Ini Kronologi Penembakan Aparat di Dogiyai

0
149

DOGIYAI, SUARAPAPUA.com — Ini kronologi penembakan aparat keamanan yang bertugas di kabupaten Dogiyai,terhadap dua pemuda bernama Gero Goo dan Rudi Auwe, yang dilaporkan Benny Goo.

Jumat (6/4/2018) malam, pukul 20:00 WIT. Beberapa pemuda dari Kampung Mauwa dan Dikiyouwo duduk bercerita di Rumah milik Jufri Dogomo, seorang Staf Honorer di Sekretariat KPUD Dogiyai, yang terletak disamping Jembatan Kali Mauwa.

Dari mereka ada 3 Pemuda yang minum Minuman Keras namun tidak keluar rumah. Tiba-tiba, saat tuan Rumah hendak memasak air untuk memutar kopi susu buat yang lainnya, dari atas jembatan kali Mauwa terdengar bunyi tembakan senjata sebanyak tiga kali.

Mendengar itu, semua pemuda yang berada dalam rumah kaget dan langsung keluar untuk memastikan penyebabnya.

Sesampainya di atas Jembatan, Polisi terus membuang peluru keatas dan menyuruh mereka bubar. Karena bunyi tembakan terus menjadi-jadi masyarakat yang berada di rumah lain juga berdatangan.

Masyarakat menjadi marah karena penyebabnya tidak ada. Polisi dan pemuda bersiaga untuk bertikai. Melihat itu Kepala Kampung Mauwa meminta masyarakat untuk bubar karena dia juga tidak tahu penyebabnya. Tetapi para pemuda menggubris dan memilih tetap bertahan diatas jembatan dan di jalan raya.

Polisi lalu pergi ke Moanemani (ibukota kab Dogiyai). Satu jam kemudian sekitar pukul 21:30 WIT, tim gabungan (Polisi, Brimob dan Timsus) datang menyerbu para pemuda yang ada dengan menggunakan gas air mata. Para pemuda lari dari serangan tersebut.Namun dua pemuda atas nama Geri Goo dan Rudi Auwe gagal melarikan diri setelah terkena gas air mata. Mereka dua kemudian ditembak peluruh tajam untuk dilumpuhkan.

Geri Goo (23), tertembak di punggung belakang lurus dada dan paha. Setelah jatuh tidak berdaya Geri Goo diseret diatas jalan aspal yang menyebabkan punggung, kaki dan tangannya tergores. Kemudian Rudi Auwe ditembak di kaki kanan tetapi berhasil melarikan diri.

Geri Goo yang tergeletak dibawa ke Puskesmas Moanemani untuk di obati. Namun dokter di Puskesmas tersebut menolak dengan alasan peluruh kena pembuluh darah dekat paru-paru sehingga harus di operasi untuk keluarkan peluruh.

Setelah mendapatkan rujukan dari dokter tersebut, korban dibawah turun anggota Polisi ke Nabire, pukul 24.00 Wit.

Pewarta: Stevanus Yogi