Monalisa Sembor Mewakili Kecantikan Nusantara

0
1997

Oleh: Aprila Wayar)*

Namanya masih asing di masyarakat awam tetapi tidak di kalangan para model junior Indonesia. Memang, belum banyak kiprahnya di dunia model Indonesia namun kekuatan karakter di dalam dirinya mengantarkan putri Papua berdarah campuran Toraja ini menjadi model salah satu iklan shampo berlabel internasional. Kehadirannya telah menambah warna kecantikan Indonesia.

Bagi sebagian masyarakat Papua yang telah mengikuti perkembangan karirnya, tentu menjadi kebanggan tersendiri mengingat standar kecantikan Indonesia yang telah ditentukan tanpa harus diperbincangkan di dalam segala macam kontes kecantikan yang diselenggarakan di dalam negeri ini tidak sesuai dengan ras Papua.

Nama lengkapnya Monalisa Irto Apriela Sembor yang sehari-hari disapa dengan panggilan Mona. Beberapa waktu lalu, penulis mendapat kesempatan berbincang dengannya seputar kecantikan dan aktivitasnya sehari-hari.

Penampilan Mona malam itu sangat sederhana. Ia mengenakan blus berwarna putih krem yang dipadu dengan celana panjang jeans berwarna biru. Rambutnya diikat ke atas dan wajahnya hanya dipoles make-up tipis. Walau demikian, kecantikannya tetap terlihat dengan jelas.

Setelah berbagi kabar, Mona mulai menuturkan ikhwal ia terjun ke dunia modeling. Awalnya ia tertarik menjadi fotografer dan kemudian bergabung dengan Komunitas Foto di Universitas Kristen Duta Wacana, tempatnya menimba ilmu di awal perkuliahannya pada 2013 lalu. Setelah mengenal kamera, putri pasangan Simon Sembor dan Alfrida Parura ini sadar kalau ternyata di belakang kamera tidaklah semenarik dugaannya semula. Ia lebih senang berada di depan kamera rekan-rekannya, sesama fotografer.

Kegemarannya menjadi model ini mendorongnya membuat akun di Instagram yang cukup menarik perhatian nitizen. Hal ini membuat salah satu Putri Indonesia mengontak dan memintanya mengikuti ajang pemilihan bergengsi ini pada 2014 lalu tetapi ditolaknya. Hingga hari ini, jumlah followernya di Instragram mencapai 31.7k yang aktif sejak 2013 lalu.

“Saya merasa belum tahu banyak,” katanya.

Bukan tanpa alasan penolakannya ini. Ia merasa belum cukup pengetahuannya. Alasan lainnya adalah Mona merasa dunia entertainment Indonesia memiliki standar kecantikan sendiri untuk perempuan seperti: berkulit putih, berambut lurus dan tinggi badan yang sudah ditetapkan dalam berbagai ajang kecantikan. Apalagi, selama sekian tahun kontes ini diselenggarakan, belum pernah ada Putri Papua keluar menjadi juara satu dalam ajang kecantikan di Indonesia. Bagi Mona, tentu bukan cuma alasan kemampuan intelektual semata itu lebih pada standar kecantikan Indonesia yang telah ‘ditetapkan.’.

Dengan demikian, menurut Mona, perempuan dengan ras Papua masih dipandang sebelah mata, apalagi produk-produk kecantikan di Indonesia belum mendukung kecantikan ala Papua.

“Waktu kecil hingga remaja, saya jarang sekali melepas rambut,” ujar putri sulung dari tiga bersaudara ini. Alasannya tidak melepas rambut adalah karena rambut ikalnya sering menjadi pusat perhatian orang dan membuatnya merasa risih.

Pada pertengahan 2017 lalu, mahasisiwi kelahiran Wamena, 17 April 1996 ini mendapat tawaran menjadi model iklan sebuah shampo berlabel internasional. Walau senang mendapat tawaran ini, ia tidak serta merta menerimanya. Ia menghabiskan beberapa waktu untuk mempelajari terlebih dahulu produk kecantikan ini.

“Produk ini memiliki sesuatu yang berbeda dengan produk kecantikan lainnya. Itu alasan saya menerima tawaran dari produk kecantikan ini,” kata Mona.

Menurutnya, produk ini sendiri mewakili kecantikan Nusantara. Apalagi, banyak model dari produk ini yang bukan berasal dari kalangan artis seperti dirinya. Ia juga merasa cocok karena produk kecantikan ini tidak menerapkan standar kecantikan tertentu.

“Saya hanya ingin menunjukan kalau saya yang orang Papua biasa juga mampu menjejakkan kaki di dunia entertainment Indonesia,” kata Ketua Forum Mahasiswa Papua Universitas Kristen Duta Wacana (Formapa UKDW) periode 2015-2016 ini lagi.

Dengan menjadi bintang iklan ini, Mona juga ingin mematahkan stigma negatif masyarakat Indonesia terhadap orang Papua. Mona ingin menunjukan kalau itu hanyalah oknum dan tidak semua orang Papua berperilaku buruk.

