Telur yang Menetas di Tanah Damai: Resolusi Konflik dari Dalam OAP

0
2048

Oleh: Yosef Rumaseb)*

Bulan Maret 2018 ini kita menyaksikan tiga telur perdamaian yang menetas oleh proses dari dalam. Bukan karena proses paksaan dari luar.

Telur perdamaian pertama siap menetas di Timika. Merespon konflik horizontal antar suku yang sudah 7 tahun berlangsung dan makan banyak korban di Kwamki Lama, Timika. Saat ini proses resolusi konflik sedang berlangsung. Salah satu solusi hasil karya anak-anak Amungme adalah melahirkan Perda Larangan Perang Suku yang memayungi penegakkan hukum misalnya untuk menangkap dan menghukum para kepala perang yang memimpin perang suku. Dengan menangkap dan menghukum para kepala perang, diyakini anak buah akan tenang.

Telur perdamaian kedua dinisiasi oleh Pemkab Jayapura merespon protes dari Persekutuan Gereja-Gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ) menyoroti pembangunan Masjid Agung Al Aqsha Sentani. Dialog antar umat beragama, sebagai sesama saudara, berlangsung mencari solusi.

Dan, telur perdamaian ketiga adalah respon baik umat Kristen maupun umat Islam di Tanah Papua atas Dakwah Islamic yang dibawah oleh Ustadz Fadlan Garamatan yang menjadi viral di media sosial facebook yang isinya menghina sesama saudaranya orang Papua. Beragam respon disulut oleh dakwah Ismiah sang ustadz. Umat Kristen tersinggung marah dan merasa dihina dan memperkarakan kasus ini ke polisi. Tokoh Muslim Papua menyatakan solider dengan umat Kristen dan menyebut dakwah sang ustadz sebagai kebohongan yang menghina umat Kristen Papua dam tidak mencerminkan ajaran Islam.

Ketiga hasil olah daya dan akal orang Papua di atas menunjukkan kedewasaan dalam mengelola (potensi) konflik di Tanah Papua. Kematangan dalam melakukan resolusi konflik dari dalam. Tidak butuh FPI untuk bela Islam di Tanah Papua. Tidak harus lagi kekuatan bersenjata digunakan untuk mengatasi konflik di Timika.

Pada 20 Maret 2018, saya membuat status yang saya ringkas dari renungan ciptaan anonim. Bunyinya demikian:

“Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar, maka kehidupan di dalam telur berakhir. Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka kehidupan baru telah lahir. Perubahan mendasar selalu dimulai dari dalam.”

Itulah yang sedang terjadi di Tanah Papua, Tanah Damai, setidaknya pada bulan Maret 2018 ini. Beberapa butir telur resolusi konflik telah menetas dalam rangka mewujudkan Papua sebagai Tanah Damai.

***

Ada yang mengatakan bahwa Papua seharusnya dijuluki Tanah Konflik atau Zona Konflik, sementara pandangan umum sebagai arus utama (mainstream) mengusung konsep Papua sebagai Tanah Damai.

Julukan Tanah Konflik menjelaskan realita banyaknya konflik berdarah yang sudah terjadi maupun berpotensi terjadi di Tanah Papua dengan berbagai penyebab.

Julukan Tanah Damai menjelaskan cita-cita bersama yang mau dicapai. Konflik menjadi musuh bersama, dan damai menjadi kawan idaman.

Konflik yang dilakoni OAP ibarat telur yang sudah menetas dan beranak pinak, sementara damai yang bersumber dari hasil daya dan karya dari dalam OAP pada banyak aspek masih merupakan embrio dalam telur yang sedang berproses untuk menetas.

Damai atau Terus Berkonflik: Nasib Ditentukan Pikiran. Dalai Lama, mengajarkan bahwa nasib ditentukan oleh pikiran.

Saya kutib ajaran Dalai Lama, sebagai berikut:

pikiranmu akan menjadi perkataanmu
perkataanmu akan menjadi perbuatanmu
perbuatanmu akan menjadi kebiasaanmu
kebiasaanmu akan membentuk karaktermu
karaktermu akan membentuk nasibmu

Nasib Tanah Papua ke depan, apakah akan langgeng sebagai Tanah Konflik ataukah menjadi Tanah Damai, ditentukan oleh pikiran dan usaha para pemangku kepentingan. Terutama pikiran para pemimpin baik pimpinan adat, agama, pemerintah (termasuk TNI dan Polri).

Setidaknya tiga Telur Perdamaian sudah menetas untuk membuktikan dari dalam bahwa Orang Papua mampu mengurusi diri sendiri dalam proses resolusi konflik. Suatu perubahan dari dalam yang menetaskan perubahan dan kehidupan baru. Dan, semoga makin banyak lagi telur perdamaian yang menyusul menetas. Makin banyak dan makin banyak. Yes we can, kata mantan Presiden AS Barrack Obama.

Manokwari, 23 Maret 2018

)* Penulis adalah anak kampung, tinggal di Biak.