Wawancara: Takndare, Pelukis ‘Gelisah’ Karena Masalah Kemanusiaan Papua

0
6888
Dicky Takndre saat foto di pameran yang diadakan di Belanda di dekat karyanya. (Aprila Wayar - SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com —  Senin (2/7/2018) lalu, Dicky Takndare (30), laki-laki berdarah Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, yang lahir dan besar di Papua ini baru saja kembali dari Amsterdam, The Netherlands, dalam rangka menghadiri ‘Pressing Matters’ project oleh Kevin Van Braak, Framer Framed pada Mei lalu.

Misi kemanusiaan yang menggelisahkannya dianggap sebagai tanggung jawab moril terhadap Papua telah mengantarkannya bersanding dengan pelukis Indonesia lainnya di kancah internasional.

Tidak banyak orang Papua bergelut di dunia perupa Indonesia yang sering dianggap tidak memiliki masa depan, tetapi Dicky dengan semangat muda dan idealisme yang membara terhadap tanah kelahirannya bertahan mempromosikan persoalan kemanusiaan Papua melalui berbagai karya lukisnya.

Pelukis ini telah banyak meraih penghargaan, mulai dari Juara I se-Jayapura Lomba Lukis HUT AURI (2001), Juara I Nasional Kompetisi Drawing “Panorama Nusantara”, Galeri Nasional Jakarta (2013) hingga masuk nominasi International Artist Grand Prize Competition 2017, Taiwan.

Berikut petikan wawancara Aprila Wayar dan Dicky yang memiliki nama lengkap Ignasius Dicky Aifaman Takndare.

Aprila : Mengapa kamu memutuskan untuk memilih Papua sebagai tema lukisan kamu?

Dicky : Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Jawa, saya rindu pada Sentani, Papua tempat saya lahir dan besar. Sejak saat itu, saya mulai membaca dan melakukan riset kecil tentang Papua. Saya baru sadar kalau ternyata pada saat kecil, saya melihat sendiri bagaimana orang Papua disepelekan di atas tanahnya sendiri. Melihat sendiri proses pemakaman Theys Hiyo Eluay pada 2001 lalu yang dihadiri ribuan orang, mengapa ada Bintang Kejora yang berkibar saat itu? Waktu itu saya tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi. Ketika mulai mengerti semua itu, saya sadar pada suatu kenyataan bahwa Papua itu tempat yang sangat terisolasi dimana peristiwa-peristiwa yang terjadi di sana itu mengerikan. Artinya, saya yang lahir dan besar di sana saja tidak benar-benar mengerti, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Banyak teman yang bertanya, Papua itu seperti apa? Saya terpaksa menjelaskan Papua apa adanya walau sebenarnya merasa lucu dan aneh. Kami di Papua belajar banyak tentang Jawa, kerajaan-kerajaan sekaligus raja-rajanya secara detail, tetapi orang di Jawa, keadaan di Papua saja tidak tahu. Bahkan ada yang bertanya, Papua itu di mana? Apakah berbeda dengan Irian Jaya? Ini membuktikan kalau Papua itu benar-benar tertutup. Entah itu dikondisikan atau belum dibangun, entahlah.

Artinya, bila hal-hal yang umum saja orang tidak tahu tentang Papua, bagaimana dengan hal-hal yang terjadi di pedalaman-pedalaman Papua. Hal ini yang kemudian menyadarkan saya agar melakukan sesuatu untuk Papua. Saya tidak mampu berorasi untuk berpartisipasi dalam demonstrasi. Saya hanya bisa melukis.

Ketika mulai melukis, beberapa seniman mendorong saya melukis dengan tema tertentu karena kebanyakan seniman Papua melukis eksotisme budaya, eksotisme alam yang mana menurut mereka itu adalah lahan yang bagus untuk melukis.

Saya memang bisa melukis, tetapi saya juga ‘gelisah’ terhadap masalah kemanusiaan Papua. Inilah yang coba saya satukan. Momen ini terjadi saat menjalankan tugas akhir. Semakin banyak berdiskusi dengan senior-senior Papua di Yogyakarta kala itu, semakin membangun emosi dan kerinduan untuk mencari lebih dalam tentang Papua. Kegelisahan ini melahirkan tugas akhir yang mengangkat masalah kemanusiaan yang berjudul ‘Memoria Passionis Papua’.

Ketika saya semakin larut dalam isu ini, ada beberapa teman pelukis yang mengajak melukis dengan tema lain dengan alasan masalah kemanusiaan di Papua itu sensitif.

Melihat orang Papua tertindas dan teraniaya dengan sistematis, saya merasa setidaknya sudah melakukan sesuatu untuk orang Papua, walau dalam skala kecil. Saya berutang pada tanah itu, saya lahir, tumbuh besar, makan dari sana. Secara pribadi ada perasaan kalau saya ini Papua, rasa ini yang mendorong saya untuk bicara tentang Papua melalui lukisan-lukisan saya. Papua selalu membuat saya merasa bangga, simpati dan juga kesedihan yang bercampur menjadi satu.

Aprila : Sebagai pelukis, bagaimana kamu melihat orang Papua?

Dicky : Sebagai pelukis, saya melihat orang asli Papua secara bentuk, indah sekali. Hanya saja, saya tidak fokus ke sana. Tujuan saya melukis Papua dengan subjek meternya manusia Papua karena ada masalah dengan manusia Papua. Masalah yang nyata. Kalau saya berbicara tentang manusia Papua dan tidak melukis manusia Papua, ini tidak nyambung. Saya tidak ingin mengeksplorasi keeksotikan manusia Papuanya. Ada, tetapi hanya sekian persen untuk agar pesan dapat sampai. Misalnya orang melihat, ada gadis cantik yang sedang saya lukis, tetapi mengapa si gadis ini menangis? Alasan ia menangis itu yang menjadi fokus.

Melihat manusia Papua sebagai ironi dalam karya lukisan saya. Harapannya, kita tidak saja memakai manusia Papua sebagai obyek eksotismenya saja. Misalnya saat ini saya sedang menggambar seorang anak kecil yang pasti menurut siapa pun yang melihat akan mengatakan anak Papua ini cute, tetapi mengapa anak kecil ini mengenakan bungkus mie instan di kepalanya. Saya ingin menstimulasi penikmat lukisan untuk berpikir lebih jauh, mengapa bungkus mie instan? Mengapa mie instan? Ada cerita apa mie instan dengan manusia Papua? Mereka akan menemukan banyak masalah pangan di Papua semisal raskin dan mie instan yang mulai menggantikan sagu.

Saya ingin menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan Papua melalui simbol-simbol sederhana yang saya rasa mudah ditangkap. Seni yang saya kerjakan saat ini saya anggap sebagai pengabdian pada manusia Papua, bukan pada Tanah Papua yang sering didengungkan banyak pihak.

Aprila : Apa sebenarnya yang menjadi tujuan anda mengerjakan semua ini? Apakah anda melihatnya pekerjaan ini sebagai cermin untuk berefleksi?

Dicky : Sejak saya tahu masalah Papua yang sudah parah dan memprihatinkan, saya berpikir kalau salah satu usaha yang bisa kita lakukan bersama adalah memberi tahu orang lain. Analogi sederhananya, kalau kita sakit hati dan kita diam saja, sakit hati itu tidak akan hilang, namun di situ ya kalau kita curhat, walau masalah belum selesai, tetapi minimal perasaan jadi lega, muncul keyakinan akan jalan keluar. Saya mulai bergerak untuk membuat orang mengerti bahwa Papua itu bukan hanya Freeport, Raja Ampat dan keindahan alamnya. Papua itu ada masalah kemanusiaan. Lewat karya-karya ini, setidaknya saya berharap orang menjadi ingin tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi di Papua.

Coba kita lihat masalah Papua sebagai masalah global atau masalah bersama. Kalau memang Indonesia diam, kita bisa membawanya menjadi masalah global. Papua juga penduduk bumi, mengapa dunia diam? Tutup mata?

Pada pameran saya bersama rekan perupa Papua, Bertho Wanma pada 2016 lalu yang berjudul Remahili di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, kami berbicara tentang Papua. Di sini kami menjelaskan kepada pengunjung bahwa mungkin saja dalam pameran ini, anda akan melihat hal-hal lain dari Papua yang anda tidak tahu. Ada seorang pengunjung perempuan yang menangis di depan lukisan perempuan Papua tampak samping saat melihat-lihat lukisan. Saat saya tanya mengapa menangis, dia hanya bilang sedih.

Ketika banyak orang tahu tentang Papua, kita juga akan menemukan banyak solusi untuk membuat Papua menjadi lebih baik di masa mendatang.

Aprila : Selama bergelut di bidang ini, apakah kamu pernah mendapat bantuan dari pemerintah Pusat atau pun Pemda Papua?

Dicky : Selama ini saya mandiri walau tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai. Dalam Pameran Remahili lalu, saya dan Bertho Wanma menyebar proposal ke pemerintah provinsi dan kabupaten di Papua, tetapi tidak mendapat jawaban. Kami sempat stres.

Bantuan justru datang dari pihak yang tidak kami bayangkan sebelumnya yaitu Dinas Kebudayaan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pertanyaan saya adalah mengapa Pemda Papua diam, padahal yang kami bicara ini fakta Papua hari ini. Kejadian ini membuat saya skeptis kepada pemerintah di Papua. Pada prinsipnya, saya tetap akan melanjutkan pameran-pameran seperti ini dengan dan tanpa bantuan Pemda Papua.

Aprila : Apa kira-kira alasan proposal kalian ditolak?

Dicky : Saya pikir mungkin mereka menganggap ini aktivitas politik, padahal saya ingin dilihat lebih pada sisi kemanusiaan. Alasan keduanya yang mungkin menurut saya adalah karena pamerannya tidak kami selenggarakan di Papua

Aprila : Menurut kamu, apakah ada masa depan bagi pelukis di Papua?

Dicky : Saya masih berada di Yogya hari ini dan banyak pihak menyalahkan saya karena ini. Mereka bertanya, mengapa saya belum pulang untuk membangun Papua.

Kalau saya melakukan pameran di Jayapura dan ada pihak-pihak tertentu yang melakukan sabotase, menurunkan atau menghentikan pameran itu, tidak berarti apa-apa. Kalau saya melakukan pameran di sini dan ada pihak yang melakukan hal tersebut terhadap karya saya, seperti Andreas tentang Wiji Tukul, saya ingin publik melihat proses itu, bagaimana mereka memperlakukan orang Papua.

Aprila : Apakah itu artinya kamu tidak melihat masa depan bagi pelukis di Papua?

Dicky : Saya memiliki alasan sendiri, mengapa masih bertahan di Yogya karena di sini adalah tempat yang tepat untuk mengekspresikan karya seni. Kalau kita melakukan sesuatu di Yogya, masih bisa terdengar di mana-mana melalui media. Tidak sama dengan di Papua. Sampai saat ini Yogya masih menjadi ibukota seni rupanya Indonesia. Itu alasannya saya ajak teman-teman untuk tetap berjuang di sini. Ada banyak orang luar yang datang ke Yogya, sehingga terbuka peluang bagi kami untuk bekerja sama dengan mereka, sehingga pesan-pesan kami dapat sampai ke luar. Walau demikian, saya yakin kalau suatu saat saya akan kembali ke Papua.

Aprila : Apa pesan yang ingin kamu sampaikan kepada pemimpin Papua melalui kerja-kerja seni kamu?

Dicky : Pola pikir pemerintahan masih sangat birokratif. Kalau pemerintah Papua tidak memperhatikan pekerja seni Papua, sebaiknya pemerintah berhenti membangga-banggakan Papua yang kaya akan budaya. Percuma saja kalau senimannya tidak didukung. Saya kenal banyak seniman lokal Papua yang akhirnya diam di tempat, membuat karya hanya untuk apresiasi pribadi saja.

Aprila : Kamu baru saja kembali dari Belanda untuk sebuah pameran. Adakah yang dapat  diceritakan?

Dicky : Seorang seniman dari Belanda, Kevin Van Braak membuat proyek yang mengundang 23 seniman asal Indonesia yang semuanya kebanyakan berbicara tentang isu sosial politik di Indonesia. Masing-masing kami diminta membuat satu karya dengan berbagai tema. Ada yang membuat karya dari Peristiwa 65, Reformasi 98 dan lain-lain. Saya sendiri tentang Papua.

Sesampainya di Amsterdam, kami diminta membuat karya baru. Secara random, sebagian kami membuat karya dengan tema Papua. Entah mengapa, ada sekitar 10 karya itu tentang Papua. Alasan inilah yang membuat Papua menjadi isu utama dalam pameran di Amsterdam. Dalam sesi artis talk, saya diminta berbicara tentang karya saya.

Hal yang paling menarik adalah semua seniman yang membuat karya tentang Papua itu tidak saling mengenal. Ada yang membuat lukisan Arnold Ap, Freeport, Burung Cenderawasih sebagai target tembak, Pepera 1969 yang tidak adil untuk Papua dan lain-lain.

Satu hal lain yang saya lihat adalah ‘ketakutan’ saat mereka membuat lukisan dengan tema ini. Bagi saya, ini menjadi sesuatu yang baru dan menarik karena sebenarnya mereka pun mengerti akan isu Papua, tetapi ada ketakutan-ketakutan tertentu yang membuat mereka masih tetap diam.

Aprila : Setahu saya, sekarang ini sudah banyak orang di Belanda yang tidak tahu Papua.

Dicky : Saya tidak begitu mengerti soal itu, tetapi dalam pameran yang digelar, beberapa keluarga pengungsi politik asal Papua datang ke pameran itu, ada juga seniman lain, juga aktivis dan ada juga perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Belanda. ***

print