Seminar Sehari, Bagaimana Kingmi Masuk Tanah Papua

0
1374

JAYAPURA,SUARAPAPUA.com — Dalam rangka perkenalan pemuda baru gereja Kemah Injil jemaat Sion Abe Pantai, pihaknya gelar seminar sehari dengan tema “pemuda yang bijaksana melihat satu tanda heran ke tanda heran yang lain”.

Kegiatan itu dilaksanakan di gedung gereja Kigmi Sion Abe Pantai, Jumat, (14/9/2018).

Seminar tersebut diawali dengan ibadah singkat yang dipimpin oleh Elek Heluka yang terambil dari kitab, Amsal 4:13, yang berbunyi; “berpeganglah pada didikan, jangalah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu”.

Dengan demikian, Heluka berpesan agar pemuda gereja tetap berpegang pada didikan Tuhan, sehingga kepandaian dan hikmat akan ditambahkan kepada pemuda yang kedepannya tidak mengalami kesulitan dalam menempuh pendidikann, baik itu pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

“Kehidupan kita harus mengarahkan kepada Tuhan, bukan karena kepandaian tetapi hanya karena kasihNya yaitu Yesus Kristus. Ini juga penting karena kebenaran adalah dasar dari hidup manusia,” kata Heluka.

Yosia Tebai, Wakil Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua saat menyampaikan materi tentang sejarah berdirinya misi CAMA (Christian Missionary Alliance) pada tahun 1887 dan penyebaran injil dari CAMA ke Papua.

Dimana A.B Simpson menargetkan Indonesia sebagai daerah kerja CAMA. Tahun 1926 pada bulan Oktober, para pemimpin CAMA mengadakan rapat khusus di New York Amerika Serikat untuk membahas pengembangan pelayanan di Indonesia. Dan Robert Alexander Jaffray mendukung keputusan itu.

“Tahun 1928, R.A.Jaffray berangkat ke Indonesia dan ia menjelajahi kota Makassar dan membuka pekerjaan Tuhan di sana dan ia membangun salah satu tempat pelayanan dan sekarang dikenal dengan Kampus STT Jaffray Makasar dan selanjutnya ke Papua,” jelas Tebai.

Pada tahun 1936, seorang pilot bernama F.J. Wissle terbang melintasi pegunungan Irian Jaya (Papua) dan mendarat di danau Tigi di Paniai. Tanggal 20 April mereka berhasil tiba di Enarotali.

“Tanggal 31 Mei kepala suku (Ekagi) yang pertama bernama Ketela Gobay dibaptiskan di Kebo, dekat Enarotali. Setelah itu, tahun 1938 ke Ibele danau (Habema) di Lembah Balim.”

Dengan demikina, katanya, perjuangan misi penginjilan panjang hingga ke Papua ini perlu ada penerus Kingmi untuk melanjutkannya, dengan menghargai apa yang telah dikorbankan misionaris maupun orang tua yang telah menerima injil di lembah-lembag dan pegunungan Papua.

“Anak-anak bisa hargai perjuangan misionaris dan orang tua yang menerima Injil dan melanjutkan apa yang ditinggalkan oleh orang tua,” tuturnya.

John Heluka, salah satu peserta seminar mengucapkan terima kasih kepada para pemateri yang telah menyampaikan informasi yang berharga ini.

“Terima kasih kepada bapak Tebai yang membawa materi tentang masuknya injil di tanah Papua, karena dengan cerita ini saya bisa memahami bagaimana masuknya injil dengan berbagai tantangan yang saya tidak bayangkan,” kata Heluka.

Selain materi tentang sejarah masuknya gereja Kemah Injil di Tanah Papua, ada juga materi lain tentang perkembangan iman pemuda di dalam jemaat.

Pewarta : Ruland Kabak
Pewarta: Elisa Sekenyap