawa orang ke Surga pada akhir hidupnya.

“Mari tinggalkan saling membunuh dan kita bekerja dengan baik di Tanah Papua tanah yang kaya, kita semua akan sedih ketika orang Papua berkurang dan non Papua lebih banyak di tanah ini. Saya khawatir, sebuah ramalan orang tua suku Mee akan terjadi di Tanah Papua.”

John khawatir, situasi tersebut membuat orang asli merasa asing dan takut hidup di tanah sukunya. Jangan mengusir orang asli dengan perlakuan yang tidak terpuji dan tidak manusiawi, seperti saat ini orang Amungme dan Kamoro, merasa tidak nyaman di atas tanah leluhur sukunya sendiri.

“Kita harus menjadi pembawa damai, bukan justru sebaliknya,” kata John.

Emus Gwijangge, Anggota DPR Papua lainnya pun sependapat. Kata dia, warga Papua di Kwamki Lama tidak boleh berkonflik apalagi sampai jatuh korban jiwa.

“Konflik di Kwamki itu sampai sekarang masih terjadi. Informasi yang saya dapat, kemarin ada lagi korban dari kedua kubu yang terlibat konflik di sana. Saya harap pihak terkait, terutama bupati Nduga, Mimika dan Puncak bersama DPRD-nya segera selesaikan kasus itu,” kata Emus, Selasa (13/3/2018) di Jayapura.

Emus menyayangkan masih berlanjutnya konflik dan perang di Kwamki. Jika terus berlanjut, ia sayangkan makin berkurangnya jumlah orang Papua akibat tewas dalam konflik tersebut.

Selain dari pemerintah daerah dari tiga kabupaten, para tokoh gereja juga diharapkan untuk aktif menyerukan perdamaian dalam pelayanannya dari mimbar gereja. Begitupun tokoh masyarakat dan tokoh adat, harus berperan aktif dalam proses penyelesaian konflik horizontal di Kwamki Narama.

Ia minta penjabat gubernur dan bupati Mimika harus fokus urus rekonsiliasi menuju perdamaian mengakhiri konflik berkepanjangan.

Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar saat menerima perwakilan mahasiswa peduli konflik horizontal di Kwamki Narama, Selasa (13/3/2018) mengatakan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin dari aspek penegakan hukum maupun pendekatan persuasif untuk mengajak masyarakat mengakhiri konflik dan menciptakan damai sebagai sesama orang Papua.

Kapolda akui, penegakan hukum sedang berjalan dengan memeriksa 24 orang. Sebagian besar dari mereka, kata Rafli, diperiksa terkait kepemilikan senjata tajam, panah dan lainnya.

Beberapa langkah lain yang dilakukan aparat keamanan di Kwamki, kata Rafli, Kapolres dan Dandim Mimika bertemu para tokoh adat setempat. Pekan depan, Polda Papua akan undang para tokoh dari wilayah itu termasuk berbagai pihak terkait untuk menggali akar persoalan dan solusi penyelesaiannya.

“Kami mau segera selesaikan konflik dan masyarakat di Kwamki harus kembali hidup damai seperti dulu lagi,” kata Nelson Tenbak, ketua solidaritas mahasiswa Mimika, usai bertemu Kapolda Papua.

Nelson didampingi belasan mahasiswa, menegaskan, pihaknya mendukung upaya membuka ruang dialog dengan mengundang semua tokoh masyarakat, adat, agama, dan pemerintah.

“Pemprov Papua harus buka ruang dialog bersama semua pihak supaya cepat selesaikan konflik. Pada kesempatan itu harus ada satu aturan yang wajib dipatuhi semua agar kasus sama tidak terulang di kemudian hari,” ungkap Nelson.

Pewarta: CR-4/SP
Editor: Arnold Belau