Inilah Warisanmu (5); Tidak Cukup

0
234

Oleh: Mikael Tekege)*

Masih setia mendengar tutur kata si tua malam itu di Emaawaa.

Tidak Cukup

Anakku, ada yang salah dalam perjalanan hidup bangsamu pada masa lalu dan kesalahan itu sengaja dilakukan oleh penguasa negeri barat untuk mengambil tanah dan kandungannya, hutan, sungai, batu, makanan dan sayuran, ternak dan semuanya. Untuk kepentingan itulah yang membuat hidupmu diporak-porandakan, bahkan mencabut nyawa tak berdosa.

Anakku, saat ini banyak orang menjalani hidup ini tanpa ayah, ibu, anak, bahkan semua tinggal cerita bahwa mereka pernah hidup di kampung ini. Jangan bertanya mengapa hidup seperti ini, karena jawaban itu sudah tidak asing bagi semua orang di dunia ini, termasuk kamu.

Anakku, sekarang semua sedang diambil dan dilakukan juga dijalankan entah kapan akan berakhir. Kamu harus tahu jawaban akhir sebuah penderitaan dengan melibatkan diri dalam perjuangan ini. Sekalipun penderitaan ini diakhiri dengan sebuah kata pembangunan dan kesejahteraan, tetapi perjuangan tetap dilanjutkan karena luka batin akan tetap tak terobati.

Sekian juta orang tak berdosa korbankan nyawa mereka, menghancurkan hidup bangsamu, mengambil semua yang dimiliki oleh bangsamu itu bukan karena mereka mencuri atau mengemis pembangunan dan kesejahteraan, tetapi karena harga diri. Anakku, tidak cukup dengan kata damai dan sejahtera untuk melunasi pengorbanan dalam perjuangan ini.

Anakku, harkat dan martabat manusia tak terhingga harganya. Damai dan sejahtera hidup bersama kaum yang tidak kita kenal ini, bukanlah yang dikehendaki oleh para pendahulu. Hidup damai dan sejahtera tanpa kaum ini yang dikehendaki. Pengorbanan dan penderitaan diawali dengan sebuah kata “freedom”, maka freedom bagi bangsamu adalah jawabannya.

Banyak orang mati ditembusi timah panas dalam tubuhnya karena berusaha mempertahankan kedaulatan, maka kedaulatan harus di tangan bangsamu, itu akan memuaskan bagi pejuang di alam lain yang telah lebih duluan pergi. Kekuatan sebesar apapun dari musuh harus dikalahkan dengan sebuah kata “cinta”. Karena itu, cinta adalah modal awal dalam perjuangan.

Cinta terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, suku bangsa dan tanah air. Atas dasar cinta memahami dan mengetahui persoalan apapun yang ada di dalamnya, kemudian membuat komitmen untuk menjawab persoalan tersebut. Tujuan dari semua hanya satu: bebaskan bangsamu dari penderitaan ini untuk mengatur dan mengurus diri sendiri, karena masa depan hidupmu dan bangsamu ada di tangan kaummu tertintas itu sendiri. []

Bersambung ke bagian keenam – Kuatkan Akar

)* Penulis adalah salah satu penulis buku “Anomali Negara, Kawin Paksa Burung Cenderawasih dan Garuda”