Hesegem: Miras dan Narkoba Sedang Habiskan OAP

0
8858
Direktur Eksekutif YKKP, Theo Hesegem. (Dok SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Dampak mematikan dari minuman keras (Miras) serta narkotika dan obat-obatan berbahaya (Narkoba), termasuk Aibon, sungguh sangat terasa di tengah kehidupan orang asli Papua (OAP). Dampaknya kian menuju titik mengkhawatirkan, bahkan bisa memusnahkan satu generasi emas.

Itu sebabnya, Theo Hesegem, aktivis HAM Papua di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, sangat marah dengan kian maraknya Miras, Narkoba, dan Aibon.

Ketua Solidaritas Pemberantas Miras dan Narkoba Kabupaten Jayawijaya ini marah karena dampak dari barang-barang haram tersebut sudah tingkat parah.

“Kita sadar dan tidak sadar di Tanah Papua ribuan orang telah meninggal dunia hanya gara-gara minuman keras. Kini sampai sekarang sedang berlangsung angka kematian terus meningkat,” ungkapnya melalui artikel yang dikirim ke redaksi suarapapua.com, Jumat (16/3/2018).

Lanjut Theo, “Kita belum ketahui berapa orang yang meninggal di setiap kabupaten dan kota. Tetapi, kematian selalu ada saja hampir setiap tahun dan setiap minggu bahkan setiap hari. Jumlah OAP sudah semakin sedikit di atas tanah ini.”

Hal tersebut menurutnya sangat memprihatinkan karena jika tidak segera diatas, maka akibat lebih besar adalah punahnya OAP di atas tanah leluhurnya sendiri.

“Kita jarang mendengar kalau orang-orang non Papua meninggal akibat miras atau tabrak setelah konsumsi miras. Dalam peta kami, kami temukan beberapa titik tempat miras adalah dijual oleh orang-orang dari non Papua. Ada juga orang asli Papua.”

Theo mengungkapkan, “Saya yakin orang-orang ini punya visi khusus, merancang bagaimana orang Papua bisa dibunuh dengan cara minuman keras. Saya tidak menuduh, tetapi ini analisa saya. Kami sangat senang kalau orang Papua dididik dengan cara yang baik, seperti di Indonesia lain.”

Tak ada larang, lanjut dia, siapapun warga negara boleh berkunjung atau bahkan berdomisili di seluruh Tanah Papua. “Tetapi kalau orang datang dan melakukan aktivitas kerja yang berdampak buruk, misalnya seperti minuman keras, oknum tersebut memiliki niat yang buruk untuk membunuh masyarakat Papua,” tudingnya.

Menurut data dari Theo, minuman yang namanya Cap Tikus tidak pernah ada di Wamena. “Miras jenis ini hanya ada di Manado. Dan itu kenyataan. Saya pernah usir dari rumah kos 7 pintu di jalan SD Percobaan Wamena itu semua orang Manado,” ungkapnya membeberkan pengalaman beberapa waktu lalu.

Meski demikian, ia sayangkan masyarakat Papua yang tidak sadar kalau miras itu mematikan bahkan nyawa taruhannya.

“Kita bukan orang yang bodoh atau tidak mampu, sebab Tuhan menempatkan orang Papua, hitam kulit rambut keriting itu, punya maksud-maksud tertentu dan arti yang sangat luas. Hanya kita sendiri tidak memanfaatkan atau mengelola maksud Tuhan yang baik itu,” refleksinya.

Theo mensinyalir, kian maraknya miras juga salah satu bentuk tindakan kekerasan dengan cara yang sangat halus untuk menghilangkan etnis ras Melanesia.

“Oleh karena itu, semua orang punya kewajiban untuk berperang melawan miras dan narkoba, termasuk aibon,” tegas ketua Jaringan Advokasi Hukum dan HAM Pegunungan Tengah Papua ini.

Ia minta Gereja tidak boleh diam. Gereja harus peduli dengan realita tragis ini. “Ingat, orang-orang yang meninggal adalah umat Tuhan dan punya hak hidup di atas tanah emas ini.”

Ia juga serukan untuk segera berhenti dengan minum miras.

“Kepada tukang konsumsi minuman keras dan pemabuk, terkutuklah kamu karena Tuhan sangat membenci terhadap tindakan yang anda lakukan. Orang pemabuk tidak akan mendapat kerajaan Allah. Baca I Korintus 6:10 dan Galatia 5:21. Oleh karena itu, kamu tidak kudus di hadapan Tuhan Allah, dan anda tidak akan memikiki tempat yang kudus yang disiapkan oleh Tuhan Yesus,” ungkap Theo.

Theo mencatat satu hal aneh selama ini, orang-orang pembuat minuman beralkohol tersebut sering mengaku diri punya gereja dan punya Tuhan. “Tetapi mereka tidak sadar bahwa minuman keras yang mereka buat dan diberi orang minum adalah menghancurkan bait/rumah Tuhan,” tandasnya.

Pewarta: CR-4/SP
Editor: Arnold Belau