Pemkab Yahukimo Sedang Menangani Bentrok Warga di Dekai

0
1842

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Pemerintah Kabupaten Yahukimo sedang konsentrasi menangani bentrok warga antara distrik Werima dan Nalca di Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo yang terjadi Senin kemarin.

Bentrok itu dipicu lantaran hubungan asmara seorang perempuan yang diketahui berselingkuh dengan pria dari distrik Nalca yang akibatnya tiga orang dari kedua distrik tewas dan sebanyak 33 orang mengalami luka-luka.

“Pengamanan jenazah dan pengobatan semuanya ditanggung Pemerintah Yahukimo. Yang dibutuhkan pemerintah adalah kedua kubuh harus berdamai,” kata Bupati Yahukimo, Abock Busop dalam pertemuan dengan Kapolda Papua, Irjen Boy Rafly Amar di Dekai, Selasa, (26/6/2018).

Bupati Abock juga menekankan supaya bentrok seperti ini tidak boleh lagi terjadi. Kedua belah pihak untuk menahan diri dan menyudahi konflik yang terjadi di luar dugaan ini.

Pengurus Persekutuan Gereja gereja di Yahukimo (PGGY), Pdt.Menas Mirin mengakui bahwa pihaknya sebagai organisasi gereja yang menaungi warga jemaat sedang melakukan upaya untuk meredam bentrok ini.

“Pagi ini kami jalan kontrol dan negosiasi supaya jangan ada penambahan korban lagi. PGGY yang ada di Yahukimo ini benar-benar konsen untuk mengatasi persoalan ini dan situasi berangsur normal,” kata Menas Mirin yang juga Ketua Wilayah Gereja GIDI di Yahukimo.

Ia juga berpesan supaya warga masyarakat yang ada di Dekai untuk tidak mendengar isu isu yang tidak bertanggungjawab beredar di luar sana.

Sebelumnya, Ones Pahabol, mantan Bupati Yahukimo menyesal dengan perkembangan situasi di Dekai Yahukimo yang kian sulit dikontrol.

Ia juga sebut, motto Kabupaten Yahukimo “Damai Sejahtera” sama sekali tidak berfungsi apa apa sebagai motto kedamaian dan kesejahteraan di antara masyarakat, malah bentrok warga muncul dimana mana.

“Sekarang iblis suda kenyang. Motto Damai Sejahtera tidak berfungsi apa apa. Kabupaten hadir untuk bagaimana kami hidup aman dalam damai kasih Tuhan, tetapi faktanya lain,” kata Pahabol di RSUD Dekai usai amankan warga pasca bentrok, Senin 25 Juni 2018.

Ia menjelaskan, motto damai sejahteraan ini jelas mempersatukan masyarakat dari suku Yaly, Hubula, Kimyal, Momuna, Ngalik dan Meck, bukan hidup seperti orang tua dulu.

oleh sebab itu Pahabol berharap agar injil yang telah diterima dan ditanamkan orang tua tua dulu untuk dilakukan, supaya kedamaian itu ada.

Pewarta : Ardi Bayage

Editor : Elisa Sekenyap