Orang Mee: Antara Budaya Kerja (Keitai Emo) dan Budaya Bisu (Wewe Emo)

Suatu refleksi Antropologi-Biblis

0
8389

Oleh: Marius Goo)*

Pengantar

Dunia Meeuwo sudah berkebalikan, dengan istilah Paulinus Goo (Katekis lama di Goodide) “imotu-epatu”. Manusia Mee belum mampu menjadi manusia. Dengan demikian, manusia Mee kehilangan identitas. Maka, manusia Mee telah tercabut akarnya. Ketika akar sudah tercabut, manusia Mee hidup tak berakar. Segala sesuatu yang tak berakar, secara otomatis akan rubuh, entah cepat atau lambat. Hidup yang tidak  mempunyai dasar, bak orang yang mendirikan rumah di atas pasir, ketika hujan dan badai melanda, rubuhlah rumah itu (bdk. Mat 6:46-49).

Dengan melihat kenyataan ini, secara singkat kami menguraikan apa yang menjadi dasar dari kehidupan orang Mee, sekaligus bagaimana merawat dasar tersebut.

Orang Mee

Ungkapan “orang Mee adalah manusia sejati,” tidak asing lagi di telinga kita. Mengapa manusia Mee adalah manusia sejati? Kesejatian manusia Mee ada di mana? Apakah kesejatian manusia Mee masih dipertahankan hingga saat ini?

Pernyataan dan pertanyaan tersebut masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab dan bahkan tetap akan memisteri dalam sanubari manusia Mee. Jika orang Mee dikatakan manusia, maka sebagaimana manusia yang lain: kita memiliki tubuh, jiwa dan roh. Manusia dari segi tubuh (ma atau epo) mempunyai fungsi tersendiri, sekaligus cara pemakaiannya pun tersendiri pula, ma doutou, ma muni, ma kaa keitai, ma kaa ekowai. Demikian juga dengan jiwa (aya) yang berkaitan dengan kejiwaan, sifat, sikap, karakter dan aklak atau kognitif. Selanjutnya berkaatan dengan roh (ebe puu/dimi puu) lebih berhubungan dengan yang ilahi.

Dari ketiga dimensi tersebut, pasti memiliki gradasinya, kalau pun susah dipilah dengan konteks kehidupan yang memang susah digali dan diperdebatkan. Kedangkalan pengetahuan dan ilmu, selalu menjadi kendala menemukan kesejatian manusia pada umumnya dan manusia Mee secara khusus.

Puncak kemanusiaan Mee terletak pada kerja dan usaha keras yang tanpa kenal lelah, sebagai upaya keikutsertaan manusia dalam kerja Allah yang hingga kini bekerja memperbaharui dan menyempurnakan dunia (bdk. Yoh 5:17).

Budaya Kerja

Dalam kehidupan ekonomi, yakni hidup bertani dan beternak tentu telah menghasilkan berbagai makna, juga nilai yang amat mendalam. Makna terdalam dari kehidupan berekonomi zaman dulu, dianut sebagai suatu spiritualitas dalam kehidupan berekonomi atau spiritualitas kerja pada zaman sekarang.

Spritualitas ini sejalan dengan ungkapan Yesus bahwa dia harus kerja, sebab Bapa-Nya pun hingga sekarang sedang kerja (Yoh 5:19), sekaligus yang menjadi makanan harian Yesus adalah kerja menyelesaikan pekerjaan dari Bapa-Nya (bdk. Yoh 4:45). Mentalitas kehidupan ekonomi lokal orang Mee telah dibangun sejak nenek moyang. Spiritualitas itulah yang dijadikan sebagai falsafah hidup orang Mee. Falsafah ini dihidupi dan diwariskan turun-temurun kepada generasi berikut. Falsafah hidup kerja tersebut antara lain:

  • Pertama, Yang tidak tahu kerja juga tidak biasa kerja adalah Daba Mee (orang kecil/miskin) atau Ewo Mee (orang bodoh).

