Kekuasaan Hegemonik dan Masyarakat Zombie

0
4078

(Zombie-Isasi & De-Zombie-Isasi Masyarakat)

Oleh: Edoardo A.A Mote)*

Apa yang kita katakan adalah sebenarnya apa yang yang tidak ingin kita katakan dan apa yang kita tunjukkan adalah apa yang sebenarnya tidak ingin kita tunjukkan.

Kalimat diatas merefleksikan sebuah situasi yang kontradiksi akibat pertarungan didalam pikiran kita, antara “apa yang ingin kita tunjukkan” serta katakan dengan “apa yang kita tunjukkan dan katakan”. Kita lebih sering “mengalah” dan berkompromi untuk menunjukkan apa yang tidak ingin kita tunjukkan. Sebaliknya, apa yang menjadi bagian yang “ingin kita katakan dan tunjukan” selalu di tekan untuk beberapa alasan seperti norma sosial, nilai-nilai adat-budaya hingga batasan-batasan yang dipatok secara politis maupun hukum. Ini yang menyebabkan realitas kehidupan kita sehari-sehari tidak selalu merefleksikan kesadaran diri dan keadaan kita sesungguhnya. Ada semacam “simulasi realitas’ yang di putar secara terus-menerus yang membuat kita hingga “lupa” siapa kita sebenarnya sebab batas antara apa yang “nyata” dan “ilusi” menjadi kabur.

Dari sisi ini, kita bisa melihat bahwa ada sebuah kelemahan dalam memahami fenomena hidup sehari-hari dengan menggunakan statistik (kuantifikasi hampir seluruh realitas sosial) untuk menceritakan apa yang “kita katakan” tanpa bisa menjelaskan apa yang  sebenarnya “tidak sempat kita katakan”. Padahal, bisa jadi “apa yang tidak ingin kita katakan” adalah sebuah wujud dari “kekalahan” dalam pertarungan yang berlangsung di pikiran kita yang justru “kekalahan” itu mencerminkan kondisi kita yang sebenarnya.

Pada dasarnya pertarungan untuk mewakili siapa kita entah dari “apa yang kita katakan/tunjukan” dengan “apa ingin kita katakan/tunjukkan” terjadi wilayah sub-kesadaran kita yang merefleksikan situasi relasi kekuasaan yang berusaha menguasai pikiran kita. Jenis relasi kekuasaan yang dimaksud adalah Kekuasaan hegemonik, yakni bentuk kekuasaan yang menguasai hampir seluruh kehidupan kita tanpa kita sadari sebab kekuasaan ini beroperasi pada level kehidupan normal kita sehari-hari namun memiliki dampak yang besar. Dampaknya besar sebab ia merupakan suatu jaringan kekuasaan yang saling terhubung melalui kanal-kanal ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Tidak berlebihan jika kita terlihat seperti “Zombie” karena sebagian besar tindakan kita kemungkinan tidak berasal dari kehendak otonomi kita, melainkan oleh sebuah kekuasaan yang menghegemoni pikiran kita. Zombie sendiri adalah manusia yang otaknya (secara fisik) tidak ada/dibuat tidak ada. Ruangan otak tersebut kemudian diisi oleh “mesin” yang memprogram seluruh tindakan si zombie. Ia memiliki nalar namun bukan nalarnya lagi, melainkan nalar programernya. Meskipun secara harafiah, kita bukanlah Zombie dalam arti sesungguhnya, namun sikap dan tindakan kita sehari-hari merefleksikan tingkah laku seorang Zombie yang lebih sering bertindak “tanpa” berpikir panjang. Dengan kata lain, sebagian besar sikap dan tindakan kita digerakkan oleh kekuasaan hegemonik yang bercokol dipikiran kita, merekayasa cara pandang kita hingga membentuk persepsi dan nilai kita untuk melihat realitas sosial. Fenomena “Zombie” bisa kita lihat dan alami dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun kolektif.

Secara Individu, sikap tersebut terlihat ketika kita merespon produk fashion, Makanan (food) dan Kesenangan/Kenikmatan (fun). Dalam terminologi post-kolonialisme, ketiganya merupakan instrumen untuk “menjajah” di masa sekarang. Ketiganya tidak harus selalu berasal dari suatu negara tertentu atau diproduksi oleh sebuah korporasi tertentu, dengan tujuan tertentu melainkan lebih kepada relasi kekuasaan yang menciptakan konstruksi sosial pada level global hingga level individu untuk menentukan mana Fashion yang lebih “kekinian”, mana produk makanan/minuman yang “sehat dan lezat/intsragamable” dan mana kesenangan/kenikmatan yang “layak dicoba sebelum mati”. Ketiga instrumen ini bisa dianggap sebagai sebuah bentuk kekuasaan hegemonik jika muncul kondisi-kondisi yang menindas baik secara psikologis, emosional maupun fisik yang bisa dilihat dari kehidupan sosial, budaya dan ekonomi individu.

