Kapolda Papua : Kepolisian dan Amnesty International Berbeda Pemahaman

0
2360

JAYAPURA, JUBI/SUARAPAPUA.com— Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, kepolisian dan Amnesty Internasional (AI) berbeda pemahaman.

Hal itu dikatakan Boy Rafli Amar terkait laporan AI yang menyebut kepolisian dan militer melakukan pembunuhan di luar hukum terhadap 95 orang asli Papua (OAP) selama delapan tahun terakhir.

“Misi mereka berbeda dan misi kami. Keberadaan TNI dan Polri bukan untuk membunuh masyarakat, tetapi kami melaksanakan tugas negara. Kata pembunuhan itu, harus konteksnya harus diliihat satu persatu,” kata Boy Rafli Amar, Selasa (3/7/2018).

Baca Juga:  Sikap Mahasiswa Papua Terhadap Kasus Penyiksaan dan Berbagai Kasus Kekerasaan Aparat Keamanan

Baca Juga: 

Menurutnya, di kubu kepolisian sendiri, banyak anggota polisi yang ditembak dan meninggal dunia dalam menjalankan tugas melindungi orang yang tak bersalah.

ads

Namun dalam konteks pertemuan antara kepolisian dan masyarakat ketika polisi melaksanakan tugas dan timbul korban, jangan mengangap kepolisian membunuh masyarakat.

“Dilihat dulu ancaman dan situasinya seperti apa,” ujarnya.

Baca Juga:  Kondisi Kamtibmas di Papua Barat Daya Sedang Tidak Baik-baik Saja

Lihat Juga: 

Menurutnya, terkadang peristiwa terjadi karena situasi terdesak, misalnya kondisi di lapangan anarkis. Namun kepolisian dalam bertindak mengacu pada SOP. Jika kepolisian bertindak di luar SOP, maka akan disidangkan.

“Karenanya, untuk pelanggaran HAM, harus dilihat secara objektif. Kami dari kepolisian juga tidak semena-mena mempergunakan senjata, karena ada aturan penggunaannya,” ucapnya.

Ia mengatakan, jika ada oknum polisi yang dianggap semena-mena menggunakan senjata, tentu akan diinvestigasi oleh Propam untuk mengetahui apakah penggunaannya sudah benar atau tidak.

Baca Juga:  ULMWP Menyatakan Bersolidaritas dengan FLNKS dalam Perjuangan Penentuan Nasib Sendiri

“Terhadap apa yang disampaikan oleh Amnesty Internasional, itu adalah pernyataan tendensius. Keberadaan Polri di tengah masyarakat, untuk melaksanakan tugas,” lanjutnya.

Jika ada anggota Polri yang telibat kasus pidana, misalnya berkelahi kemudian lawannya meninggal dunia lanjut dia, oknum itu diproses hukum. Kini ada anggota Polri di Papua yang mendekam di lapas lantaran kasus seperti itu.

“Kami tidak pernah melindungi orang yang bersalah,” katanya.

Sumber: Tabloidjubi.com

 

Artikel sebelumnyaLP3BH Manokwari Apresiasi Laporan Amnesti Internasional  
Artikel berikutnyaKPK Ajak Gereja Sebar Nilai Antikorupsi Lewat Sekolah Minggu