Bagi Mona, kecantikan Indonesia haruslah mewakili kecantikan Nusantara, bukan hanya mewakili ras tertentu. Ia sendiri mengukur kecantikan fisiknya sudah mewakili Papua dan juga Indonesia atau dengan kata lain, kecantikannya telah mewakili kecantikan Nusantara. Semua orang yang lahir memiliki keunikan masing-masing. Sebenarnya, tidak ada standar kecantikan dengan ciri-ciri tertentu saja yang dapat masuk dalam kategori cantik.

“Cantik itu bukan soal fisik saja tetapi apa yang telah dilakukan seorang perempuan. Membantu orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, itu sudah cantik,” ujarnya.

Monalisa Sembor (paling kanan) saat foro bersama beberapa model lainnya. (Foto akun official Dove dari facebook)

Mengingat kontrak iklannya akan berakhir pada Juli 2019 mendatang, Mona berencana untuk terjun lebih dalam ke dunia entertainment di masa mendatang. Ia ingin mengharumkan nama Papua sekaligus membanggakan kedua orang tuanya. Untuk menuju ke sana, saat ini ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama siapa pun yang dianggapnya  dapat memberi sumbangsih pikiran positif bagi dirinya pribadi maupun karirnya dan masa depannya.

“Saya ingat, pada sebuah sesi pemotretan, beberapa bintang iklan yang lain melihat saya dengan ekor mata,” katanya.

Lanjutnya, sambil melirik, mereka mengatakan ‘kok bisa?’ Ia memilih diam dan tidak berkomentar. Ia menangkap pernyataan itu sebagai sebuah pernyataan diskriminatif yang seolah-olah tidak percaya kalau ada orang Papua di dalam barisan iklan produk kecantikan internasional ini. Walau demikian, Mona tidak patah semangat. Sikap melecehkan dari sesama rekan model ini jutru menambah semangatnya untuk membuktikan kemampuannya. Ia berpegang pada prinsip bahwa semua warga negara Indonesia memiliki hak yang sama.

Mona berpendapat, dalam segala aspek – apapun-  jangan ada diskriminasi. Harus diingat bahwa kita adalah bangsa yang majemuk dengan berbeda-beda latar belakang, tapi kita diikat dengan binekha tunggal ika/berbeda beda tapi tetap satu. Untuk itu berbedaan jangan memisahkan, tetapi perbedaanlah yang menguatkan kita sebagai bangsa yang besar, sehingga jika Papua hadir dalam dunia entertaintment, itu juga adalah wujud dari penguatan nilai-nilai persatuan NKRI.

“Saya tidak ambil pusing. Mungkin mereka merasa tersaingi dengan kehadiran saya tetapi saya ambil positifnya saja,” ungkapnya.

Ketika ditanya rencana ke depannya, alumnus SD Negeri Wamena ini ternyata baru saja diwisuda. Saat ini ia berencana mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke Australia atau Amerika. Ia ingin sekali mendalami dua hal, yaitu Human Resource atau ilmu bisnis.

“Saya hanya ingin melihat pola pikir orang di luar Indonesia dan menyerap hal-hal baik dari mereka ,” ucapnya lagi.

Itu pun kalau diijinkan Tuhan, lanjut Mona tetapi bila tidak, dirinya akan kembali ke tanah Papua untuk mengabdi atau tetap berada di Pulau Jawa untuk mengembangkan karirnya.

Untuk perempuan Papua, alumnus SMP Negeri 2 Wamena ini berpesan untuk menjadi diri sendiri karena banyak yang sekarang malu menunjukkan identitas ke-Papua-annya dan tidak lagi bangga menjadi Papua.

“Banyak perempuan Papua yang meluruskan rambut dengan alasan tidak mau lagi repot mengurusi rambut keritingnya,” katanya lagi.

Bagi Mona, itu pilihan pribadi dan wajar saja karena saat ini belum ada produk kecantikan di Indonesia yang mampu mengakomodir kepentingan kecantikan ala Papua tetapi untuk dirinya sendiri, ia memilih membiarkan rambut keritingnya panjang dan merawatnya dengan shampo yang dibintanginya dan juga merawatnya dengan cara tradisional yaitu menggunakan minyak kelapa.

Alumna SMU YPPK St. Thomas Wamena ini juga menilai telah terjadi pergeseran nilai-nilai positif di kalangan mahasiswa Papua di berbagai kota studi akibat penggunaan media sosial. Dulu bila bertemu di jalan, masih saling bertegur sapa tetapi sekarang sudah tidak lagi setelah membaca gosip miring diantara sesamanya di media sosial.

“Kalau saya boleh meminta kepada rekan-rekan mahasiswa dan pemuda-pemudi Papua untuk lebih dewasa dalam menggunakan media sosial agar kehidupan harmonis yang selama ini ada di Papua tetap terjaga,” pungkas Mona.

)* Penulis adalah Jurnalis, Novelis dan penulis lepas

print