Cara agar produk (Food, Fashion & Fun) tampak  “indah”, “kekinian”, “sehat dan lezat” serta “layak dicoba sebelum mati” adalah dengan memproduksi materi dalam bentuk barang dan jasa sekaligus makna yang melekat didalamnya (Food, Fashion & Fun). Makna ini secara simultan akan mereproduksi struktur hirarkis yang nantinya turut membentuk stratifikasi sosial sehingga apa yang kita konsumsi (produk dan maknanya) menunjukkan status sosial kita di tengah masyarakat. Sebagai contohnya, ada perbedaan gengsi ketika kita makan di warung tenda pinggir jalan dengan ketika kita makan di sebuah restoran yang tidak hanya terkenal tapi juga mahal. Contoh lain adalah ketika seorang pria memilih kendaraan motor antara motor besar (contoh: Kawasaki) dengan Motor matic (Yamaha Mio).

Sekalipun keduanya memiliki fungsi dasar yang sama namun si pria akan lebih memilih motor besar (meskipun uangnya tidak cukup dan harus kredit selama bertahun-tahun). Pilihan dia untuk membeli motor tidak pernah muncul begitu saja, tetapi mengindikasikan dan merefleksikan struktur makna yang membentuk sturktur sosial dalam masyarakat konsumeris yang diproduksi oleh jaringan kekuasaan di masyarakatnya. Motor Besar terkesan “lebih cocok” untuk laki-laki dan motor matic lebih cocok untuk perempuan. Jika dilihat secara kritis, hal ini menunjukkan adanya produksi makna Machoisme/maskulinitas yang melekat kepada motor besar sebab ia berukuran besar dan kelihatan “garang”.

Segmentasi pasar motor dengan memanfaatkan pembedaan gender membuat variasi pilihan lebih banyak dengan berbagai varian bentuk dan rentang harga. Si pria tidak hanya membeli motornya saja, tetapi juga membeli status sosial (gender maskulin) yang melekat pada motor besar. Inilah yang disebut dengan operasi kekuasaan hegemonik sebab kita “dipaksa” untuk membeli sesuatu yang secara “simulasi” (konstruksi sosial) adalah “ilusif” namun secara fungsi sama-sama kendaraan bermotor. Dengan kata lain, sementara kekuasaan hegemonik ini membentuk masyarakat menjadi masyarakat konsumeris-maskulin-normatif (masyarakat berbasis konsumsi dengan memposisikan maskulinitas diatas feminitas), kekuasaan ini juga memanfaatkannya untuk memanen keuntungan dari kondisi demikian. Inilah salah satu bentuk kerja kekuasaan hegemonik yang bekerja di masyarakat.

Selanjutnya, secara kolektif tidak jarang responnya adalah untuk hal-hal yang memiliki dampak besar seperti politik. Kolektifitas selalu menjadi modal untuk membentuk dan melanggengkan sebuah kekuasaan. Sebagai contoh adalah kelompok Reaksioner terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya dan pihak aparat terhadap mahasiswa baru di Universitas Cenderawasih (Uncen) dan STIKOM Jayapura yang menggunakan atribut “Organisasi Papua Merdeka (OPM)”. Bagaimana keduanya bereaksi berlebihan terhadap sebuah “sikap sepele” (tidak memasang bendera Negara di depan Asrama Papua) dan “benda sepele” (gelang bermotif bendera OPM). Padahal, jika ditilik secara seksama belum tentu pada tanggal 17 Agustus semua masyarakat Indonesia memasang bendera didepan rumah mereka masing-masing. Mengapa hanya mahasiswa Papua di asrama mereka di Surabaya saja yang di geledah? Selain itu, benda-benda bermotif bendera OPM itu sebenarnya sudah ada dan sangat jamak digunakan oleh masyarakat Papua baik yang tinggal di Papua maupun yang sedang berkuliah di luar Papua. Mengapa baru pada saat kegiatan penerimaan mahasiswa baru berlangsung kemudian dipermasalahkan?

 Pertanyaan kemudian adalah apakah sikap mahasiswa Papua yang tidak memasang bendera di depan asrama mereka dan mahasiswa baru di Uncen dan STIKOM Jayapura yang menggunakan gelang bermotif bendera OPM lantas menjadi ancaman serius bahkan merongrong kedaulatan NKRI? Apakah Nasionalisme orang Papua (atau masyarakat secara umum) harus diukur dari pemasangan bendera di depan rumah? Apakah dengan menggunakan gelang bermotif bendera OPM lantas menjadikan mahasiswa Papua menjadi OPM atau bahkan menjadi ancaman serius bagi keutuhan NKRI? Dari sini kita bisa menyimak bagaimana aparat dan kelompok reaksioner digerakkan oleh jaringan kekuasaan yang membuat mereka terkesan seperti zombie.