Pandangan ini adalah motivasi supaya orang bekerja, sekaligus ejekan bagi mereka yang tidak biasa kerja dan tidak tahu kerja. Mereka yang tidak tahu dan atau tidak biasa kerja adalah mereka yang bodoh dan dianggap kecil/miskin. Mereka itu adalah orang yang sikapnya selalu menanti orang lain supaya disuap, diberi makan, mohon dikasihani, bermalas-malas, banyak bersantai dan tidak mau bekerja keras. Orang yang tidak mau bekerja keras dan bermalas-malas adalah orang bodoh, orang kecil/miskin yang tidak memiliki apa-apa. Mereka adalah pemboros dan pelahap, tidak produktif dan tidak energik.

  • Kedua, Falsafah kerja dikenal dengan tiga istilah: Kedi duwai (potong kuku), Awata gou (berkeringat) dan Matoka tuwai (patahkan tulang belakang/tunduk).

Falsafah orang Mee dengan istilah kedi duwai, awata gou dan matoka tuwai memberikan makna mendalam dari kerja. (1) Kedi duwai; kedi duwai secara harafiah berarti potong kuku. Potong kuku yang dimaksud adalah biarkan kuku dipotong atau terpotong dengan tanah atau pekerjaan yang sedang dilakukan. Orang Mee menentukan siapa pekerja dan pemalas dari panjang atau pendeknya kuku dari setiap individu. Orang yang berkuku panjang adalah orang yang tidak pernah kerja, karena pada dasarnya orang yang bekerja kukunya pasti terpotong dengan tanah. Sementara orang yang kukunya pendek, mereka adalah pekerja keras karena dengan sendirinya kuku terpotong saat kerja atau karena takut terjadi sesuatu pada kukunya, maka mereka harus memotongnya sebelum kerja.

(2) Awata gou; awata gou berarti mengeluarkan keringat atau berkeringat. Bagi orang Mee, tiada sesuatu yang diperoleh secara otomatis. Untuk memperoleh sesuatu harus kerja. Dengan demikian, bekerja berarti harus melalui berkeringat. Orang Mee tidak bisa mengatakan saya telah bekerja tanpa mengeluarkan keringat. Bagi orang Mee keringat itu identik dengan orang yang bekerja.

(3) Matoka tuwai; matoka tuwai berarti mematahkan tulang belakang, atau tunduk. Istilah ini lebih berarti kerja menuntut suatu kesabaran, keuletan dan ketulusan hati. Bagi orang Mee, seorang pekerja harus duduk, harus tunduk dan kerja dengan sepenuh hati. Matoka tuwai merupakan suatu sindiran khusus bagi orang yang banyak jalan tanpa tunduk dan bekerja. Orang yang selalu matoka tuwai adalah orang yang memiliki sifat miyo kai, yoka kai dan daba kai. Miyo kai searti dengan matoka tuwai yang berarti harus tunduk, harus merendah dan melayani. Miyo kai adalah orang yang selalu berpikir praksis, tetapi semuanya tersedia dan hidupnya sempurna. Sementara, yoka kai dan daba kai secara harafiah berarti, yakni menjadi kecil, menjadi sederhana dan menjadi miskin untuk melayani. Daba kai dan miyo kai berarti merendahkan diri, menjadi pekerja yang tekun dan pekerja yang penuh kesabaran.

  • Ketiga, Ekowai (Kerja) adalah putusan terakhir untuk orang Mee bertindak, membuktikan dalam praksis hidup nyata dari berpikir “Gaii” yang didahului oleh melihat “dou”. Dengan istilah dari orang Mee; dou-gaii-ekowai (melihat-berpikir dan bekerja).

Bagi orang Mee, bekerja bukanlah suatu kebetulan dan hanya tiba-tiba. Bukti fisik dari kerja (ekowai) adalah upaya pengolahan dari dou (melihat) dan gaii (berpikir atau menimbang). Dengan demikian, memilih pekerjaan pun harus melalui perhatian melalui mata dan dipertimbangkan dengan akal sehat. Orang Mee memilih pekerjaan yang akan memberikan kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan bagi diri dan sesama manusia yang lainnya.

Budaya Bisu

Budaya bisu dapat diungkapkan sebagai budaya ketergantungan. Budaya bisu adalah budaya yang mengantarkan orang Mee kepada kehilangan jati diri sebagai manusia pekerja (keitetai bage). Maka, budaya bisu adalah suatu budaya yang mengalienasi orang untuk keluar dari keasliannya dan mengenakan manusia topeng. Artinya, kesinnya manusia Mee, tetapi isi dalamnya bukan manusia Mee. Warna kulit, rambut, marga dan tanah menunjukkan orang Mee, namun sikap, pembawaan dan karakternya tidak menunjukkan orang Mee (Mee kidiya Mee kaiko beu).

Manusia Mee menunjukkan kepalsuan dirinya dalam pergaulan-pergaulan, tindakan-tindakan yang berlawanan dengan dirinya sebagai manusia Mee. Artinya, ketika manusia Mee terlibat dalam kasus-kasus kriminalitas, pembunuhan, pemerkosaan, hidup boros, pencurian, korupsi, dan lainnya, sejauh itu belum menjadi manusia Mee yang sejati, sebab dalam ajaran Touye mana tidak mengajarkan hal yang demikian, bahkan tindakannya tersebut bertentangan dengan ajaran Touye mana.

Selain itu, dari segi owaadaa mengajarkan supaya manusia Mee untuk kerja dan kerja merupakan ajaran inti dari owaadaa. Dari isi ajaran Owaadaa, diharapkan untuk setiap orang Mee, khususnya laki-laki muda wajib mempunyai Owaadaa, apalagi mereka yang sudah berkeluarga. Sehingga seorang laki-laki Mee yang tidak memiliki owaadaa pribadi adalah bukan orang Mee.

Ajaran Touye dan Owaadaa senantiasi berusaha untuk mengembalikan orang Mee pada kehidupan sejati sebagai manusia Mee, namun ajaran tersebut tidak dihiraukan, sehingga jatuh dalam suatu kehidupan palsu yang pada akhirnya berindikasi bunuh diri secara tidak langsung, dan tindakan bunuh diri ini lebih sadis dari peluru senjata.

Ajaran inti dari Touye dan Owaadaa adalah Ugatame, Ugata Ibo, Mee Naka, Mee Poya wado make umi tou, keitai ekowai dan dou gai. Jadi, falsafah Dou, Gai dan Ekowai didasari oleh Ugatamee yang menyelenggarakan segalanya dalam takarannya yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia yang terbatas.

Jika Yesus melihat kehidupan orang Mee yang penuh dengan kekacauan, Yesus pasti menangisinya, seperti Yesus menangisi kota Yerusalem (Luk 19:41). Yesus menangis karena tidak ada damai sejahtera, tidak ada kedamaian batin, perutnya masih lapar, banyak masalah yang belum diselesaikan dan akhirnya moral hancur-berantakan, kehidupan rohani semakin dangkal, bahkan ketika Yesus lewat pun orang Mee tidak mengetahuinya (19:44). Yang menjadi suatu refleksi adalah jangan sampai ketika Tuhan lewat kita tidak mengetahui, atau pelawatan Tuhan kita tidak rasakan, sehingga musuh datang mengepung dan membinasakan hidup kita hingga hancur luluh dan kita mati konyol seperti tak ber-Tuhan.

Penutup

Kesadaran selalu menjadi kata kunci dalam dunia ketidaksadaran dan kepalsuan. Mengakhiri kebisuan harus bermula dari kesadaran jati diri dan bangkit untuk mengembangkan kemampuan dan apa yang menjadi oase dalam diri sebagai rahmat yang diterima dari Allah.

Dunia Meeuwo yang penuh dengan kesuburan/kekayaan sedang mengalami krisis karena daya kesadaran telah teralienasi, bahkan telah hilang. Ketika orang Mee menyadari daya-daya dan kemampuan atau kelebihan yang dianugerahkan Tuhan, lalu berjuang dan menghayatinya dalam seluruh hidup, pada akhirnya akan menemukan apa yang menjadi kerinduan dari kehidupan ini. Pasti akan sampai kepada ajaran terinti dari Touye dan Owaadaa, yakni Ugatame, Mee Naka-Mee poya. Untuk sampai kepada-Nya, diawali dengan usaha, kerja. Sehingga budaya kerja (keitai emo, ekowai emo awi) akan menjadi dasar mencapai kepenuhan dalam Allah. Maka, budaya kerja harus dihidupkan kembali, mulai dari sini dan saat ini.

)* Penulis adalah mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura