Dianggap Merusak Budaya, DAP Domberay Minta Hentikan Goyang Patola

0
8561

MANOKWARI, SUARAPAPUA.com— Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Domberay menegaskan agar Goyang Patola yang lagi marak di Tanah Papua khususnya di Provinsi Papua Barat dihentikan karena tidak ada goyang Papua dalam budaya orang papua. 

“Goyang Patola sama sekali tidak mencerminkan budaya dan seni masyarakat Papua,” kata ketua DAP wilayah Domberai, Paul Finsen Mayor kepada suarapapua.com, Rabu (1/8/2018) ddi Manokwari, Papua Barat.

Menurutnya, Goyang Patola berasal dari negara luar masuk di polosok di seluruh Indonesia. Goyang tersebut akan merusak generasi anak bangsa dan negara terlebih khususnya di Papua Barat.

“Sudah terjadi Imperialisme kebudayaan, budaya luar datang menguasai budaya kita, jadi saatnya sadar dan mari berdiri diatas kaki sendiri artinya angkat, kembangkan dan majukan Budaya Papua supaya dikenal Dunia dan mendunia,” katanya.

“Kami menginginkan adanya kebangkitan dan penggalian kembali budaya Papua sebagai identitas kita. Sebab dengan kebangkitan dan kemandirian budaya kitalah seluruh umat manusia dapat tahu dan mengenal siapa itu orang Papua atau Masyakat hidup di Tanah Papua,” katanya.

Dikatakan, adat Papua yang beradab dan beradat. Untuk itu, ia mengajak semua anak adat papua dalam berbagai jenjang karier, disiplin ilmu dan berbagai instansi agar bersatu padu membangun dan membangkitkan kembali budaya Papua yang mulai tergerus oleh arus zaman modern ini.

“Pemerintah daerah setempat agar perlu melakukan Sosialisasi bahaya dari Imperialisme kebudayaan yg berakibat generasi muda papua akan menjadi generasi Iwarai / kehilangan arah dan kehilangan jati diri sebagai manusia sejati Papua,” harapnya.

Ia menegaskan, alangkah baik melakukan kegiatan berbasis lokal seperti yospan, suling tambur.

“Itu kita menunjukan kepada dunia bahwa, Adat, istiadat budaya dan seni masih sangat kental di tanah Papua. Saya minta agar, Goyang Patola dihapuskan di Tanah Papua karena bisa merusak citra adat dan budaya masyarakat Papua,” tegasnya.

Pewarta: Martinus Mayor

Editor   : Arnold Belau