Inilah Warisanmu (9/Habis); Doa Adat

0
6876

“Bagaimana cara menjaga keselamatan hidupmu, keluargamu, keturunanmu, margamu, sukumu, bangsamu? Rekonsiliasi adalah hal penting dan mendesak. Rekonsiliasi bisa kamu lakukan melalui doa adat.” Tutur Bapak Tua di Emaawaa pada malam itu.

Oleh: Mikael Tekege)*

Anakku, jaman selalu berubah dari waktu ke waktu. Persoalan dan tuntutan hidup pun semakin meningkat. Penderitaan dan pengorbanan selalu menyertai jejak hidup kita. Ini kenyataan yang tidak mungkin dihindari siapa pun dia.

Anakku, kita diarahkan oleh perkembangan jaman ini untuk berpandangan jauh kedepan sambil memaknai realitas sosial ini. Semua itu, bisa membuat kamu kehilangan etika, jati diri dan peradaban keturunan, marga, suku dan bangsa.

Anakku, semua itu akan bisa diatasi jika kamu siap menghadapi semuanya yang akan mengarahkan manusia pada ambang kehancuran. Untuk itu, anakku, harus memperkuat doa adat untuk mendekatkan diri pada pelindung (Ipuwe), leluhur, alam, dan untuk melepaskan diri dari dosa warisan.

Anakku, mendekatkan diri pada pelindung, leluhur, dan alam supaya kita bisa dituntun dan dilindungi dalam menjalankan aktivitas hidup.

Anakku, penyakit warisan tidak pernah mampu dijamah oleh dokter, perawat dengan menggunakan obat-obat buatan modern. Penyakit warisan akan bisa disembuhkan oleh doa adat. Maka, anakku, penting bagi kamu untuk mencari tahu apa dosa warisan kamu dan menyembuhkan terlebih dahulu melalui doa adat.

Anakku, ingat, bahwa tidak semua orang di kampung itu bisa menyembuhkan penyakit warisan ini. Melainkan hanya orang-orang tertentu yang memiliki karunia adat yang mampu menyembuhkannya. Untuk itu, anakku, ketahuilah penyakit warisanmu dan carilah orang yang tepat untuk mengobatinya.

Anakku, doa adat untuk melepaskan diri atau mengobati dosa warisan adalah hal paling mendesak demi keselamatan hidupmu, keluargamu, keturunanmu, margamu, sukumu, bangsamu dan yang terpenting adalah peradabanmu. Anakku, perjuangan dan pengorbanan hari akan menyelamatkan anak-cucumu kedepan.

Anakku, dikatakan sesuatu yang urgen dan mendesak karena saat ini pengaruh budaya global merasuki setiap manusia, termasuk masyarakat di kampung halaman. Anakku, kondisi ini membuat dan menciptakan jarak pemisah antara manusia dengan alam, manusia dengan leluhur, dan manusia dengan Tuhan. Jika demikian, tidak akan ada yang memiliki karunia adat untuk menyembuhkan penyakit warisan ini.

Anakku, jarak pemisah itu kini sudah mulai nyata dalam kehidupan suku bangsamu. Entah karena kita menganggap telah mengikuti perkembangan jaman atau modernitas, sehingga lupa diri atau kita sengaja dibuat demikian supaya peradaban kita hancur. Namun, anakku, saat ini masih belum terlambat, masih ada orang-orang tertentu di kampung halaman yang bisa menyembuhkan penyakit warisan ini. Maka, segeralah sembuhkan!.

Anakku, jika kamu sudah menyembuhkan penyakit warisan ini, akan lebih mudah menghadapi penyakit-penyakit sosial yang dimekarkan, disebarkan, dan diciptakan oleh kelompok tertentu demi kepentingan tertentu pula. Penyakit-penyakit sosial akan lebih mudah kita atasi, karena kedekatan kita terhadap alam, leluhur, dan Tuhan akan turut membantu kita terhindar. Sekalipun terjebak, bisa kita obatinya dengan banyak cara. []

Kalasan, 1 Desember 2013

)* Penulis adalah salah satu penulis buku “Anomali Negara, Kawin Paksa Burung Cenderawasih dan Garuda”