Inilah Warisanmu (4); Jangan Benci Dirimu

0
490

Oleh: Mikael Tekege)*

Tak mampu senyum apalagi tertawa mendengar tutur kata si tua malam itu di Emaawaa. Meski ia merangkai kata yang membuat aku tertawa. Aku menghayati setiap kata, aku tahu ada sesuatu dibalik setiap kisah penderitaan, tersembunyi harapan akan kehidupan abadi, canda tawa kebahagiaan, dan sinar hidup generasi muda.

Jangan Benci Dirimu

Anakku, lihatlah dirimu dari ujung rambut sampai ujung kuku. Tiada lain yang kamu akan lihat, selain hitam kulit dan keriting rambut. Kita diciptakan memang demikian adanya sejak awal mula perkembangan peradaban bangsamu ini.

Anakku, kita adalah karya Pencipta alam semesta yang begitu luas ini. Kita patut syukuri dan  berterimakasih kepadaNya karena Dialah pemilik nafas hidup kita ini. Kita juga diberikan segala-galanya untuk menata hidup kedepan, dan tiada yang kurang dalam hidup kita.

Anakku, kita diberikan pikiran untuk menghasilkan sistem keteraturan sosial di semua lini kehidupan.

Jika ada sesuatu yang kurang dalam kehidupan ini, aku pasti orang pertama yang mengatakan “Tuhan itu tidak adil”. Tetapi tidak, semuanya lengkap.

Anakku, tantangan kamu saat ini adalah bagaimana mempertahankan dan memperbaharui semua itu untuk mencapai etika keteraturan baru sesuai dengan konteks hidupmu.

Anakku, jangan benci dan mengutuk dirimu dan semua yang telah diwariskan kepadamu. Tugasmu termasuk dia, mereka dan bangsamu adalah memperbaharui sesuai dengan perkembangan zaman, bukan membenci dan meninggalkan yang asli.

Anakku, keaslian itu menyimpan harkat dan martabatmu yang tak bisa kamu lihat dengan mata, selain merasakan dengan hati.

Anakku, penderitaan yang diserang melalui hati itu lebih sadis daripada tertembus timah panas dan pedang di dadamu. Karena itu akan membuat batin ini tersiksa hingga ingin mengakhiri waktu.

Anakku, kepalsuan identitasmu tak akan pernah membuat dirimu kuat, selain mengarahkan dirimu di ambang pintu kehancuran. Bangkit, berdiri dan melangkahlah atas dasar fondasi asli yang telah diwariskan kepadamu karena itu akan membuat kamu kuat dalam menghadapi tantangan hidupmu.

Anakku, jangan terlalu terdoktrin dengan perkembangan dan kemajuan modernitas yang sangat bertentangan dengan konteks hidupmu. Perkembangan dan kemajuan itu memiliki tahapan yang perlu anda lewati, bukan langsung saja berusaha sejajarkan dengan konteks yang ada, karena engkau akan terlihat seperti manusia tak beretika dipandangan hidup kaummu.

Anakku, satu hal yang harus engkau sadari adalah perkembangan dan kemajuan itu dimulai dari barat ke timur, bukan sebaliknya. Bagian barat telah melewati tahap atau masa-masa pahit untuk mencapai pada kemajuan ini, sehingga kadang sesuatu yang dilarang oleh norma dan aturan hukum adat dalam kehidupan kita bukanlah persoalan bagi mereka.

Karena itulah, anakku, jangan lompat jauh dengan berusaha sejajarkan hidupmu dengan gaya hidup orang barat. Kamu harus mengikuti dan menjadi penggerak dalam tahapan perkembangan dan kemajuan untuk memperbaharuinya. []

Bersambung ke bagian kelima – Tidak Cukup

)* Penulis adalah salah satu penulis buku “Anomali Negara, Kawin Paksa Burung Garuda dengan Cenderawasih”

print