Perempuan yang Sembunyikan PM Vanuatu dari Kejaran Tentara Kolonial Prancis Peroleh Penghargaan

0
2106

PORT VILA, SUARAPAPUA.com – Pada masa-masa genting perjuangan kemerdekaan Vanuatu dari kolonialis Inggris dan Prancis di akhir tahun 1970-an, Pendeta Walter Lini, salah seorang pejuang yang kemudian disebut sebagai Bapak Bangsa Vanuatu, terpaksa harus bersembunyi di bawah tempat tidur sepasang suami istri untuk menghindari kejaran tentara Prancis.

Amy Selwyn Binihi, perempuan yang menyembunyikan Bapak Pendeta, mengungkapkan kejadian 20 tahun lalu itu setelah cukup lama merahasiakannya pada hari Minggu (29/08) lalu.

Pemerintah Vanuatu menilai tindakan Amy Binihi itu — disertai dengan serangkaian kontribusinya kepada Vanuatu dikemudian hari — layak diberi penghargaan. Pada pesta cocktail peringatan HUT ke-37 kemerdekaan Vanuatu pada hari Minggu (29/07) lalu, Presiden Obed Moses Tallis menyematkan Medali Kemerdekaan kepadanya.

Menurut Amy Binihi, dia dan mendiang suaminya, Selwyn Binihi, terpaksa harus melanggar aturan adat dan dengan nekad menyembunyikan Walter Lini di bawah tempat tidur mereka. Hal itu dilakukan agar pendeta yang di kemudian hari menjadi perdana menteri pertama Vanuatu itu terhindar dari penangkapan, di tengah suasana panasnya pemberontakan dan perjuangan kemerdekaan di masa itu.

Vanuatu meraih kemerdekaan pada 30 Juli 1980, tetapi sempat dilanda pemberontakan dari sesama pejuang kemerdekaan. Walter Lini adalah pendiri Partai New Hebrides Party dan kemudian Vanua’aku Pati, salah satu partai dominan di Vanuatu. Ia menjadi PM dari tahun 1980 hingga 1991.

Sama seperti Walter Lini, Amy Bihini berasal dari wilayah Pantecost, Vanuatu. Ia alahir di klinik Abwatuntora (sekarang sudah menjadi rumah sakit) pada 7 Juli 1954.

Dia terpaksa berhenti dari kelas enam sekolah dasar Abwatuntora pada tahun 1969 karena masalah biaya sekolah.

Dia kemudian pindah ke ibukota Vanuatu, Port Vila, pada tahun yang sama. Ia beruntung karena mendapat tawaran pekerjaan dan diwawancarai pada bulan November tahun itu juga.

Dia dipekerjakan oleh Jawatan Nasional Inggris (British National Service, BNS) pada bulan Februari 1970 yang saat ini telah berubah menjadi Kementerian Dalam Negeri Vanuatu. Saat itu umurnya 16 tahun.

Pada tahun 1978 ia dan suaminya memulai usaha dengan membuka bar kava pertama di Port Vila yang menjual jus kava. Pada saat itu perjuangan kemerdekaan Vanuatu tengah panas-panasnya setelah mulai bergerak pada 1971.

“Ketika itulah Bapa Kemerdekaan kita akhirnya bersembunyi di bawah tempat tidur pernikahan kami pada satu malam dari (kejaran) tentara Prancis,” kata dia.

Bukan hanya Walter Lini yang pernah bersembunyi di tempat yang sama, tetapi juga mantan Jaksa Agung Vanuatu, Ham Bulu, di masa pemberontakan internal Polisi dan VMF.

Sampai pada tahun 1979 Amy tetap bekerja pada BNS. Ia termasuk pegawai BNS yang dipindahkan ke pemerintahan pertama Banuatu untuk membentuk embrio Kementerian Layanan Umum.

Selanjutnya, Amy Binihi telah berkontribusi kepada Vanuatu melalui kariernya di pemerintahan maupun di lembaga lainnya. Ia, misalnya, ikut membantu mendirikan Pusat Pelatihan Pemerintah (Government Training Centre) pada tahun 1984.

Setelah bertugas di pemerintahan, ia bekerja sebagai sekretaris di kantor Asian Development Bank.

Pada tahun 1989 dia membantu mendirikan Save the Children Fund di Vanuatu.

Selanjutnya pada tahun 1996 Amy Bihini bekerja bekerja sebagai sekretaris VNCW.

Kariernya kemudian berpindah ke bidang keuangan dengan bekerja sebagai Manajer pada Vanuatu Financial Services Commission pada tahun 2000. Ia berhenti dari pekerjaan ini saat suaminya jatuh sakit hingga kemudian meninggal.

Perkenalannya dengan dua relawan Korps Perdamaian AS membawanya turut membantu mereka mendirikan Habitat Humanity Vanuatu pada tahun 2008. Dia didaulat sebagai salah seorang pengurusnya.

Pada tahun 2012, St. Patrick’s College Vurea memintanya untuk mendirikan kantor mereka. Pada tahun yang sama dia direkrut oleh Kantor Hak Kekayaan Intelektual Vanuatu untuk mengatur sistem pengarsipannya sampai sekarang.

Amy termasuk di antara sepuluh individu yang memperoleh medali penghargaan pada hari Minggu lalu dari Kepala Negara. Turut menerima medali adalah Ketua Parlemen, Esmon Sae, dan PM Charlot Salwai.

Pewarta: Wim Geissler
Sumber: Vanuatu Daily Post

print