Sinopsis 10 Film dari 19 Film ini Masuk 10 Besar di Festival Film Papua II

0
476

JAYAPURA,SUARAPAPUA.com — Dari 19 Film yang masuk dalam daftar panitia Festifal Film Papua FFP ke II, dari komunitas Papuan Voices yang berlangsung mulai dari tanggal 7-9 Agustus 2018 nanti. Panitia melalui Tim jurinya tiga orang hanya menetapkan 10 film saja.

Pemutaran film yang dilakukan oleh anak-anak Papua merupakan salah satu komunitas yang memprodukasi Film-Film advokasi tetang kehidupan di Tanah Papua. Papuan Voices sendiri dibentuk pada tahun 2012 atas kerja sama antara Engage Media dengan SKPKC Fransiskan Papua, JPIC MSC dan SKP keuskupan anggung merauke. Dan pemutaran film pertama dilakukan di Merauke pada tahun 2018.

Bagimana jalan cerita dari 10 film yang di putarkan dalam FFP ke II di Jayapura, ini dia ceritanya:

  1. “Cerita Ema” (Karya Nasional Marasian dan Yuliana Marasiam-Nabire)
    Darama-dokuneter ini mengambarkan pristiwa yang pernah terjadi pada tahun 1970-an sebuah kampung di Papua. Naomi, penulis naskah dan sutradara Kelompok Anggrek Hitam Papua, kerap mendengar kisah ini dari orang tuanya. Cerita ini bukan hanya satu kisah keluargga, melainkan banyak keluarga di Papua sejak 1970-an hingga kini mengalami intimidasi, penangkapan, tuduhan, makar, dsb. Kelompok Anggrek Hitam Papua Menuturkan kisah-kisah para keluarga dalam bentuk film pendek, sebagai usaha terlupakannya sejarah orang-orang Tananh Papua.
  2. “Mamapolitan” (Karya Indra Siangian-Jakartaa)
    Agustina Helena kobogau adalah perempuan Papuan yang lahir dari dua suku yang berbeda, yaitu Suku Wolani dan suku moni di Papua. Ia datang ke Jakarta tahun 2014. Selama di Jakarta, ia berusaha mempertahankan identitasnya sebagai orang Papua, ditenag hiruk pikuk metropolitan.
  3. “Kehidupan Pesisir” (Karya Noak Sending Sada-Biak)

Film ini berkisah tentang Bapak Yance Sada, warga kampung sawedi Wonggeina yang menghidupi keluarganya dengan menjadi nelayan

4. Generasi Kayu Lapuk” (Karya Risal Lani-Wamena)

Hutan Papua mulai punah, salah satunya di area taman Nasional Lorenzt yang dikenal sebagai salah salah satu situs warisan Dunia UNESCO. Sebelum ada jalan Trans Papua yang melewati area tersebut, banyak pohon yang sangat kuat termasuk kayu besi dan beberapa jenis pohon lainnya. namun setelah ada Jalan Trans Papua yang melewati area tersebut, pohonpun mulai habis. Setelah pohon menjadi balok/papan, mereka bawa ke tempat jual beli kayu yang ada di Pasar Potikelek. Perjalanan menuju Pasar harus melewati Pos Tentara di Napua dan Sinakma. Setiap melewati Pos Truk Pengangkut kayu harus memberi beberpa lembar papan/balok.

5. “Isi Dalam karung” (Karya Yonri Revolt-Timika)
Bagi suku Kamoro, memahat bukan hanya sekedar kerajinan dan sumber penghasilanbagi pembuatnya, tapi hal yang sacral. Frangky, seorang kepala keluarga dari suku Komoro mengungkapkan tiap ukuran yang dibentuknya adalah bentuk dari para leluhur melalui mimpi. Pesan yang ia sampaikan kepada anak-anaknya adalah tiap ukuran memiliki nilai luhur yang bukan kesenangan saja. Membentuk ukiran harus dengan serius, sesuai sejarah nenek moyang, dan sesuai pentunjuk mereka. Pada kesempatan ini Franky mengukir cerita tentang seorang perempuan dengan arwa yang mencintainya.

6. “RPP: Sesep Pendidikan Papua” (Karya Yosep Levi-Yahukimo)
Tri Ari Santi, seorang guru yang menerapkan pendidikan kontekstual di Sekolanya, SDI Samenage. Ia dan siswa-siswinya merekam proses belajar mengajar mereka lewat handphone. RPP (Resep Pendidikan Papua) adalah film documenter yang berisikan rekaman-rekaman mereka dan sharing Tri Ari Santi tentang praktek pendidikan kontekstual do SDI Samenage.

7. “Dipenjara” (Karya Straky Yally- Timika)
Yanto Arwekeon adalah salah satu dari sekian banyak aktivis Papua yang selalu mendapatkan tindakan diskriminasi, penangkapan, intimidasi, sampai penjara. Situasi itu tidak membuat Yanto untuk berhenti memperjuangankan hak hidup masyarakat Papua Barat melalui penentuan nasib sendiri. Sebagai pembelah HAM, Yanto tidak memilih diam dan takut. Namun setelah beberapa kali ditangkap dan dipenjarakan, dia dia sadar bahwa penjajahan itu harus dilawan dengancara yang damai dan bermartabat.

8. “Maria Logo, Paud Suara Hati Ibu” (Karthrin Oester-Wamena)
Kelompok “Suara Hati Ibu” –suara hati perempuan terdiri dari delapan pulu empat janda dani di dataran tinggi Papua Barat. Mereka mengumpulkan benda-benda budaya dan mempertahankan tradisi Lembah Baliem, yang menghilang dibawah pengaruh globalisiasi dan sekolah asrama, yang bertujuan untuk membiasakan generasi muda dengan tradisi Dani dalam hal keterampilan hidup. Sekolah kecapakapan hidup dengan kurikulum spesifiknya melihat dirinya sebagai pelengkap sekolah formal.

9. “Tete Guru Kafudji” (Karya Dion Kafudji-Keerom)
Film ini bercerita tentang keseharian seorang pensiunan guru di masa tuanya

10. “Nit Meke” (Karya Nelson Lokobal-Wamena)
Kopi Arabika Wamena merupakan salah satu kopi berkualitas terbaik di Indonesia. Bekerja sama dengan USAID Amarta, para petani kopi mulai mengembagkan usaha kopi Wamena telah diekspor ke beberapa Negara besar di Dunia seperti Amerika dan Korea. Kopi arabika Wamena tumbuh tampa menggunakan pupuk kimia sehingga kopi Wamena Merupakan kopi organic karena tumbuh subur secara alami. Namun Orang Asli Papua jarang mengkonsumsi kopi arabika Wamena karena kopi pabrikan lebih murah.

Pewarta: Ardi Bayage

Editor: Arnold Belau