Disertasi Etnografi Kolonialisme Mutakhir Papua Didiskusikan di Jayapura

0
12596

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Forum Kerja Oikumenis Gereja-gereja Papua memfasilitasi diskusi disertasi Etnografi Kolonialisme Mutakhir; Sejarah, Pengalaman dan Kesadaran Politik di Papua Barat yang ditulis Dr. Veronika Kusumaryati, dari Departemen Antropologi Universitas Harvad di aula P3W Padangbulan, Jayapura, Jumat (10/8/2018).

Dr. Veronika memaparkan disertasinya dari perspektif situasi politik Papua masa lalu, sistem pendidikan dan budaya orang Papua yang hingga hari ini terkikis dengan sistem kolonialisme negara yang menguasai hiruk pikuk kehidupan manusia Papua di Tanah Papua.

Baca Juga:  Konferensi Gereja-Gereja Pasifik Menyampaikan Duka Cita Atas Meninggalnya Lukas Enembe

Termasuk dari hilangnya identitas hingga munculnya identitas ketika Universitas Cenderawasih (Uncen) didirikan pada tahun 1962. Mulai dari Mambesak hingga Black Brothers dan nilai-nilai etnografi yang dihilangkan paksa secara sistematis.

Pada presentasinya, Vero sapaan akrabnya mengatakan, ada hal aneh yang sering muncul ketika berbicara soal Papua Barat, terutama tentang kolonialisme.

“Ketika kita berbicara kolonialisme yang terjadi di Papua dari kami sebagai akademisi, dianggap sebagai pendukung Papua Merdeka, padahal yang kami lakukan adalah menulis nilai antropologi dan sejarah Papua yang hilang,” kata Vero.

ads
Baca Juga:  Lima Wartawan Bocor Alus Raih Penghargaan Oktovianus Pogau

Sementara, Pdt. Socrates Sofyan Yoman, Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua mengatakan, menulis sejarah bukan sebagai bentuk dari kebencian terhadap negara, melainkan bentuk pengenalan akan nilai identitas diri dan sejarah.

“Jadi kita harus menulis sejarah kita yang dihilangkan ini. Ajak dan ajar anak-anak kita dari kecil untuk membaca, mengerti tentang yang dibaca dan menunjukan peta Papua bahwa anda adalah pemilik negeri ini supaya dia tahu,” ajak Yoman.

Baca Juga:  Meski Dibubarkan, Struktur Kerja ULMWP Resmi Dikukuhkan dari Tempat Lain

Selain itu, Yoman mengajak gereja-gereja di Papua untuk bersama-sama mendoakan umat yang ditindas di hutan-hutan pegunungan hingga di pesisir pantai dan kota.

“Tidak hanya mendoakan pemerintah, tetapi juga wajib mendoakan umat kita yang di hutan maupun di kota, karena semuanya umat Tuhan yang wajib didoakan.”

Diskusi itu diakhiri dengan sejumlah pertanyaan dan masukan dari peserta diskusi, terutama mempertanyakan kinerja Gereja di Tanah Papua yang kian terpuruk.

Pewarta: Elisa Sekenyap

Artikel sebelumnyaPesta Yuwo di Paniai Dibanjiri Ribuan Pengunjung
Artikel berikutnyaInspektorat Yahukimo Gelar Rapat Menanggapi Surat KPK Tentang Monitoring