Ini yang kemudian pembenaran-pembenaran yang muncul untuk membela tindakan reaktif-represif baik dari aparat maupun kaum reaksioner merupakan manifestasi kekuasaan hegemonik. Jika kita bedah maka tersingkap jaringan kekuasaan yang bersumber dari DNA  “kedaulatan” dan “Rasisme” yang menggerakkan tindakan kesewenang-wenangan mereka. Kedaulatan dan Rasisme menjadi sumber untuk memproduksi pengetahuan didalam pikiran mereka, membentuk perspektif mereka hingga menentukan bagaimana mereka bereaksi terhadap aksi resistensi yang dianggap membahayakan keberadaan kekuasaan ini.

Dari sini, kita bisa melihat bagaimana kekuasaan itu ternyata bukanlah berbentuk komoditas/ objek statis yang “dimiliki”, tetapi merupakan “sesuatu yang dipraktekkan” dimana “wujud”nya biasa berupa “penundukkan” atau “penindasan”. Disanalah baru kita bisa melihat adanya Kekuasaan dan bagaimana ia beroperasi.

Kekuasaan negara (jika melihat kedaulatan sebagai atribut negara) kenyataannya  secara tidak langsung dan sadar telah hadir dalam bentuknya yang paling “abstrak” yakni “pengetahuan tentang mengidentifikasikan siapa “musuh kita” dalam pikiran kita, sekaligus “nyata” dalam bentuk tindakan represif oleh aparat dan “main hakim sendiri” oleh kelompok reaksioner. Ini juga yang kemudian membuat kekuasaan hegemonik menjadi bentuk kekuasaan yang sangat kuat sebab ia membuat kita “terporgram” sendiri untuk bertindak seturut kekuasaan tersebut tanpa diperintah atau harus mendapat arahan darinya. Ia beroperasi didalam struktur bawah sadar kita secara independpen dan sistematis layaknya sebuah jam yang sekali dihidupkan akan berjalan tanpa harus di stel lagi.

Apa yang bisa kita pahami dari fenomena-fenomena ini adalah bahwa zombie-isasi masyarakat itu terjadi dalam situasi normal/normatif dan sering berlangsung tanpa kita sadari. Meskipun proses ini berlangsung di wilayah bawah sadar kita, namun dampaknya itu terefleksi dalam kehidupan sehari-hari kita (dalam wilayah kesadaran kita). Dengan kata lain, realitas kehidupan kita sehari-hari (entah itu kesenangan maupun penindasan) diproduksi dan diproyeksikan oleh sistem jaringan kekuasaan yang luas yang beroperasi dari dan melalui ruang bawah sadar kita.

Dalam rangka melakukan proses de-zombie-isasi masyarakat/individu adalah dilakukan melalui membangun pemikiran dan sikap kritis terhadap semua bentuk relasi yang datang menghampiri kita. Dengan begini, kita mampu membebaskan “apa yang tidak sempat kita katakan” yang selama ini ditindas dan terpenjara di dalam pikiran kita.  Ini merupakan proses dekolonisasi pikiran atas semua relasi kekuasaan hegemonik yang dirasa “menindas” kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Entah itu dalam relasi ekonomi (hutang, bisnis), gaya hidup (harus selalu update produk trend terbaru), sosial (hubungan dengan pasangan, relasi dengan orang lain), budaya (budaya popular) hingga politik (relasi dengan ideologi, kepentingan tertentu dan golongan tertentu).

Sejatinya, kekuasaan hegemonik itu sering menghampiri kita dalam bentuknya paling dasar, yakni informasi. Didalam informasi termuat sejumlah pengetahuan, ideologi dan nilai yang menjadi instrumen untuk menguasai pikiran kita. Informasi ini bisa muncul dalam bentuk gambar, tulisan, produk video atau bahkan sebuah objek paling sederhana sekalipun dan sebagainya yang tersebar melalui berbagai medium entah itu media massa atau media komunitas (baik konvensional maupun digital). Untuk itu dalam rangka mengkritisi segala bentuk relasi, setidaknya kita melakukan proses filterasi ketat terhadap segala informasi yang mau masuk kedalam alam bawah sadar kita. Berpikir kritis juga berarti mempertanyakan segala sesuatu secara mendalam dan menyeluruh dengan tidak terburu-buru menerimanya begitu saja apalagi kemudian informasi tersebut dianggap sebagai kebenaran atau sesuatu yang benar/sesuai fakta.

Meskipun disadari kita tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari jaringan kekuasaan yang tersebar dan tersistem, setidaknya melalui sikap kritis, kita bisa menegosiasi seluas apa ruang kesadaran dan alam bawah sadar kita bisa diduduki oleh kekuasaan yang hegemonik dan area mana yang mesti menjadi wilayah otonomi kita. Dengan bernegosiasi, kita juga memiliki kesempatan untuk memanfaatkan semua produk kekuasaan hegemonik untuk kemudian digunakan demi peningkatan kapasitas kita dalam melakukan counter-kekuasaan.

)* Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada