Gereja Katolik Kristus Jaya Wamena Akan Dibangun Berbentuk Honai

0
3224
Uskup Leo ketika meletakan batu pertama pembangunan gedung gereja baru Katolik Kristus Jaya Wamena (Dok.Panitia)
adv
loading...

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Mgr.Leo Laba Ladjar, OFM, Uskup Keuskupan Jayapura secara resmi meletakan batu pertama pembangunan gereja baru Paroki Kristus Jaya Wamena pada, Minggu (27/5/2018).

Uskup Leo mengapresiasi semua umat dan tokoh-tokoh gereja yang bertekad membangun satu gereja baru dengan komitmen yang kuat.

Ia mengakui Permintaan akan rencana pembangunan gedung gereja baru ini sudah lama ada, dan ini tekad umat yang menggerakan hatinya sehingga peletakan ini dilakukan hari ini.

“Tekad mereka sudah bulat, dengan banyak alasan dan yang menggerakan saya ikut ialah mereka mau bangun satu gereja yang bukan hanya sedikit representatif, tetapi juga model bangunannya mau mencerminkan adat kebiasaan bangunan di tempat ini,” kata Uskup Leo melalui release yang dikirim ke redaksi suarapapua.com.

Menurutnya, untuk membangun desain mencerminkan bangunan ala pegunungan tengah seperti ini memang cukup sulit hanya saja dengan tekad umat diyakini bisa rampung sesuai rancangan.

ads

“Menurut kesan orang yang pernah membangun desain berbentuk honai cukup sulit, tapi panitia mengatakan bahwa telah memiliki cara bagaimana untuk membangunnya. Dari sisi teknik dikatakan sulit tapi tekadnya ada maka saya ucapkan selamat atas tekad itu,” ucapnya.

Baca Juga:  Proteksi OAP, FOPERA Desak KPU RI Menerbitkan PKPU Khusus Pelaksanaan Pemilu di Tanah Papua

Dia memberikan catatan kepada panitia dan umat karena saat ini Keusukupan Jayapura baru memberikan izin prinsip untuk membangun gereja karena dari sisi pendanaan memang belum mencapai 75 persen atau 2/3 dari dana yang direncanakan umat dan ini aturan gereja.

Selain itu juga ia mengingatkan agar pembangunan gereja tidak bernasib sama seperti peristiwa Babel yang mana, ada tekad yang besar membangun Babel hingga menyentuh langit tapi karena kesombongan Tuhan mengacaukan mereka sehingga bangunan itu tak rampung.

“Masyarakat tidak bersatu karena berbeda bahasa, dikacukan oleh Tuhan karena sombong. Kalau tidak bersatu hancur, karena itu saya harapkan agar hati-hati supaya setelah batu pertama jangan sampai tinggal puing saja,” tegasnya.
Namun demikian, ia mengakui berbesar hari jikalau semua saling bergotong royong, termasuk pemerintah supaya pembangunan terus jalan.

Baca Juga:  LME Digugat Ke Pengadilan Tinggi Inggris Karena Memperdagangkan 'Logam Kotor' Dari Grasberg

“Sekali ada batu pertama, ada batu berikut dan tidak akan berhenti sampai berdiri honai gereja Katolik dimana semua suku bisa berkumpul bersatu memuliakan Tuhan,” ujarnya.

Doren Wakerkwa, Pjs. Bupati Jayawijaya menyampaikan apresiasinnya kepada umat Katolik yang merencanakan pembangunan gereja yang representative ini.

“Kegiatan ini membuktikan semua paguyuban berkumpul dengan satu tekad untuk membangun gereja katolik yang lebih besar.”
Dia mengatakan, sesuai rencana total dana yang dibutuhkan Rp 34 miliar lebih, namun dia meyakini dengan kuasa Allah berkat berlimpah akan datang dan pembangunan gereja tersebut akan diselesaikan.

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan Gereja Baru Paroki Kristus Jaya Wamena, Tahan Sibarani menuturkan, bangunan yang saat ini digunakan sudah berumur 50 tahun dan tidak lagi memadai untuk menampung umat sehingga direncanakan untuk pembangunan gereja baru berdasarkan SK DPP Kristus Jaya Wamena nomor 073/DPP-KJW/VII/2017 tertanggal 6 Agustus 2017.

Baca Juga:  Warinussy Minta Kapolres Jayapura Diperiksa Karena ‘Membiarkan’ Warga Sipil Bertindak Arogan di Mapolres

“Gedung baru ini didesan dengan konstruksi tahan gempat, mengadopsi budaya masyarakat Balim berupa honai pada bagian atap,” jelasnya.

Rencana luas bangunan 1200 meter persegi, dan pada interior terdapat banguna berlantai dua yang dapat menampung 600 orang, sedangkan lantai dasar dapat menampung 1000 orang.

“Total daya tampung gedung ini adalah 1600 orang dan bangunan ini akan dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 12.000 meter persegi milik Kesuksupan Jayapura dan bersertifikat. Dana yang dibutuhkan sebesar Rp34 milyar lebih, termasuk pembangunan menara lonceng,” ujarnya.

Sumber dananya katanya, diharapkan dari swadaya umat Katolik Paroki Kristus Jaya Wamena, dan sumbangan donatur. “Diharapkan juga sumbangan dari Pemprov Papua dan Pemkab Jayawijaya,” ujarnya.

Hadir pada kesempatan tersebut, Forkopimda Jayawijaya, tokoh masyarakat Jhon Wempi Wetipo, Jhon Ricard Banua, serta semua tokoh agama dan umat Katolik Paroki Kristus Jaya Wamena.

REDAKSI

Artikel sebelumnyaGoogle dan AJI Kota Jayapura Gelar Pelatihan Google Tools Bagi Jurnalis Papua
Artikel berikutnyaPakai Koteka ke Kampus, Mahasiswa Uncen Merasa Lebih Merdeka