Seni yang Diperkosa

0
5724

Oleh: Miquiel)*

Ketika seseorang dalam keadaan yang kesal/tersakiti/gundah, ia membutuhkan suatu kekuatan untuk bangkit. Oleh karena itu, untuk mencapainya, ia dapat mengungkapkannya melalui banyak cara. Melalui puisi, lukisan, nyanyian, dan bahkan melaui tarian.

Seperti penyair-penyair yang tak asing bagi kita yaitu Pramudya Ananta Toer, Widji Tukul, Aprila Wayar, dll. Mereka menjadikan kata untuk mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kehidupan sosial-politik dan berbagai aspek lainnya. Black Brothers, Ebiet G. Ade, dll yang lagu-lagunya sampai saat ini masih menggores hati para pendengarnya. Mambesak yang legendaris yang hingga kini masih sulit untuk dilupakan. Karya mereka tak mudah dicopot dari telinga orang Papua pada umumnya. Hal seperti ini menjadi tak mudah luput dari kehidupan masyarakat karena merupakan ungkapan hati yang paling dalam dari penciptanya. Sehingga sebagai manusia sehat akalnya akan merasakan uangkapan-uangkapan itu menyentuh pendengar jika direnungkan.

Sebagai bagian kekhasan manusia, akal budi akan mengarahkan hati untuk tertarik pada kebaikan. Contoh yang menonjol ketika mendengar musik yang bernuansa rohani, penikmatnya akan merasakan kehadiran Tuhan jika sepenuh hati direnungkan. Tentu, penyairnya menuliskan dengan sepenuh hati untuk menggambarkan kebaikan-kebaikan Tuhan. Hal itu akan tergambar tentu juga sebagai protes terhadap persoalan sosial yang menyimpang. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak terlepas dari perasaan manusia yang paling dalam untuk menggambarkan sejatinya manusia adalah baik. Sehingga, uangkapan tersebut mengarahkan orang untuk menyadari nilai kebaikan itu sendiri.

Pada hakikatnya manusia berkodrat baik. Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal budi. Itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Akal budi mengarahkan kepada kebaikan. Kemudian akan mengarahkan manusia untuk menuju kepada kemanusiaan yang sejati. Sehingga seni yang merupakan ungkapan dari dalam jiwa manusia mengarahkan kepada kebaikan. Seni juga menjadi jembatan untuk menggambarkan kebaikan dengan mengungkapkan kekesalan yang dilakukan oleh orang yang terjebak dalam kebencian. Sehingga kesadaran itu sungguh tercipta sebagai manusia.

Akhir-akhir ini keaslian seni itu sendiri kian punah. Melalui pengungkapan yang salah kaprah membawa manusia kepada pengungkapan yang amoral (tidak sesuai dengan moral). Selain itu, seni sebagai senjata untuk mengubar kebencian. Misalnya memaki/meremehkan melalui lagu (diss atau disrespect). Contoh lain, menari erotis (menampilkan tarian yang mencoreng nilai kemoralan), dan lain sebagainya.

Sehingga, hakikat dasar seni itu sendiri diperkosa. Selanjutnya, kebencian kian tumbuh karena saling berbalas makian, saling “membayar” (menampilkan karya saling membalas) dengan keinginan menjadi populer. Sehingga jalannya menimbulkan kesalahpahaman yang menyelimuti hakikat kebaikan itu sendiri.

Sebagai manusia yang berakal, kita harus menyadari hakikat kita sebagai manusia. Tujuan seni bagi kita adalah jalan untuk mengarahkan kita kepada kebaikan sejati. Menemukan diri kita yang sesungguhnya. Sehingga, seni menjadi ungkapan kegembiran kita. Seni juga menjadi pengarah dalam menemukan hakikat kita sebagai manusia.

Akhir dari ini, saya mengajak para aktivis seniman, pengamat, dan juga penikmat seni, mari saling mendukung dan saling mengingatkan akan seni sebagai sarana untuk menemukan diri kita. Menjadikan seni sebagai jalan untuk mencapai tujuan kita sebagai manusia yang pada hakikatnya baik. Sehingga, melaui penciptaan seni yang bermakna positif itu akan menuntun kita kepada arah yang benar untuk mencapai kebebasan yang hakiki.

)* Penulis adalah pengamat seni yang kuliah di Yogyakarta